JawaPos.com - Winamp, pemutar musik yang pernah menjadi ikon era MP3, bersiap kembali pada 2027 dengan layanan streaming premium yang ditenagai Deezer. Bagi pengguna yang tumbuh pada era musik MP3, nama Winamp jelas membangkitkan nostalgia.
Pemutar musik yang identik dengan tampilan klasik, playlist pribadi, dan berbagai skin tersebut kini mencoba kembali ke industri musik digital dengan konsep yang lebih modern.
Winamp menggandeng Deezer untuk menghadirkan layanan berlangganan musik premium sebagai bagian dari generasi terbaru Winamp Player. Produk tersebut dijadwalkan meluncur pada paruh pertama 2027.
Dilansir dari Tech Crunch, Selasa (11/8), melalui kerja sama ini, Winamp akan menggunakan teknologi white-label Deezer sekaligus mengakses katalog musik berlisensi global. Namun, pengalaman pengguna dan identitas produknya tetap akan berada di bawah merek Winamp.
Menariknya, comeback Winamp tidak dirancang sekadar untuk membuat aplikasi streaming musik baru.
Generasi terbaru Winamp Player akan mencoba menggabungkan berbagai sumber audio dalam satu aplikasi. Selain musik streaming premium, pengguna nantinya dapat mengakses koleksi musik lokal, radio internet, podcast, hingga koleksi audio pribadi berbasis cloud.
Konsep tersebut menjadi pembeda utama yang ingin ditawarkan Winamp di tengah persaingan layanan streaming yang sudah dipenuhi pemain besar seperti Spotify, Apple Music, dan YouTube Music.
Winamp menyebut pemutar musik barunya dirancang untuk 'menciptakan kembali pemutar musik untuk era streaming'.
Artinya, perusahaan ingin menghidupkan kembali konsep pemutar musik yang dulu menjadi pusat koleksi audio pengguna, tetapi kini menggabungkannya dengan kemudahan streaming.
Mengapa Winamp Ingin Kembali?
Salah satu kekuatan terbesar Winamp adalah basis pengguna dan nilai nostalgia yang masih melekat pada merek tersebut.
Winamp menyebut pemutar desktop gratisnya saat ini masih digunakan lebih dari 40 juta pengguna.
Angka itu menjadi modal penting bagi perusahaan untuk memperkenalkan kembali produknya kepada pengguna lama sekaligus membidik generasi baru.
Momentum kembalinya Winamp juga datang ketika perangkat dan teknologi audio lawas kembali mendapat perhatian.
Kaset, pemutar MP3, bahkan iPod kembali menarik minat sebagian pengguna yang mencari pengalaman mendengarkan musik yang terasa lebih personal.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengalaman menikmati musik tidak selalu harus bergantung pada model streaming modern.
Winamp tampaknya ingin mengambil celah tersebut dengan menggabungkan nostalgia pemutar musik klasik dan ekosistem streaming masa kini.
Meski memiliki nama besar, perjalanan comeback Winamp jelas tidak akan mudah.
Pasar streaming musik sudah sangat matang. Spotify, Apple Music, YouTube Music, dan berbagai platform lain telah membangun basis pelanggan, katalog, serta ekosistem masing-masing.
Pertanyaan terbesar bagi Winamp adalah alasan apa yang bisa membuat pengguna bersedia membayar layanan berlangganan tambahan.
Winamp menyatakan layanan barunya akan "memberikan pengalaman yang secara fundamental berbeda dari platform streaming digital tradisional saat ini".
Perusahaan juga menjanjikan antarmuka yang dapat dikustomisasi, fitur sosial, serta cara baru untuk menemukan, mengatur, dan menikmati musik.
Namun, Winamp masih menyimpan sejumlah detail penting. Harga langganan, rincian fitur premium, serta bagaimana katalog musik Deezer akan diintegrasikan ke dalam pengalaman Winamp belum diungkap secara lengkap.