JawaPos.com - Israel dilaporkan sedang menghadapi perubahan besar dalam pola emigrasi warganya. Bukan lagi didominasi anak muda yang mencari pengalaman di luar negeri, gelombang eksodus terbaru justru semakin banyak diisi dokter, pekerja high-tech, profesional berpenghasilan tinggi, dan warga berusia 40–50 tahun yang sedang berada di puncak karier.
Laporan terbaru Otoritas Pajak Israel menunjukkan, jumlah warga yang meninggalkan Israel meningkat sekitar 50 persen dalam enam tahun terakhir. Namun, perhatian terbesar tertuju pada perubahan profil mereka.
Sektor teknologi tinggi dan kesehatan menjadi dua kelompok yang mengalami peningkatan emigrasi paling tajam. Jumlah pekerja high-tech yang pindah ke luar negeri melonjak sekitar 150 persen, sedangkan emigran dari sektor kesehatan meningkat lebih dari dua kali lipat.
Fenomena ini berpotensi menjadi masalah serius bagi Israel karena kedua sektor tersebut merupakan bagian penting dari perekonomian sekaligus membutuhkan tenaga kerja dengan keahlian tinggi.
Melansir Jerusalem Post, data Otoritas Pajak memperlihatkan bahwa gelombang emigrasi terbaru semakin terkonsentrasi pada pekerja berpendapatan tinggi.
Jika dibandingkan dengan sektor berupah lebih rendah seperti pendidikan dan manufaktur yang hampir tidak mengalami perubahan berarti, sektor high-tech justru mencatat lonjakan emigrasi sekitar 150 persen.
Sementara itu, jumlah warga yang bekerja di sektor kesehatan dan kemudian meninggalkan Israel meningkat lebih dari dua kali lipat.
Perubahan tersebut penting karena pekerja teknologi dan tenaga medis tidak mudah digantikan. Mereka membutuhkan pendidikan panjang, pengalaman profesional, serta keterampilan yang relatif langka.
Ketika sebagian dari mereka memilih membangun kehidupan dan karier di luar Israel, negara bukan hanya kehilangan penduduk, tetapi juga kehilangan modal manusia yang dibutuhkan untuk menjaga produktivitas ekonomi.
Perubahan profil emigran juga terlihat jelas dari kelompok usia. Sepanjang satu dekade terakhir, proporsi warga berusia 20–30 tahun yang meninggalkan Israel relatif stabil. Sebaliknya, emigrasi warga berusia 40–50 tahun melonjak sekitar 60 persen.
Porsi kelompok usia tersebut terhadap seluruh emigran naik dari sekitar 13 persen satu dekade lalu menjadi sekitar 20 persen.
Kelompok ini memiliki arti strategis bagi perekonomian karena biasanya telah mencapai posisi senior, memiliki pengalaman panjang dan berada dalam periode pendapatan tertinggi.
Total pendapatan warga berusia 40–50 tahun yang kemudian meninggalkan Israel bahkan meningkat tiga kali lipat, dari sekitar 900 juta shekel menjadi 2,7 miliar shekel per tahun.
Artinya, Israel berisiko kehilangan tenaga profesional justru ketika mereka berada pada titik paling produktif dalam perjalanan karier.
Selain itu, laporan tersebut juga menunjukkan perubahan kualitas ekonomi para emigran. Dulu, pendapatan warga yang meninggalkan Israel relatif mendekati rata-rata upah nasional.
Kini, pendapatan mereka rata-rata sekitar 50 persen lebih tinggi daripada upah rata-rata di Israel. Kelompok 10 persen masyarakat dengan pendapatan tertinggi menjadi salah satu pendorong utama perubahan tersebut.
Tingkat emigrasi kelompok ini meningkat dari sekitar 0,3 persen menjadi lebih dari 0,5 persen pada 2024, atau melonjak sekitar 80 persen.
Kelompok 10 persen teratas bahkan menyumbang sekitar 67 persen total pendapatan para emigran dan 86 persen pajak penghasilan yang mereka bayarkan sebelum meninggalkan Israel.
Dengan demikian, eksodus dokter dan pekerja high-tech tidak hanya mengurangi jumlah tenaga profesional di dalam negeri. Mereka juga membawa pergi kemampuan ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan emigran berpenghasilan rendah.
Dampaknya mulai terlihat dalam penerimaan negara. Sebelum 2019, warga yang kemudian meninggalkan Israel membayar sekitar 500 juta shekel pajak penghasilan per tahun.
Dalam dua tahun terakhir, angkanya melonjak menjadi sekitar 1,2 miliar shekel per tahun. Otoritas Pajak memperkirakan setiap kelompok emigran baru berpotensi menyebabkan hilangnya sekitar 700 juta shekel penerimaan pajak.
Jika tren tersebut tidak berubah, kehilangan penerimaan pajak dapat mencapai sekitar 3,5 miliar shekel per tahun dalam lima tahun mendatang. Namun, nilai pajak yang hilang hanya sebagian dari persoalan.
Selain itu, dokter yang pergi berarti Israel berpotensi kehilangan tenaga kesehatan berpengalaman. Pekerja high-tech yang pindah ke luar negeri berarti perusahaan dan industri domestik berisiko kehilangan talenta yang dibutuhkan untuk mengembangkan teknologi, menciptakan bisnis dan menghasilkan lapangan kerja.
Indikasi bahwa eksodus ini tidak hanya menyangkut perpindahan tempat tinggal juga terlihat dari arus dana ke luar negeri.
Pada 2023 dan 2024, jumlah warga Israel yang melaporkan transfer lebih dari 500 ribu shekel ke luar negeri meningkat dua kali lipat.
Di antara mereka yang kemudian beremigrasi, peningkatannya mencapai empat kali lipat. Otoritas Pajak tidak memiliki data mengenai jumlah dana yang sebenarnya dipindahkan.
Namun, lembaga tersebut menilai tren itu dapat menunjukkan upaya sebagian pengusaha dan kelompok berpenghasilan tinggi untuk menyebarkan risiko dengan menempatkan lebih banyak aset di luar Israel.
Dengan kata lain, tenaga ahli pergi, sementara sebagian modal mereka ikut bergerak ke luar negeri.
Studi Ariel Greises dan Nili Ben-Tovim dari Divisi Perencanaan dan Ekonomi Otoritas Pajak Israel belum dapat memastikan penyebab perubahan pola emigrasi tersebut.
Namun yang jelas, kehilangan dokter dan pekerja teknologi berpenghasilan tinggi memiliki efek berantai.
Kelompok profesional tersebut tidak hanya menerima gaji. Mereka mendirikan perusahaan, berinvestasi, menciptakan lapangan pekerjaan, menghasilkan inovasi dan membayar sebagian besar pajak negara.
Karena itu, semakin besar proporsi mereka yang memilih menetap di luar negeri, semakin besar pula risiko berkurangnya basis pertumbuhan ekonomi Israel.
Laporan Otoritas Pajak menyebut perubahan komposisi emigran dan meningkatnya porsi kelompok berpenghasilan tertinggi sebagai alasan utama membesarnya potensi kehilangan penerimaan negara.