JawaPos.com - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan generatif (Generative AI) yang semakin pesat mendorong perguruan tinggi untuk menyesuaikan metode pembelajaran. Namun, pemanfaatan AI di lingkungan akademik dinilai tidak boleh menghilangkan kemampuan mahasiswa dalam berpikir secara mandiri dan kritis.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi) Nezar Patria menegaskan, kampus perlu menempatkan AI sebagai sarana pendukung proses belajar, bukan sebagai pengganti kemampuan intelektual mahasiswa.
Hal itu disampaikan Nezar dalam Seminar Nasional dan Bimbingan Teknis Dosen Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ), yang berlangsung secara daring dari Jakarta Pusat, dikutip Senin (10/8).
Menurut Nezar, posisi AI dalam kehidupan manusia kini telah mengalami perubahan signifikan. Teknologi tersebut tidak lagi hanya digunakan untuk membantu menyelesaikan pekerjaan, tetapi turut memengaruhi cara manusia memperoleh pengetahuan, berpikir, hingga menentukan pilihan.
“Generative AI yang sekarang tidak lagi sekadar alat bantu produktivitas kita, tapi juga telah menjadi infrastruktur kognitif yang membentuk cara manusia berpikir, belajar, dan mengambil keputusan,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat perguruan tinggi perlu memikirkan kembali pendekatan pendidikan di tengah semakin luasnya penggunaan AI. Nezar menilai, pengembangan kebijakan tata kelola AI di kampus harus disesuaikan dengan kebutuhan pendidikan sekaligus berlandaskan nilai.
Ia kemudian mendorong dosen MKWK melakukan tiga langkah dalam merespons perkembangan teknologi tersebut. Ketiganya meliputi perubahan pendekatan pedagogi, peningkatan literasi AI yang berorientasi pada nilai, serta penguatan kerja sama antara pemerintah dan perguruan tinggi.
“Perlu reorientasi pedagogi yang menjadikan Generative AI sebagai mitra dialektis dalam pembelajaran, bukan pengganti proses berpikir kritis mahasiswa,” ujar Wamen Nezar.
Dalam pandangannya, mahasiswa juga perlu dibekali pemahaman yang lebih mendalam mengenai teknologi AI. Kemampuan menggunakan AI harus berjalan beriringan dengan pemahaman mengenai bagaimana teknologi tersebut bekerja, termasuk potensi bias dan keterbatasannya.
“Kita harus pastikan bahwa mahasiswa memahami cara kerja AI, bias dan keterbatasan AI, sekaligus menautkannya dengan wawasan kebangsaan dan kesadaran akan kedaulatan digital bangsa,” imbuhnya.
Nezar juga menilai perguruan tinggi memiliki posisi penting dalam menentukan arah perkembangan ekosistem AI nasional. Karena itu, kampus diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi turut berkontribusi dalam merumuskan kebijakan serta prinsip etika pemanfaatan AI di Indonesia.
Ia menambahkan, kekuatan sebuah negara dalam menghadapi transformasi digital tidak cukup ditentukan oleh seberapa maju teknologi yang dimilikinya. Ketahanan masyarakat dalam menghadapi perubahan juga menjadi bagian penting dari kedaulatan digital.
Baca Juga: AI Kini Bisa Bertindak Sendiri, Komdigi Siapkan Aturan Baru untuk Cegah Risiko
Bagi Nezar, pendidikan tinggi memiliki peran strategis untuk memastikan perkembangan AI tetap diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, integritas akademik, serta karakter mahasiswa.