JawaPos.com - Perusahaan riset dan keamanan siber Kaspersky mengungkap penyebaran bahaya siber baru bernama GoSerpent yang menargetkan lembaga pemerintah dan institusi diplomatik di Asia Tenggara.
Malware ini dikatakan dirancang untuk menyusup secara diam-diam, bertahan dalam sistem korban selama berminggu-minggu, lalu mencuri data sensitif tanpa mudah terdeteksi.
Temuan tersebut diungkap tim Global Research and Analysis Team (GReAT) Kaspersky setelah mengidentifikasi aktivitas kampanye GoSerpent pada Juli 2026.
Menurut para peneliti, operasi ini menunjukkan tingkat kecanggihan tinggi karena mengutamakan akses jangka panjang ke sistem korban dibandingkan melakukan serangan secara cepat.
Baca Juga: Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Daftarkan Praperadilan di PN Jaksel Siang Ini, Soroti 9 Kejanggalan
Kaspersky menjelaskan, kampanye ini memanfaatkan sejumlah alat khusus, di antaranya backdoor GoSerpent, Stowaway, dan TmcLoader, yang bekerja secara bertahap untuk mengumpulkan sekaligus mengekstraksi informasi penting dari jaringan yang telah berhasil disusupi.
Backdoor GoSerpent Aktif Sejak 2021
Komponen utama serangan ini adalah GoSerpent, sebuah Remote Access Trojan (RAT) yang dilaporkan telah beroperasi setidaknya sejak 2021. Varian terbarunya diketahui mulai digunakan pada 2026.
Malware tersebut memiliki mekanisme persistensi yang kuat sehingga mampu bertahan lama di perangkat korban. Selain itu, GoSerpent menyamarkan dirinya menggunakan nama file yang menyerupai proses sistem resmi agar lebih sulit dikenali oleh perangkat lunak keamanan.
Peneliti Keamanan Utama Kaspersky GReAT, Noushin Shabab, menjelaskan bahwa strategi utama kelompok peretas ini justru terletak pada kesabaran mereka dalam menjalankan operasi.
Menurutnya, komponen paling menonjol dari GoSerpent adalah waktu tinggal yang diatur sedemikian rupa. Biasanya, penyerang ingin bergerak cepat begitu mereka mendapatkan pijakan, tetapi kelompok ini memasang backdoor awal dan menunggu.
"Mereka membiarkan keadaan tenang selama berminggu-minggu sebelum alat eksfiltrasi sekunder mereka seperti TmcLoader disebarkan. Kesabaran semacam itu adalah langkah yang diperhitungkan yang dirancang untuk bertahan lebih lama dari kebijakan retensi log standar dan pemindaian keamanan otomatis, sehingga sangat sulit bagi para ahli keamanan untuk menghubungkan infeksi awal dengan pencurian data yang terjadi kemudian," kata Noushin Shabab melalui catatannya.
Menurutnya, pendekatan tersebut membuat proses investigasi jauh lebih rumit karena pencurian data baru dilakukan setelah jejak awal infeksi mulai menghilang dari sistem pencatatan keamanan.
Diduga Berkaitan dengan Kelompok TetrisPhantom
Dalam analisisnya, Kaspersky menemukan sejumlah kemiripan antara kampanye GoSerpent dengan aktivitas aktor ancaman TetrisPhantom.
Baca Juga: Nadiem Makarim Hadiri Sidang Banding di PT DKI Jakarta: Tuhan Tidak Tidur
Kesamaan tersebut terlihat dari sasaran serangan, kemampuan teknis, hingga metode operasional yang digunakan. Meski demikian, Kaspersky menegaskan penyelidikan masih berlangsung sehingga hubungan keduanya belum dapat dipastikan secara definitif.
Menghadapi ancaman seperti GoSerpent, Kaspersky mengimbau organisasi, khususnya instansi pemerintah dan lembaga yang menangani informasi sensitif, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap indikator kompromi (IoC) yang telah dipublikasikan.
Selain itu, perusahaan menyarankan penerapan sistem keamanan siber berlapis yang mampu mendeteksi ancaman secara real-time, melindungi komunikasi email dari phishing dan malware, memantau paparan data di internet maupun dark web, serta menyediakan kemampuan deteksi, investigasi, dan respons insiden yang lebih cepat.
Langkah tersebut dinilai penting mengingat pola serangan GoSerpent menunjukkan bahwa pelaku mampu bersembunyi dalam jaringan korban dalam waktu lama sebelum akhirnya melakukan pencurian data.