← Beranda
6 dari 10 Gen Z Indonesia Pilih Curhat ke AI, Riset Ungkap Krisis Ruang Aman
Nanda PrayogaSabtu, 18 Juli 2026 | 21.00 WIB
Ilustrasi AI (Freepik)

 

JawaPos.com - Kecerdasan buatan (AI) kini tak hanya dimanfaatkan untuk mencari informasi atau membantu pekerjaan. Bagi banyak anak muda, chatbot AI juga mulai menjadi tempat berbagi cerita ketika menghadapi persoalan pribadi.

Fenomena ini dinilai mencerminkan masih minimnya ruang aman bagi generasi muda untuk mengekspresikan perasaan tanpa takut dihakimi.

Temuan tersebut terungkap dalam riset Yayasan Digital Resilience Indonesia (DiRI) yang dipaparkan melalui webinar Beyond the Prompt: Pemahaman Gen Z terhadap Batasan AI dalam Konteks Curhat di AI.

Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 59,4 persen Gen Z Indonesia pernah mencurahkan persoalan pribadinya kepada AI, dengan topik yang paling sering dibahas meliputi pendidikan, percintaan, masa depan, kesehatan, hingga keluarga.

Baca Juga: BPH Migas Kawal Upaya Pertamina Patra Niaga Sumbagut, Antrean BBM di SPBU Berangsur Terurai

Direktur Eksekutif DiRI, Farabi Ferdiansah, mengatakan hubungan manusia dengan AI kini menghadirkan dua sisi berbeda. Di satu sisi teknologi menawarkan kemudahan, tetapi di sisi lain muncul tantangan baru yang perlu diantisipasi, terutama terkait kebutuhan ruang aman bagi anak muda.

“Dalam riset kami, sekitar enam dari sepuluh responden mengaku pernah ‘curhat’ kepada AI. Hal ini menunjukkan bahwa chatbot telah menjadi ruang alternatif untuk mencari bantuan, berdiskusi, mapun berbagi persoalan pribadi. Penelitian juga menemukan bahwa banyak responden menghabiskan waktu lebih dari sepuluh menit dalam satu sesi percakapan, karena merasa lebih bebas berbicara kepada AI dan tidak takut dihakimi,” ujar Farabi di Jakarta dikutip Sabtu (18/7).

Sementara itu, peneliti DiRI sekaligus Direktur Digital Media Research and Consulting, Haris Fatwa, menyebut temuan tersebut memperlihatkan paradoks. Meski banyak Gen Z memahami keterbatasan AI, mereka tetap memilih chatbot sebagai tempat bercerita karena menganggapnya sebagai pendengar yang tidak menghakimi.

“Gen Z sebenarnya terliterasi soal bias dan halusinasi AI, tetapi mereka tetap memilihnya sebagai tempat bercerita. Hal ini mengindikasikan tingginya krisis ruang aman dan ketiadaan pendengar tanpa penghakiman di dunia nyata, sehingga mereka rela menoleransi risiko demi mendapatkan responsivitas dan validasi instan,” jelas Haris.

Riset yang sama juga menemukan paradoks lain terkait perlindungan data pribadi. Sebanyak 88,7 persen responden meyakini AI kemungkinan menyimpan percakapan mereka, 90,9 persen menilai kebijakan privasi platform AI belum cukup jelas, dan 75,1 persen khawatir data tersebut berpotensi disalahgunakan. Kendati demikian, 63,2 persen responden tetap membagikan cerita pribadinya kepada AI.

“Banyak orang muda yang curhat ke AI sebenarnya bukan karena mereka tidak memiliki teman yang bisa dipercaya di dunia nyata, tapi memposisikan AI sebagai alternatif pendengar yang bebas penghakiman. Tapi di saat yang sama, 70,2 persen responden justru mengeluhkan bahwa AI sering gagal menangkap kedalaman emosi manusia,” ungkap Haris.

Baca Juga: Kontak Tembak di Yahukimo, Satgas Operasi Damai Cartenz Pastikan 3 KKB Tewas

Meski begitu, Founder Sobat Literasi Indonesia, Nix Hadid Alonzo Permadi, menilai penggunaan AI harus dibarengi dengan kemampuan berpikir kritis, termasuk memahami sumber informasi, potensi bias, dan keamanan data pribadi.

"Yang perlu terus kita tanyakan setiap kali pakai AI itu sederhana. Informasi ini benar atau tidak, dari mana sumbernya, apakah ada bias, apakah data saya aman, dan informasi apa yang sebaiknya tidak saya bagikan ke AI," ujarnya.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan