← Beranda
92 Persen Pekerja Berbasis Pengetahuan di Indonesia Sudah Gunakan AI, Tapi Kesiapan Talenta Masih Jadi Tantangan Utama
Banu AdikaraSabtu, 11 Juli 2026 | 01.34 WIB
Ilustrasi AI melakukan pekerjaan administrasi yang sebelumnya biasa dikerjakan oleh manusia. (Pixabay)

 

JawaPos.com – Pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di dunia kerja terus meningkat, namun kesiapan sumber daya manusia dinilai masih menjadi tantangan utama agar transformasi digital benar-benar berdampak pada produktivitas bisnis.

Laporan Work Trend Index 2024 dari Microsoft dan LinkedIn mencatat, sebanyak 92 persen pekerja berbasis pengetahuan di Indonesia telah menggunakan generative AI dalam aktivitas sehari-hari. Namun, Cisco AI Readiness Index 2025 menunjukkan hanya 23 persen organisasi di Indonesia yang masuk kategori Pacesetters, yakni perusahaan yang dinilai siap memanfaatkan potensi AI secara optimal.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa adopsi teknologi belum selalu diikuti kesiapan talenta. World Economic Forum dalam Future of Jobs Report memproyeksikan kemampuan seperti analytical thinking, creative thinking, technology literacy, serta pemahaman AI dan big data akan menjadi keterampilan paling dibutuhkan hingga 2030.

Baca Juga: Artificial Intelligence Tak Cukup Jadi Alat, Perguruan Tinggi Didorong Ciptakan Talenta dan Aturan yang Berpihak pada Manusia

Di sisi lain, kemampuan komunikasi juga menjadi faktor penting di tengah semakin globalnya dunia kerja. EF English Proficiency Index 2025 masih menempatkan Indonesia dalam kategori kemampuan bahasa Inggris yang relatif rendah. Hambatan tersebut dinilai dapat memengaruhi daya saing tenaga kerja nasional.

Temuan IDC (2025) juga menunjukkan 78 persen perusahaan mengalami kendala saat berinteraksi dengan klien maupun mitra bisnis akibat hambatan bahasa, sementara 74 persen menyebut komunikasi yang kurang efektif turut memengaruhi kolaborasi internal dan proses pengambilan keputusan.

Country Director ELSA Business Indonesia, Yasser Muhammad Syaiful, menilai kesiapan organisasi menghadapi era AI tidak hanya ditentukan oleh investasi teknologi, tetapi juga kemampuan karyawan untuk beradaptasi dan berkomunikasi secara efektif.

Baca Juga: Hermawan Kartajaya Akui Artificial Intelligence Pengaruhi Industri Marketing

"Di era AI, kesiapan organisasi tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang digunakan, tetapi juga oleh kemampuan talenta untuk beradaptasi, berkomunikasi, dan memanfaatkannya secara efektif. Karena itu, investasi pada pengembangan keterampilan menjadi kunci untuk membangun organisasi yang lebih siap menghadapi perubahan," ujarnya.

Salah satu pendekatan yang mulai diterapkan perusahaan adalah pemanfaatan platform pembelajaran berbasis AI untuk meningkatkan kemampuan komunikasi bahasa Inggris secara lebih personal dan sesuai kebutuhan pekerjaan.

Pendekatan ini dinilai dapat membantu perusahaan mempersiapkan tenaga kerja menghadapi kolaborasi lintas negara sekaligus memaksimalkan manfaat transformasi digital.

Secara global, Yasser mengklaim, platform-nya telah digunakan oleh lebih dari 1.300 organisasi, termasuk implementasi di Indonesia untuk pelatihan ribuan karyawan di sektor energi. Menurutnya, program tersebut mencatat peningkatan produktivitas dan kemampuan bahasa Inggris peserta dalam beberapa bulan pertama pelaksanaan.

EDITOR: Banu Adikara