← Beranda
Waspada Penyebaran Malware via WA Desktop: Klik Lampiran, Komputer Diambil Alih
Nanda PrayogaMinggu, 28 Juni 2026 | 17.06 WIB
Bahaya malware di era digital.

JawaPos.com - Pengguna WhatsApp yang kerap mengakses layanan menggunakan WhatsApp Desktop maupun WhatsApp Web, diminta meningkatkan kewaspadaan.

Perusahaan keamanan siber Kaspersky mengungkap adanya kampanye penyebaran malware yang memanfaatkan platform perpesanan tersebut untuk menjebak korban.

Dalam laporan terbaru tim Global Research and Analysis Team (GReAT) Kaspersky pada Juni 2026, pelaku memanfaatkan lampiran berupa file VBScript yang dikirim melalui percakapan WhatsApp.

Serangan ini telah ditemukan di sejumlah negara. Di antaranya Brasil, Singapura, Taiwan, Vietnam, dan Malaysia, yang menjadi wilayah dengan jumlah korban terbanyak.

Baca Juga: WhatsApp Plus Resmi Hadir di Indonesia, Bisa Dicoba Gratis Sebulan, Ini Cara Aktivasi dan Fitur Unggulannya

Kaspersky juga menemukan penggunaan nama file dalam berbagai bahasa. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa kampanye serangan ini tidak hanya menyasar kawasan Asia, tetapi juga mulai diperluas ke sejumlah negara di Eropa.

Memanfaatkan Kepercayaan Antar-Pengguna

Modus yang digunakan pelaku mengandalkan teknik rekayasa sosial. Mereka lebih dulu mengambil alih akun WhatsApp milik korban, kemudian menggunakan akun tersebut untuk mengirimkan file berbahaya kepada seluruh kontak yang tersimpan.

Karena pesan berasal dari orang yang dikenal, seperti teman, kerabat, atau rekan kerja, penerima umumnya tidak menaruh rasa curiga.

Kondisi itu membuat peluang para korban membuka file lampiran menjadi jauh lebih besar.

Agar terlihat meyakinkan, pelaku memberi nama file menyerupai dokumen yang lazim diterima dalam aktivitas sehari-hari.

Baca Juga: Dari WhatsApp hingga Threads, Ini 7 Fitur Meta yang Wajib Dicoba Penggemar Sepak Bola Saat Piala Dunia 2026

Seperti faktur pembelian, laporan perbankan, bukti pembayaran, hingga surat penagihan utang.

Padahal, file tersebut telah disisipkan kode berbahaya. Bahkan, kode itu dirancang menyerupai komponen resmi pembaruan Microsoft Windows dengan tambahan komentar dan metadata palsu agar lebih sulit dikenali sebagai ancaman.

Komputer Bisa Dikendalikan dari Jarak Jauh

Peneliti Keamanan Senior Kaspersky GReAT, Fareed Radzi, menjelaskan bahwa serangan ini mengandalkan manipulasi psikologis agar korban secara sukarela menjalankan file berbahaya tersebut.

Setelah lampiran dibuka, proses infeksi berlangsung secara bertahap tanpa menampilkan aktivitas yang mencurigakan.

Skrip pertama akan membuat direktori tersembunyi di komputer, kemudian menghubungi server milik pelaku menggunakan Windows Script Host untuk mengunduh komponen tambahan.

Baca Juga: WhatsApp Uji Tampilan Chat Baru di Android, Kirim Pesan Kini Lebih Halus dan Interaktif

Tahap berikutnya lebih berbahaya. Sistem akan mengunduh arsip terkompresi yang berisi perangkat lunak manajemen dan pemantauan jarak jauh.

Apabila berhasil terpasang, pelaku dapat memperoleh hak akses administratif ke komputer korban sehingga berpotensi mengendalikan perangkat, memantau aktivitas, hingga mencuri berbagai data penting dari jarak jauh.

Langkah yang Disarankan

Untuk mengurangi risiko menjadi korban, Kaspersky mengimbau pengguna menerapkan sejumlah langkah pencegahan.

Pertama, jangan langsung mempercayai file lampiran yang diterima melalui WhatsApp, sekalipun dikirim oleh orang yang dikenal. Selalu pastikan terlebih dahulu kepada pengirim melalui media komunikasi lain.

Kedua, perhatikan jenis file yang diterima. Hindari membuka file dengan ekstensi seperti .vbs, .vbe, .exe, .bat, .cmd, .js, maupun .ps1 sebelum dipastikan benar-benar aman.

Baca Juga: 40 Kata-Kata Tahun Baru Islam 2026 yang Menyentuh Hati untuk WhatsApp dan Media Sosial

Selain itu, pengguna juga disarankan memasang dan rutin memperbarui perangkat lunak keamanan pada komputer maupun ponsel agar aktivitas mencurigakan dapat dideteksi sejak dini.

Kaspersky mengingatkan bahwa sekuat apa pun sistem enkripsi sebuah aplikasi perpesanan, faktor manusia masih menjadi titik lemah yang paling sering dimanfaatkan pelaku kejahatan siber.

Karena itu, kehati-hatian saat menerima dan membuka lampiran tetap menjadi langkah pertahanan utama untuk menjaga keamanan data pribadi di ruang digital.

 

EDITOR: Bayu Putra