JawaPos.com - Persaingan AI global kini tidak lagi sekadar soal siapa yang paling unggul membangun model paling canggih. Sebaliknya, yang mengemuka adalah dua pendekatan berbeda antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang mulai membentuk arah baru industri teknologi, dengan nama-nama seperti OpenAI, Google, Nvidia, hingga Alibaba berada di tengah pergeseran itu.
Perubahan arah tersebut mulai terlihat jelas pada awal 2025, ketika kemunculan DeepSeek dari Hangzhou menjadi salah satu titik pembalik persepsi. Perusahaan ini meluncurkan model bahasa besar (LLM) berbasis penalaran yang diklaim hanya membutuhkan biaya sekitar USD 6 juta atau setara Rp106,38 miliar (kurs Rp17.730 per dolar AS), jauh di bawah skala investasi raksasa teknologi AS.
Melansir Fortune, Rabu (17/6/2026), fenomena yang disebut sebagai "momen DeepSeek" ini menggeser cara pandang terhadap posisi Tiongkok dalam lanskap AI global. Alih-alih mengejar Amerika Serikat dalam satu lintasan yang sama, Tiongkok justru membangun jalur pengembangan berbeda.
Herry Han dari Soul Capital menyatakan, "Jika melihat masa depan teknologi secara mendalam, Amerika Serikat dan Tiongkok ibarat dua sisi tai chi, masing-masing memiliki kekuatan unik dan saling mendorong kemajuan. Ini bukan sekadar persaingan, melainkan keseimbangan yang dinamis."
Di sisi lain, perusahaan-perusahaan Amerika Serikat tetap bertumpu pada investasi besar untuk mendorong pengembangan artificial general intelligence (AGI) dan sistem AI yang semakin otonom. Sebaliknya, perusahaan Tiongkok menghadapi keterbatasan modal, akses cip canggih yang lebih sempit, serta ukuran pasar domestik yang tidak sebesar Amerika Serikat dalam menciptakan skala keuntungan. Kondisi ini mendorong pendekatan yang lebih efisien, berbasis sumber terbuka, dan cepat dalam pengembangan aplikasi.
Keunggulan itu turut ditopang struktur biaya yang lebih rendah. Fortune mencatat, insinyur AI di Tiongkok memperoleh sekitar 402.000 yuan atau setara Rp1,05 miliar per tahun (kurs Rp2.623 per yuan), dengan pasokan talenta doktoral yang mencapai 1,5–2 kali lipat dibandingkan Amerika Serikat serta biaya energi dan pusat data yang lebih murah akibat subsidi daerah.
Namun, tekanan struktural juga signifikan. Investasi asing langsung ke Tiongkok turun lebih dari dua pertiga sejak 2019, sementara pembatasan ekspor cip dari AS membatasi akses terhadap perangkat komputasi kelas atas.
Investor Jun Xu menilai persoalan utama bukan pada ketersediaan teknologi, melainkan pada sisi pasar. "Masalah AI Tiongkok bukan cip, model, atau pasokan. Persoalannya adalah permintaan. Permintaan di Tiongkok lebih murah dan lebih kecil," ujarnya.
Dari perspektif industri, CEO Nvidia Jensen Huang menilai pembatasan teknologi justru memicu percepatan inovasi domestik di Tiongkok. Dia menyebut, "Perusahaan-perusahaan lokal sangat berbakat dan sangat bertekad. Pembatasan ekspor memberi mereka semangat, energi, dan dukungan pemerintah untuk mempercepat pengembangan."
Seiring waktu, perusahaan AI Tiongkok mulai memperluas orientasi ke pasar internasional. Cindy Chow, CEO Alibaba Hong Kong Entrepreneurs Fund, mengatakan, "Semua perusahaan rintisan AI di Tiongkok memiliki strategi internasional sejak hari pertama dan Asia Tenggara berada di daftar teratas."
Sementara itu, 01.AI yang didirikan Kai-Fu Lee menggeser fokus dari pengembang model menjadi penyedia agen AI untuk bisnis. Wakil Presiden 01.AI, Ning Ning, menyebut, "Masa depan AI perusahaan bukan menjual teknologi, melainkan membuat AI bertanggung jawab atas hasil bisnis."
Selain itu, pendekatan sumber terbuka menjadi pembeda utama. Model seperti Qwen, MiniMax, dan DeepSeek kini menyumbang sekitar sepertiga penggunaan model bahasa besar secara global.
Kai-Fu Lee menilai adopsi tersebut tidak didorong asal negara, melainkan keterbukaan sistemnya. "Banyak pengguna memilihnya bukan karena berasal dari Tiongkok, tetapi karena sifatnya yang terbuka," katanya.
Pendiri Alibaba Cloud, Jian Wang, bahkan membandingkan situasi ini dengan awal perkembangan internet ketika keterbukaan teknologi mempercepat inovasi global.
Sebagaimana disoroti Fortune, arah persaingan AI tidak lagi ditentukan oleh satu perlombaan tunggal. Amerika Serikat dan Tiongkok kini membangun dua ekosistem berbeda: satu bertumpu pada modal besar dan model tertutup, sementara lainnya menekankan efisiensi, keterbukaan, dan skala adopsi global. Perbedaan pendekatan ini berpotensi membentuk ulang peta ekonomi digital dunia dalam dekade mendatang.
Baca Juga: Nvidia dan LG Bangun Aliansi AI Bernilai Multitriliun: Akselerasi Menuju Era Robot Humanoid Global