JawaPos.com - Jeff Bezos untuk pertama kalinya mengungkap arah pengembangan Prometheus, perusahaan rintisan kecerdasan buatan (AI) yang dipimpinnya bersama Vik Bajaj. Startup yang baru berdiri pada November 2025 itu baru saja meraih pendanaan USD 12 miliar, sehingga valuasinya melonjak menjadi USD 41 miliar dan menjadi salah satu pemain baru paling diperhitungkan dalam persaingan AI global.
Dilansir dari CNBC, Jumat (12/6/2026), Bezos membantah spekulasi bahwa Prometheus tengah mengembangkan robot atau sengaja menyembunyikan aktivitasnya dari publik.
"Kami tidak sedang bersikap tertutup. Kami hanya fokus bekerja. Namun, ketika Anda menghimpun dana sebesar ini, orang-orang tentu jadi penasaran," katanya. Menurut Bezos, tujuan utama Prometheus adalah membangun AI untuk penemuan dan rekayasa dunia fisik.
Baca Juga: Jeff Bezos: AS Harus 'Perbaiki Akar Masalah', Bukan Cari Kambing Hitam dalam Debat Pajak
Lebih lanjut, Bezos menjelaskan bahwa perusahaannya sedang mengembangkan seperangkat alat AI yang dapat membantu insinyur merancang dan memproduksi berbagai produk fisik dengan lebih cepat dan efisien. Meski demikian, dia menilai masih terlalu dini untuk mengungkap capaian teknologinya.
"Masih terlalu awal untuk menjelaskan apa yang telah kami capai sejauh ini, tetapi hasilnya benar-benar luar biasa," ujarnya.
Berbeda dari banyak perusahaan AI yang berfokus pada chatbot dan layanan digital, Prometheus membidik sektor teknik, manufaktur, hingga desain obat. Bersama Bajaj, mantan pendiri Verily milik Alphabet, Bezos ingin menciptakan AI yang mampu membantu proses penemuan dan pengembangan produk industri dalam skala besar.
Untuk mewujudkan pendekatan yang bersifat intensif secara teknis tersebut, kebutuhan infrastruktur komputasi menjadi faktor krusial yang tidak dapat dihindari. Pendanaan jumbo yang baru diraih, menurut Bezos, sebagian besar memang dialokasikan untuk memperkuat kapasitas tersebut.
"Itu merupakan bagian besar dari dana yang kami himpun. Apa yang kami kerjakan sangat intensif dari sisi komputasi dan kami perlu menciptakan data tersebut," katanya.
Tak hanya itu, Bajaj menambahkan bahwa Prometheus memanfaatkan berbagai sumber komputasi dan data untuk mendukung pengembangan model AI mereka, termasuk kombinasi infrastruktur internal dan kolaborasi eksternal industri.
Selain menjelaskan arah bisnis Prometheus, Bezos juga menyoroti dampak AI terhadap ekonomi dan tenaga kerja. Dia menilai teknologi ini tidak akan menghapus pekerjaan secara massal, melainkan meningkatkan produktivitas.
"Mungkin rumah tangga yang saat ini memiliki dua pencari nafkah nantinya memilih cukup dengan satu pencari nafkah. Mungkin pula mereka yang bekerja lembur akan berhenti bekerja lembur karena tidak lagi membutuhkannya," ujarnya.
Pandangan itu kemudian berlanjut pada isu regulasi AI. Bezos menekankan perlunya aturan yang seimbang agar keamanan tetap terjaga tanpa menghambat inovasi.
"Ada banyak alasan untuk memiliki regulasi pemerintah yang sehat demi meningkatkan keamanan. Namun, yang perlu diatur adalah tingkat penerapannya," katanya.
Dia menyebut AI tidak berbeda dari teknologi lain yang bisa disalahgunakan, seperti pisau, tetapi tetap dibutuhkan.
Dalam konteks bisnis, Bezos juga menyinggung kerja sama Prometheus dengan berbagai penyedia komputasi, termasuk Amazon Web Services, meski tetap dijaga secara profesional dan independen.
Bezos juga turut memastikan Blue Origin berada dalam tahap pemulihan usai insiden uji statis roket New Glenn, dengan target peluncuran ulang sebelum akhir tahun.
Pernyataan-pernyataan tersebut menegaskan posisi Prometheus dalam lanskap AI global yang lebih luas. Dengan pendanaan besar, perekrutan talenta dari OpenAI, Google DeepMind, dan Nvidia, serta fokus pada rekayasa dunia fisik, startup ini diarahkan untuk memperluas peran AI dari sekadar teknologi digital menjadi pendorong inovasi industri.