← Beranda
Founder Perempuan Masih Sulit Dapat Pendanaan, Padahal Banyak Startup Tumbuh Lebih Efisien
Rian AlfiantoKamis, 11 Juni 2026 | 01.41 WIB
Ilustrasi startup digital. (Ajaib)

 

JawaPos.com - Di tengah pesatnya perkembangan ekosistem startup digital di berbagai negara berkembang, founder perempuan masih menghadapi tantangan besar dalam mendapatkan akses pendanaan. Padahal, banyak startup yang dipimpin perempuan terbukti mampu mencatat pertumbuhan bisnis yang kuat dan efisien.

Kesenjangan akses modal tersebut masih menjadi persoalan di berbagai kawasan, mulai dari Afrika, Amerika Latin, hingga Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) bahkan termasuk Indonesia. Selain menghadapi keterbatasan pendanaan, founder perempuan juga kerap berhadapan dengan keraguan terhadap kemampuan mereka serta standar pencapaian bisnis yang lebih tinggi dibandingkan pendiri laki-laki.

Temuan tersebut menjadi salah satu alasan lahirnya Aurora Ventures, sebuah program investasi tahap awal yang fokus mendukung startup yang dipimpin perempuan di negara berkembang atau emerging markets. Program ini resmi diperkenalkan setelah penyelenggaraan Aurora Tech Award 2026 di Santiago, Chile.

Baca Juga: Indonesia CIO 200 Summit 2026 Dorong Talenta Indonesia ke Ekosistem Teknologi Global

Aurora Ventures menawarkan investasi sebesar US$ 180 ribu hingga US$ 250 ribu atau sekitar Rp 2,9 miliar hingga Rp 4 miliar bagi startup tahap awal. Selain pendanaan, program tersebut juga menyediakan akses ke jaringan investor, mentoring, serta dukungan operasional untuk membantu perusahaan rintisan mempersiapkan diri menuju tahap pendanaan berikutnya.

Peluncuran program ini berangkat dari berbagai temuan selama lima tahun penyelenggaraan Aurora Tech Award yang menunjukkan masih lebarnya kesenjangan pendanaan bagi founder perempuan. Kondisi tersebut terutama terlihat di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, Afrika, serta Amerika Latin.

Meski banyak startup yang dipimpin perempuan menunjukkan kinerja bisnis yang menjanjikan, perusahaan-perusahaan tersebut dinilai masih sering memperoleh valuasi yang lebih rendah dibandingkan startup serupa yang dipimpin laki-laki. Mereka juga cenderung kurang mendapatkan perhatian dari investor tradisional.

Baca Juga: Samsung Perkenalkan Vision AI, Televisi dengan Pemrosesan Gambar Berbasis AI

Temuan itu diperkuat oleh riset terbaru Aurora yang melibatkan lebih dari 900 founder dari 127 negara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak founder perempuan masih menghadapi fenomena yang disebut competence scepticism atau keraguan terhadap kemampuan mereka dalam membangun dan mengembangkan bisnis.

Selain itu, para founder perempuan juga sering kali dituntut untuk membuktikan pencapaian yang lebih tinggi sebelum memperoleh kepercayaan dari investor. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang membuat akses pendanaan bagi startup perempuan berjalan lebih lambat dibandingkan startup yang dipimpin laki-laki.

Country Manager inDrive Indonesia, Rio Aristo, mengatakan dukungan terhadap Aurora Ventures merupakan bagian dari upaya mendorong terciptanya kesempatan yang lebih setara dalam ekosistem kewirausahaan digital.

"inDrive lahir dan berkembang dengan menghadapi berbagai tantangan besar di industri. Kami melihat semangat yang sama juga dimiliki oleh banyak founder perempuan di emerging markets saat ini. Karena itu, dukungan terhadap Aurora Ventures bukan hanya soal inisiatif sosial, tetapi juga tentang membuka peluang besar yang selama ini kurang mendapatkan perhatian," ujar Rio Aristo.

Menurut dia, banyak founder perempuan memiliki potensi besar untuk membangun bisnis yang berkelanjutan, tetapi belum memperoleh akses yang sama terhadap sumber daya dan investasi.

Sebagai tahap awal, program pilot Aurora Ventures akan dijalankan sepanjang 2026 dengan fokus membangun portofolio investasi pertama sekaligus memperkuat fondasi menuju pembentukan struktur venture capital yang lebih besar pada masa mendatang.

Baca Juga: Bukan Sekadar Cari Uang, Generasi Muda Perlu Kuasai AI untuk Lindungi Aset

Peluncuran program ini juga menjadi kelanjutan dari Aurora Tech Award yang telah berjalan sejak 2021. Selama lima tahun terakhir, ajang tersebut menjadi wadah bagi founder perempuan di sektor teknologi untuk memperoleh akses terhadap jaringan global, peluang pengembangan bisnis, dan sumber pendanaan.

Pada penyelenggaraan tahun 2026, Aurora Tech Award mencatat rekor lebih dari 3.400 pendaftar dari berbagai negara. Salah satu founder yang berhasil masuk dalam daftar 10 finalis terbaik adalah Adeola Ayoola-Famasi asal Nigeria.

Selain Adeola, daftar finalis juga diisi oleh founder perempuan dari berbagai negara berkembang, di antaranya Adriana Gonzalez-Tizo dari Panama, Angela Acosta-Morado dari Kolombia, Catalina Isaza dari Innmetec, Estefania Abello dari Muta, Maria Kawas dari Domestik, Mariana Zuliani dari OncoAI, Mercedes Bidart dari Quipu, Patricia Florencia dari Pilou, serta Penny Musengi dari Pesira Technologies.

Baca Juga: Pasar Robotika RI Diproyeksi Melesat, Adopsi AI Fisik Kian Luas

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah