JawaPos.com - Generasi muda Indonesia menghadapi realitas makro ekonomi yang dinilai lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya.
Di tengah gempuran inflasi global yang menggerus daya beli, mereka juga dikepung oleh ancaman digital yang agresif mulai dari penipuan siber canggih, maraknya judi online, fenomena FOMO (Fear of Missing Out), hingga jebakan skema cepat kaya di media sosial. Akibatnya, banyak anak muda mampu menghasilkan uang, namun gagal mengelola dan melindunginya.
President Director & CEO PT Indo Premier Sekuritas, Moleonoto The melihat kondisi ini sebagai tantangan nasional yang krusial. Tanpa literasi finansial yang kokoh, generasi muda berisiko terjebak menjadi konsumen teknologi, bukan pencipta nilai ekonomi.
Oleh karena itu, menurutnya, penting adanya formula transformasi yang terintegrasi secara linear, yakni generasi muda Indonesia harus memahami literasi keuangan dan artificial intelegent (AI) untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
"Transformasi ekonomi nasional tidak dimulai dari saham atau trading, melainkan dari cara berpikir (mindset). Kami hadir untuk memastikan AI tidak dipandang sebagai ancaman hilangnya pekerjaan, melainkan sebagai sarana peningkatan kualitas keputusan hidup dan proteksi finansial," ujarnya di Jakarta, dikutip Rabu (10/6).
Indonesia tengah memasuki fase percepatan transformasi digital yang ditandai oleh meningkatnya adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) di berbagai sektor kehidupan.
Dengan lebih dari separuh populasi berada di usia produktif dan Generasi Z menjadi kelompok terbesar penentu arah ekonomi nasional, kompetensi masa depan tidak lagi sekadar tentang melek digital, melainkan penguasaan terhadap AI.
AI kini telah menjelma menjadi infrastruktur baru yang mengubah cara manusia bekerja, belajar, berinvestasi, hingga mengambil keputusan finansial.
Menjawab perkembangan tersebut, IPOT memperluas perannya tidak hanya sebagai platform investasi, tetapi juga sebagai ekosistem yang mendorong literasi finansial dan pemanfaatan AI bagi generasi muda Indonesia.
“Dengan total dana kelolaan nasabah (Asset Under Management) mencapai sekitar Rp312 triliun dan didukung oleh lebih dari satu juta nasabah, IPOT hadir menghubungkan aset terbesar bangsa, yaitu generasi muda dengan kompetensi masa depan melalui pemanfaatan AI yang bertanggung jawab,” tegas
Terlebih saat dunia sedang memasuki era baru yang ditentukan oleh kecerdasan buatan, imbuhnya, AI bukan lagi teknologi masa depan. AI telah menjadi infrastruktur baru yang mengubah cara manusia bekerja, belajar, berkomunikasi, berinvestasi, bahkan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk mendukung kebutuhan generasi muda yang mengutamakan pengalaman digital yang personal dan fleksibel, pihaknya melakukan pembaruan UI/UX berbasis AI Real Time yang memungkinkan pengguna mengakses berbagai fitur investasi dan trading secara lebih intuitif.
"Kami mendisrupsi pasar modal Indonesia dengan membuka akses teknologi premium tersebut secara gratis kepada investor ritel muda. Langkah ini memberikan keunggulan kompetitif yang adil bagi anak muda untuk bertarung di pasar saham global maupun lokal," pungkasnya.