← Beranda
Terkuak Memo Mark Zuckerberg ke Pekerjanya, Ngomong Begini Saat Pecat Ribuan Karyawan Demi AI
Rian AlfiantoJumat, 22 Mei 2026 | 02.17 WIB
Mark Zuckerberg, CEO Meta (Fortune)

 

JawaPos.com - Meta kembali melakukan gelomban pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran dengan memangkas sekitar 8.000 karyawan atau hampir 10 persen dari total tenaga kerjanya. CEO Meta Mark Zuckerberg menegaskan langkah tersebut diambil demi mempercepat fokus perusahaan pada pengembangan kecerdasan buatan (AI) di tengah persaingan teknologi yang semakin agresif.

Dalam memo internal kepada karyawan pada Rabu (21/5), Zuckerberg menyebut AI telah menjadi teknologi paling penting saat ini dan akan menentukan masa depan industri teknologi global.

"AI adalah teknologi paling penting dalam hidup kita. Perusahaan yang memimpin akan menentukan generasi berikutnya," tulis Zuckerberg dalam memo yang dilihat CNBC.

Baca Juga: Tiongkok Perkuat Kendali Modal Negara atas DeepSeek dan Startup AI di Tengah Perang Semikonduktor Global

Langkah drastis Meta ini sekaligus memperlihatkan besarnya tekanan yang dirasakan perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp tersebut dalam perlombaan AI melawan raksasa teknologi lain seperti Microsoft, Google, hingga OpenAI.

PHK Dilakukan untuk Danai Investasi AI

Meta sebelumnya telah memberi sinyal pada April lalu bahwa perusahaan akan melakukan efisiensi besar-besaran. Selain memangkas ribuan pekerja, perusahaan juga membatalkan perekrutan untuk sekitar 6.000 posisi baru.

Perusahaan menyebut pengurangan tenaga kerja diperlukan agar dana perusahaan bisa dialihkan untuk investasi strategis, khususnya di bidang AI.

Tak hanya melakukan PHK, Meta juga dikabarkan akan memindahkan sekitar 7.000 pegawai ke posisi baru yang berkaitan langsung dengan pengembangan AI. Informasi tersebut disampaikan sumber internal yang mengetahui rencana perusahaan.

Beberapa divisi yang fokus pada infrastruktur AI, foundation models, serta monetisasi AI disebut akan tetap aman dari pemangkasan.

Dalam memo tersebut, Zuckerberg juga mengakui keputusan PHK bukan hal mudah bagi perusahaan.

"Selalu menyedihkan untuk mengucapkan selamat tinggal kepada orang-orang yang telah berkontribusi pada misi kami dan membangun perusahaan ini," ujar Zuckerberg.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para karyawan yang terdampak.

"Kami mengubah perusahaan kami untuk memastikan bahwa itu akan selalu menjadi tempat terbaik bagi orang-orang berbakat untuk memiliki dampak terbesar," lanjutnya.

Menurut Zuckerberg, transformasi perusahaan diperlukan agar Meta bisa bergerak lebih cepat dengan birokrasi yang lebih ramping.

Baca Juga: Sopir Taksi Green SM Jadi Tersangka Kecelakaan KRL di Perlintasan Sebidang Bekasi Timur

Gelombang PHK terbaru ini menambah panjang daftar pengurangan tenaga kerja di Meta sepanjang tahun 2026. Sebelumnya, perusahaan telah memangkas sekitar 1.000 pegawai di divisi Reality Labs pada Januari, lalu ratusan pekerja lain kembali terkena PHK pada Maret.

Meta juga mulai mengurangi ketergantungan terhadap vendor pihak ketiga untuk moderasi konten dan menggantikannya dengan teknologi AI.

Situasi ini memicu kecemasan di internal perusahaan. Data dari platform anonim Blind menunjukkan rating internal Meta turun 25 persen dibanding puncaknya pada kuartal II 2024. Sementara penilaian budaya kerja perusahaan anjlok hingga 39 persen.

Meski demikian, Zuckerberg mencoba menenangkan karyawan dengan mengatakan bahwa manajemen tidak mengharapkan adanya PHK massal lain secara perusahaan tahun ini.

Ia juga mengakui komunikasi internal perusahaan selama ini belum berjalan optimal.

"Saya ingin mengakui bahwa kita belum sejelas yang kita cita-citakan dalam komunikasi kita," kata Zuckerberg.

Meta sendiri bukan satu-satunya perusahaan teknologi yang melakukan efisiensi besar demi fokus pada AI.

Cisco pekan lalu mengumumkan PHK sekitar 4.000 pegawai. CEO Cisco Chuck Robbins mengatakan perusahaan yang akan menang di era AI adalah mereka yang mampu bergerak cepat dan fokus mengalihkan investasi ke sektor bernilai tinggi.

Sementara itu, Microsoft pada April lalu juga dikabarkan membuka program buyout sukarela pertama dalam sejarah perusahaan, dengan sekitar 7 persen pegawai di AS memenuhi syarat mengikuti program tersebut.

Gelombang efisiensi ini memperlihatkan bagaimana booming AI mulai mengubah strategi bisnis perusahaan teknologi global, termasuk cara mereka mengelola tenaga kerja dan investasi jangka panjang.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan