JawaPos.com - Data pribadi yang bocor di internet tidak berhenti di tangan peretas. Setelah dicuri, data biasanya masuk ke rantai perdagangan ilegal digital dan terus diperjualbelikan di forum-forum dark web.
Peredaran data curian ini menjadi salah satu ancaman terbesar di era digital karena dampaknya dapat dirasakan korban dalam jangka panjang, mulai dari spam, penipuan, hingga pencurian identitas.
Praktisi Digital Forensik PT Digital Forensic Indonesia (DFI), Ruby Alamsyah, menjelaskan data hasil kebocoran umumnya dijual di forum data leak dengan pola yang terus berulang.
“Awalnya data dijual mahal ketika masih fresh. Tetapi lama-lama dibeli banyak pihak, dijual ulang terus, sampai akhirnya tersedia gratis,” ujar Ruby kepada JawaPos.com.
Ia mencontohkan kebocoran 90 juta data pelanggan Tokopedia pada 2020 yang saat itu dijual sekitar USD 7.000–8.000. “Artinya satu pelanggan Tokopedia itu bahkan tidak sampai satu rupiah nilainya,” katanya.
Siapa yang Membeli Data Bocor?
Menurut Ruby, data hasil kebocoran biasanya dibeli oleh tiga kelompok utama. Pertama, peneliti keamanan siber untuk kebutuhan investigasi dan riset keamanan.
“Kami beli untuk memastikan benar tidaknya kebocoran dan mempelajari pola serangannya,” jelas Ruby.
Kedua, individu maupun korporasi yang memanfaatkan data untuk kepentingan komersial ilegal seperti pemasaran tanpa izin.
Ketiga, kelompok kriminal yang menggunakan data untuk berbagai tindak kejahatan digital.
“Kalau data tersebut dianggap sangat berharga untuk kegiatan ilegal atau kejahatan tertentu, itu dibeli oleh para kriminal,” ujarnya.
Dampaknya Tidak Sekadar Kerugian Finansial
Sementara itu, secara terpisah, Pakar Keamanan Siber CISSReC Pratama Persadha mengatakan kebocoran data dapat memicu berbagai tindak kejahatan lanjutan seperti pembobolan rekening, pengambilalihan akun digital, penipuan pinjaman online, hingga manipulasi psikologis korban.
Menurut IBM Cost of a Data Breach Report 2025, rata-rata kerugian global akibat kebocoran data mencapai 4,44 juta dolar AS.
Namun Pratama menilai dampak sesungguhnya sering kali jauh lebih besar karena menyangkut hilangnya kepercayaan publik, reputasi institusi, biaya hukum, hingga tekanan psikologis korban.
“Biaya sosial kebocoran data terhadap korban sering kali jauh melampaui nilai penyelesaian hukum perusahaan,” kata Pratama.
Masifnya peredaran data bocor juga sejalan dengan meningkatnya serangan siber di Indonesia. Data BSSN menunjukkan sepanjang 2025 terjadi 5,5 miliar serangan siber, sementara pada awal 2026 sudah tercatat 1,52 miliar serangan tambahan.
Deputi BSSN Mayjen TNI Bondan Widiawan mengatakan pola serangan saat ini semakin adaptif karena memanfaatkan AI untuk mengubah perilaku malware secara otomatis.
“Begitu malware teridentifikasi dia langsung berubah wajah. Melakukan mutasi-mutasi,” ujar Bondan belum lama ini di Jakarta.
Baca Juga: Data Pribadi Jadi 'Tambang Emas' Baru Hacker, Begini Cara Kebocorannya Terjadi
Menurut dia, kondisi tersebut membuat sistem keamanan konvensional semakin sulit mendeteksi ancaman siber modern. (*)