JawaPos.com - Transformasi digital di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Di tengah pesatnya pertumbuhan pembayaran non-tunai dan layanan keuangan digital, banyak pelaku usaha kecil belum sepenuhnya memahami pengelolaan keuangan bisnis maupun pemanfaatan teknologi pembayaran digital.
Persoalan mendasar seperti pencampuran uang pribadi dan usaha, kesulitan menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP), hingga rendahnya pemanfaatan QRIS masih menjadi hambatan yang kerap ditemukan di lapangan.
Padahal, UMKM selama ini menjadi tulang punggung ekonomi nasional dengan kontribusi lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Situasi tersebut mendorong munculnya pendekatan baru dalam edukasi digital UMKM. Salah satunya melalui metode gamifikasi atau pembelajaran berbasis permainan interaktif yang mulai digunakan untuk meningkatkan keterlibatan pelaku usaha dalam memahami literasi keuangan dan teknologi digital.
Pendekatan itu kini diadopsi PT Netzme Kreasi Indonesia (Netzme) bersama Ruangguru melalui peluncuran program 'Gang Dagang', platform gamifikasi literasi keuangan dan digital untuk UMKM yang diperkenalkan di Balai Kota DKI Jakarta dengan dukungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Bank Indonesia Kantor Perwakilan DKI Jakarta.
Gang Dagang dirancang menggunakan simulasi bisnis dan tantangan transaksi digital agar peserta dapat belajar melalui pengalaman langsung. Program ini juga memanfaatkan sistem leaderboard dan kompetisi berkala untuk meningkatkan partisipasi pengguna.
CEO PT Netzme Kreasi Indonesia, Vicky G. Saputra, mengatakan penyediaan infrastruktur pembayaran digital saja tidak cukup untuk mempercepat transformasi UMKM.
“Sebagai PJP berlisensi Bank Indonesia Kategori 1, kami percaya bahwa infrastruktur pembayaran digital saja tidak cukup. UMKM Indonesia membutuhkan literasi yang menyertainya. Gang Dagang adalah bentuk komitmen kami untuk membangun ekosistem yang tidak hanya menyediakan akses, tetapi juga meningkatkan kapabilitas pelaku usaha agar tidak sekadar bertransaksi digital, tetapi juga mampu bertumbuh dari transaksi tersebut,” ujar Vicky, Senin (18/5).
Konsep gamifikasi sendiri semakin banyak diterapkan dalam sektor pendidikan dan pelatihan digital karena dianggap mampu meningkatkan engagement pengguna.
Dalam konteks UMKM, pendekatan ini dinilai relevan karena sebagian besar pelaku usaha memiliki keterbatasan waktu mengikuti pelatihan formal yang panjang.
Chief of Corporate Strategy & Financial Officer Ruangguru, Arman Wiratmoko dalam kesempatan yang sama mengatakan pendekatan berbasis permainan dipilih agar materi literasi keuangan lebih mudah dipahami dan diterapkan secara praktis.
“Kami sangat antusias berkolaborasi dengan Netzme untuk menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan sekaligus berdampak nyata. Kami percaya pembelajaran literasi keuangan ini juga merupakan sebuah investasi bagi para pelaku usaha UMKM ke depannya,” kata Arman.
Menurut dia, gamifikasi terbukti mampu meningkatkan retensi pengetahuan, terutama bagi pelaku usaha yang sehari-hari disibukkan dengan operasional bisnis.
“Kami berharap game Gang Dagang ini menjadi bekal nyata bagi keseharian bisnis para UMKM dan juga memberikan nilai tambah yang nyata bagi kita semua,” lanjutnya.
Dalam implementasinya, Gang Dagang mengintegrasikan teknologi pembayaran Netzme seperti QRIS Soundbox dan Kasir Digital ke dalam proses pembelajaran peserta.
Setiap dua minggu, peserta akan mengikuti 'Sales Race', yaitu tantangan untuk meningkatkan jumlah dan frekuensi transaksi QRIS di usaha mereka.
Model ini menunjukkan bagaimana edukasi digital mulai bergeser dari sekadar seminar menjadi pembelajaran berbasis pengalaman dan perilaku transaksi nyata.
Program perdana akan berlangsung selama lima bulan dan diikuti 50 pelaku UMKM terpilih melalui proses seleksi terbuka.
Kurikulumnya mencakup manajemen keuangan dasar, pencatatan keuangan, perhitungan keuntungan dan HPP, pengelolaan utang dan dana darurat, hingga akses pembiayaan digital.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menilai program tersebut sejalan dengan agenda transformasi digital daerah dan penguatan kapasitas UMKM.
Asisten Perekonomian dan Keuangan Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta, Suharini Eliawati, mengatakan Jakarta dipilih karena memiliki posisi strategis sebagai pusat ekonomi dan transformasi digital nasional.
“Kami menyambut baik program ini, sejalan dengan semangat Jakpreneur dan komitmen Pemprov DKI Jakarta dalam mendorong transformasi digital serta meningkatkan kapasitas pelaku UMKM,” ujar Suharini.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Divisi Perizinan dan Implementasi Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Kantor Perwakilan DKI Jakarta, Roes Dina Martha, menilai kolaborasi sektor swasta dan platform teknologi menjadi bagian penting dalam mempercepat digitalisasi UMKM nasional.
“Ke depan, kami berharap inisiatif semacam ini dapat bersinergi antara pihak swasta, pemerintah, otoritas, terus berlanjut dan dapat berkontribusi dalam mengakselerasi digitalisasi UMKM, penguasaan ekosistem pembayaran, serta penguatan ekonomi daerah yang inklusif dan berdaya saing,” ungkap Roes.