JawaPos.com - Ekosistem teknologi global memasuki fase transisi baru ketika smart glasses atau kacamata pintar mulai diposisikan sebagai perangkat komputasi berikutnya yang memasuki "iPhone moment", yakni titik ketika sebuah teknologi berubah dari produk awal menjadi platform massal yang membentuk pasar global.
Industri memproyeksikan pasar smart glasses akan mengalami lonjakan signifikan, dari sekitar 6 juta unit pada 2025 menjadi 20 juta unit pada 2026. Perubahan ini menandai pergeseran status dari perangkat eksperimental menuju produk massal yang mulai memengaruhi pola interaksi digital sehari-hari, serupa dengan disrupsi yang terjadi saat era iPhone dimulai pada 2007.
Menurut laporan 24/7 Wall St, Senin (11/5/2026), momentum ini dipandang sebagai titik infleksi penting industri teknologi global. Meta dan Google disebut berada di posisi terdepan dalam membentuk arah ekosistem, sementara Apple belum memiliki produk kacamata pintar yang dijadwalkan meluncur dalam waktu dekat.
Namun, di sisi kinerja korporasi, Apple tetap mencatat pertumbuhan kuat. Perusahaan membukukan pendapatan kuartal kedua fiskal 2026 sebesar USD 111,184 miliar atau sekitar Rp 1.930 triliun (kurs Rp 17.360 per dolar AS), naik 16,6 persen secara tahunan, dengan laba per saham USD 2,01.
Tim Cook menegaskan kekuatan bisnis inti perusahaan dengan menyebut, "iPhone mencatat rekor pendapatan kuartal Maret, didorong oleh permintaan yang luar biasa terhadap lini iPhone 17." Namun, dalam laporan tersebut tidak terdapat penekanan pada pengembangan kategori kacamata pintar.
Meski fundamental keuangan solid, pasar mulai membaca posisi Apple secara lebih hati-hati. Saham AAPL diperdagangkan di level USD 287,44, naik 47,1 persen dalam satu tahun, dengan rasio harga terhadap laba sekitar 35 kali. Namun, ekspektasi pasar derivatif menunjukkan skeptisisme, dengan probabilitas hanya 6 persen bahwa Vision Pro generasi kedua meluncur sebelum 2027.
Sementara itu, Meta mempercepat ekspansi agresif di segmen ini. Divisi Reality Labs masih mencatat kerugian USD 4,03 miliar pada kuartal pertama 2026, namun perusahaan meningkatkan belanja modal hingga USD 125–145 miliar. Produk Ray-Ban Meta menjadi fondasi pasar, dengan penjualan dilaporkan meningkat tiga kali lipat pada 2025.
Di sisi lain, Google melalui Alphabet membangun pendekatan berbeda dengan membuka ekosistem Android XR yang dijadwalkan meluncur pada 2026. Kolaborasi dengan Warby Parker, Gentle Monster, hingga Samsung memperluas jangkauan perangkat ke pasar massal, terutama pengguna kacamata resep yang mencakup sekitar 69 persen populasi global.
Di sisi infrastruktur, Broadcom menjadi pemain kunci dalam rantai pasok cip AI yang menopang perangkat generasi baru ini. Perusahaan mencatat pertumbuhan pendapatan 29,5 persen secara tahunan.
CEO Hock Tan menyatakan, "Broadcom mencapai pendapatan kuartal pertama yang memecahkan rekor, didorong oleh kekuatan berkelanjutan dalam solusi semikonduktor AI," yang menegaskan posisi perusahaan dalam ekosistem komputasi masa depan.
Meski tertinggal dalam peluncuran kategori baru, Apple masih memiliki kekuatan struktural yang besar, termasuk basis lebih dari satu miliar perangkat iPhone, cadangan kas sekitar USD 123 miliar, serta kendali atas teknologi manufaktur canggih seperti 2nm TSMC. Namun, peluncuran kacamata pintar Apple baru diproyeksikan pada kuartal kedua 2027, dengan versi XR penuh pada 2028.
Dengan demikian, persaingan smart glasses bukan lagi sekadar soal perangkat keras, melainkan perebutan platform komputasi generasi berikutnya. Meta unggul dalam skala distribusi, Google pada ekosistem terbuka, sementara Apple masih bertumpu pada dominasi ekosistem lama.
Dalam persaingan sektor ini, keunggulan awal tampaknya ditentukan bukan oleh ukuran perusahaan, melainkan kecepatan membaca perubahan arah industri.