JawaPos.com — OpenAI tengah mengembangkan ponsel tanpa layar berbasis kecerdasan buatan, sebuah inisiatif yang berpotensi mengubah cara manusia berinteraksi dengan teknologi personal. Di tengah dominasi ponsel pintar selama dua dekade oleh Apple, Google, dan Microsoft, arah baru ini menandai upaya membangun platform alternatif yang tidak lagi bergantung pada layar.
Ambisi tersebut diperkuat lewat akuisisi perusahaan perangkat keras io Products senilai sekitar 6,5 miliar dolar AS (sekitar Rp 113 triliun dengan kurs Rp 17.390 per dolar AS), mencerminkan besarnya investasi sekaligus keseriusan pengembangan teknologi ini.
Dalam pengembangannya, OpenAI menggandeng Jony Ive—mantan perancang utama iPhone, iPod, dan iMac—yang kini terlibat langsung melalui kolaborasi dengan io Products. Keterlibatan Ive merupakan bagian dari upaya merancang bentuk baru perangkat komputasi personal berbasis kecerdasan buatan. Ironinya, sosok di balik iPhone kini justru terlibat dalam pengembangan teknologi yang berpotensi menggeser fondasi ponsel pintar itu sendiri.
Dilansir dari Vox News, Selasa (5/5/2026), perangkat yang tengah dikembangkan OpenAI ini “bukan ‘telepon’ dalam pengertian klasik”, melainkan “perangkat baru yang dibangun dari nol untuk Kecerdasan Buatan, sebuah objek yang tidak memiliki layar sebagai pusat pengalaman.” Penegasan ini menunjukkan arah perubahan mendasar dalam cara manusia berinteraksi dengan teknologi.
Selama hampir dua dekade, pengalaman digital bertumpu pada layar—melalui aplikasi, ikon, notifikasi, serta interaksi sentuhan. Namun, OpenAI justru mengambil pendekatan sebaliknya. “Dalam era AI, manusia tidak perlu melihat untuk bertindak,” tulis laporan tersebut. Sebagai gantinya, perangkat ini dirancang mengandalkan perintah suara, sensor, dan pemahaman konteks secara berkelanjutan.
Perubahan paling mendasar terletak pada fungsinya. “Mereka merespons. Perangkat ini dirancang untuk bertindak.” Artinya, ketika pengguna meminta mengirim email, menjadwalkan rapat, atau mencari informasi, sistem tidak lagi sekadar memberi arahan, tetapi langsung mengeksekusi tugas. Pergeseran ini mengubah paradigma dari “pencarian” menjadi “eksekusi” dalam interaksi manusia dengan teknologi.
Langkah OpenAI membangun perangkat keras sendiri juga mencerminkan strategi penguasaan ekosistem. Jika kecerdasan buatan hanya hadir sebagai aplikasi dalam ponsel pintar, kendali tetap berada pada platform lain melalui toko aplikasi, sistem operasi, dan pengaturan akses. Dengan mengintegrasikan perangkat keras, sistem, dan model AI, OpenAI berupaya mengambil alih kendali pengalaman pengguna secara menyeluruh—pendekatan yang selama ini menjadi kekuatan Apple.
Meski demikian, rekam jejak perangkat berbasis AI belum sepenuhnya berhasil. Produk seperti Humane AI Pin dan Rabbit R1 gagal mempertahankan daya tarik pasar. Namun, kondisi saat ini berbeda. Model seperti ChatGPT, Claude, dan Gemini dinilai telah mencapai tingkat kemampuan yang lebih matang untuk penggunaan nyata, sehingga membuka peluang bagi perangkat khusus AI.
Dalam konteks ini, peran Jony Ive menjadi signifikan. Dia dikenal tidak hanya sebagai perancang estetika, tetapi juga sebagai sosok yang mampu menciptakan produk yang terasa relevan dan intuitif sejak awal. OpenAI mencoba mengulang pendekatan tersebut—bukan menciptakan kecerdasan buatan, melainkan menghadirkannya dalam bentuk fisik yang benar-benar baru.
Sejumlah laporan industri menyebut perangkat ini kemungkinan berukuran kecil, portabel, bahkan dapat dikenakan, dengan interaksi fisik yang sangat minimal. Filosofinya berlawanan dengan ponsel pintar: bukan menyita perhatian pengguna, melainkan mendukung aktivitas secara nyaris tanpa disadari untuk menghemat waktu. Dalam dunia profesional, perangkat ini berpotensi menjadi mitra operasional—mampu memproses percakapan, mengelola informasi, hingga memperbarui sistem secara otomatis.
Namun, tantangan tetap besar. Produksi massal, distribusi global, pengembangan ekosistem, hingga kepercayaan konsumen menjadi faktor krusial. Nama Foxconn disebut sebagai mitra manufaktur potensial, menandakan ambisi perangkat ini tidak terbatas pada ceruk pasar. Peluncurannya diperkirakan berada dalam rentang 2026 hingga 2027.
Pada akhirnya, pertanyaan utamanya bukan sekadar kapan perangkat ini hadir, melainkan apakah masyarakat siap beralih dari ketergantungan pada layar ponsel. Jika ponsel pintar menghubungkan manusia dengan internet, maka perangkat yang dikembangkan OpenAI berpotensi menjadi penghubung langsung ke kecerdasan buatan.
***