JawaPos.com - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengingatkan adanya potensi risiko dari penggunaan kecerdasan buatan yang semakin meluas.
Menurutnya, ketergantungan berlebihan pada Artificial Intelligence (AI) mulai berdampak pada penurunan kemampuan berpikir kritis, baik di kalangan pelajar maupun profesional.
“Jangan sampai kita kehilangan daya kritis karena semua diserahkan kepada AI. Itu sudah mulai terjadi di dunia pendidikan,” ujar Wamen Nezar saat membuka Workshop AI Talent Factory 2 di Universitas Gadjah Mada, dikutip Minggu (19/4).
Baca Juga: Ramalan Zodiak Besok Senin 20 April 2026: Sagitarius, Capricorn, Aquarius, Pisces
Ia menekankan bahwa pengembangan talenta digital tidak cukup hanya berfokus pada aspek teknis semata. Generasi mendatang juga perlu memahami cara berinteraksi dengan AI secara bijak serta mampu mengendalikan penggunaannya.
Dalam pandangannya, pengembangan teknologi AI harus berorientasi pada manusia.
“Desain AI harus human-centric agar teknologi yang dikembangkan memberi dampak positif pada manusia. Dalam pengambilan keputusan, AI harus tetap menempatkan manusia sebagai pusat melalui pendekatan human in the loop,” jelasnya.
Nezar juga menyoroti tren penggunaan AI yang cenderung instan, yang berisiko melemahkan kemampuan analisis dan pertimbangan etis jika tidak diimbangi dengan kesadaran dalam penggunaannya.
Baca Juga: Ramalan Zodiak Besok Senin 20 April 2026: Leo, Virgo, Libra, Scorpio
Karena itu, ia menegaskan pentingnya kemampuan talenta digital untuk tetap mengkritisi dan mengevaluasi setiap hasil yang dihasilkan AI. Proses berpikir dan pengambilan keputusan, menurutnya, tidak boleh sepenuhnya diserahkan kepada mesin.
Di sisi lain, Nezar Patria juga mendorong pemanfaatan AI untuk menjawab berbagai tantangan nyata di sektor strategis, seperti pangan, energi, kesehatan, dan maritim. Pendekatan berbasis solusi dinilai penting agar teknologi dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Ambisi strategis diperlukan agar kita tidak hanya mengadopsi teknologi, tetapi mampu menggunakannya untuk menyelesaikan masalah nyata di sektor-sektor prioritas,” ujarnya.
Workshop AI Talent Factory 2 ini diikuti oleh 98 mahasiswa dan 28 dosen dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Program tersebut dirancang untuk mencetak talenta digital yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga mampu mengelola dan mengendalikan dampak dari penggunaan AI.