← Beranda
Meta Rilis Muse Spark, Model AI Baru yang Diklaim Lebih Cerdas dan Kontekstual
Rian AlfiantoJumat, 10 April 2026 | 03.22 WIB
Ilustrasi Meta AI. (Istimewa).

 

JawaPos.com - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) semakin mengarah pada pengalaman yang lebih personal dan kontekstual. Di tengah persaingan ketat industri AI global, Meta memperkenalkan model terbaru bernama Muse Spark, yang digadang-gadang menjadi fondasi baru bagi asisten digital masa depan.

Peluncuran ini menandai langkah awal Meta dalam membangun ekosistem personal superintelligence, yakni AI yang tidak hanya menjawab pertanyaan, tetapi juga memahami kebutuhan pengguna secara lebih mendalam dan real-time.

Model AI Baru yang Lebih Cepat dan Kompleks

Muse Spark diklaim merupakan model pertama dalam seri large language models (LLM) terbaru yang dikembangkan oleh Meta Superintelligence Labs. Model ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan Meta AI, baik dari sisi kecepatan, akurasi, maupun pemahaman konteks.

Baca Juga: Berkat 2 Video Musiknya, BLACKPINK Menjadi Artis K-Pop Pertama yang Raih 2,2 Miliar Penayangan di YouTube

Dalam pengembangannya, Meta menyebut telah merombak sistem AI mereka selama sembilan bulan terakhir untuk menciptakan fondasi yang lebih efisien. Hasilnya, Muse Spark mampu menangani pertanyaan kompleks di bidang seperti sains, matematika, hingga kesehatan.

Tak hanya itu, model ini juga mendukung penalaran tingkat lanjut dan kemampuan multimodal, memungkinkan AI memahami tidak hanya teks, tetapi juga gambar dan konteks visual.

Salah satu perubahan signifikan terlihat pada pembaruan Meta AI, yang kini mampu menjalankan beberapa sub-agent secara bersamaan.

Sebagai contoh, ketika pengguna merencanakan liburan, satu agen dapat menyusun itinerary, agen lain membandingkan destinasi, sementara agen ketiga mencari aktivitas yang sesuai. Semua proses ini berjalan paralel untuk menghasilkan jawaban yang lebih cepat dan komprehensif.

Pendekatan ini menjadi pembeda utama dibandingkan asisten AI konvensional yang umumnya bekerja secara linear.

Muse Spark juga membawa peningkatan besar dalam kemampuan multimodal. Meta AI kini dapat memahami gambar yang diambil pengguna, lalu memberikan analisis atau rekomendasi secara langsung.

Misalnya, pengguna cukup memotret makanan untuk mengetahui kandungan nutrisinya, atau memindai produk untuk membandingkan alternatif terbaik tanpa perlu mencari manual.

Kemampuan ini bahkan dirancang untuk terintegrasi dengan perangkat seperti kacamata AI, yang memungkinkan asisten digital memahami lingkungan sekitar pengguna secara real-time.

Menariknya, tak hanya fokus pada produktivitas, Meta juga mengintegrasikan Muse Spark ke dalam pengalaman sosial dan gaya hidup di platformnya seperti Instagram, Facebook, dan Threads.

Baca Juga: 7 Bahasa Tubuh Perempuan yang Diam-diam Menunjukkan Sedang Jatuh Cinta, Menurut Psikologi

Meta AI kini dapat membantu pengguna memilih outfit, mencari inspirasi desain interior, hingga merekomendasikan hadiah. Bahkan, rekomendasi yang diberikan diambil dari konten kreator dan komunitas yang relevan dengan preferensi pengguna.

Untuk pencarian tempat atau tren, AI juga akan menampilkan konteks tambahan dari unggahan pengguna lain, sehingga hasilnya terasa lebih autentik dan berbasis pengalaman nyata.

Saat ini, Muse Spark sudah digunakan di aplikasi dan situs Meta AI, dan akan segera diperluas ke berbagai platform lain seperti WhatsApp dan Messenger.

Meta juga berencana membuka akses teknologi ini kepada mitra terpilih melalui API dalam skema private preview, sekaligus mengembangkan model generasi berikutnya yang lebih besar.

Peluncuran Muse Spark menjadi sinyal bahwa Meta tidak hanya ingin bersaing di ranah AI, tetapi juga membangun ekosistem yang terintegrasi langsung dengan kehidupan digital penggunanya.

Dengan pendekatan yang semakin personal dan kontekstual, Meta tampaknya tengah mendorong batas baru: AI yang bukan sekadar alat, melainkan asisten yang benar-benar memahami dunia penggunanya.

EDITOR: Sabik Aji Taufan