← Beranda
Ribut-ribut Sistem Rating Game, Ketahui Perbedaan IGRS vs ESRB vs PEGI
Rian AlfiantoSenin, 6 April 2026 | 19.58 WIB
Ilustrasi bermain game online di PC. (pixabay).

 

JawaPos.com - Perdebatan soal Indonesia Game Rating System (IGRS) masih tinggi. Di tengah kritik yang ramai di media sosial, muncul satu pertanyaan besar dari kalangan gamer: bagaimana sebenarnya posisi IGRS jika dibandingkan dengan sistem rating global seperti ESRB dan PEGI?

Pertanyaan ini wajar muncul, terutama setelah berbagai kejanggalan rating. Hal tersebut banyak ditemukan di platform seperti Steam.

Banyak gamer merasa, untuk memahami masalah IGRS, perlu melihat bagaimana sistem serupa bekerja di negara lain. Apalagi saat IGRS dinilai tidak jelas, tidak sesuai rating dengan judul dan konten game yang diberikan rating.

Seperti sudah diulas sebelumnya, IGRS sendiri merupakan sistem klasifikasi usia yang dibuat oleh Kementerian Komunikasi dan Digital dan mulai diwajibkan pada 2026. Secara konsep, sistem ini sebenarnya tidak berbeda jauh dari standar internasional.

Game dibagi berdasarkan kelompok usia, mulai dari 3+ hingga 18+, dengan tujuan membantu pemain dan orang tua memahami konten yang akan dimainkan.
Namun, di sinilah letak perbedaannya mulai terasa.

Dalam praktiknya, IGRS saat ini masih sangat bergantung pada sistem klasifikasi mandiri dari pengembang. Artinya, developer mengisi sendiri penilaian konten game mereka sebelum diverifikasi pemerintah.

Masalahnya, proses verifikasi ini belum sepenuhnya berjalan, sehingga banyak rating yang muncul belum final, dan dalam beberapa kasus, justru membingungkan.

Bandingkan dengan ESRB, sistem rating yang digunakan di Amerika Utara sejak 1994. ESRB tidak hanya memberikan label usia seperti 'Everyone' atau 'Mature 17+', tetapi juga menjelaskan secara rinci alasan di balik rating tersebut, misalnya, apakah sebuah game mengandung kekerasan intens, bahasa kasar, atau unsur seksual.

Lebih dari itu, proses penilaiannya pun tidak sederhana. Pengembang harus mengirimkan kuesioner detail beserta cuplikan gameplay paling ekstrem. Materi ini kemudian dinilai oleh beberapa evaluator independen sebelum diputuskan rating akhirnya.

Bahkan setelah game dirilis, ESRB masih bisa melakukan pengecekan ulang untuk memastikan tidak ada informasi yang disembunyikan.

Pendekatan ini membuat sistem ESRB terasa lebih transparan dan bisa dipercaya, karena pemain tidak hanya melihat angka, tetapi juga memahami konteksnya.

Sementara di Eropa, pendekatan serupa juga diterapkan melalui PEGI. Sistem yang digunakan di lebih dari 40 negara ini juga membagi game berdasarkan usia, mulai dari 3 hingga 18 tahun.

Namun yang membuat PEGI menonjol adalah penggunaan ikon-ikon deskripsi konten.

Lewat ikon tersebut, pemain bisa langsung tahu apakah sebuah game mengandung kekerasan, bahasa kasar, perjudian, atau bahkan diskriminasi. Informasi ini disajikan secara visual, sehingga mudah dipahami bahkan oleh orang tua yang tidak terlalu familiar dengan dunia game.

Menariknya, PEGI juga terus beradaptasi dengan perkembangan industri. Mulai 2026, mereka memperbarui sistem dengan memasukkan faktor-faktor baru seperti loot box, pembelian dalam game, hingga risiko interaksi online tanpa moderasi, artinya, yang dinilai bukan hanya isi game, tetapi juga bagaimana game itu dimainkan.

Menanggapi banyaknya kontra atas implementasi IGRS yang masih kacau tersebut, pemerintah dalam hal ini Komdigi melalui laman resmi IGRS mengeluarkan klarifikasi pada Minggu siang (5/4). Komdigi menyebut bahwa klasifikasi IGRS yang berlaku belum bersifat final, karena mereka sendiri masih belum melakukan verifikasi terhadap klasifikasi tersebut.

"Komdigi akan meminta klarifikasi resmi dari Steam dan melakukan pembahasan lebih lanjut mengenai dasar hukum implementasi rating, mekanisme pemantauan, prosedur penyesuaian, dan cara tata pelaporan IGRS untuk layanan tersebut," jelas Komdigi.

Sementara itu, Valve melalui layanan panduan Steamworks sebenarnya telah memiliki klarifikasi mengenai implementasi awal IGRS pada Maret lalu, dan menyebut bahwa implementasi tahap awal akan dilakukan secara otomatis sesuai data yang saat ini dimiliki.

Namun pengembang dan distributor video game nantinya tetap akan diminta mengisi klasifikasi mandiri IGRS.

"Selama beberapa minggu kedepan kami akan mengeluarkan rating sesuai survei pengembang yang sebelumnya telah diisi, dan kami rasa data survei yang ada telah memenuhi persyaratan peredaran di Indonesia. Namun bagi mereka yang belum mengisi survei atau belum melakukan pembaruan survei, kami berhak meminta informasi dan data tambahan agar produk Anda dapat diedarkan," bunyi pernyataan Valve.

EDITOR: Estu Suryowati