← Beranda
Siswa Surabaya Bikin Robot Pendeteksi Korban Bencana, Raih Emas Internasional
Ardini Pramitha• Rabu, 14 Oktober 2026 | 00.23 WIB
Inovasi robot prototipe bernama A.W.A.R.E BOT (Advanced Warning and Rescue) rancangan lima siswa SMP AL Azhar 13 Surabaya berhasil meraih medali emas dalam kompetisi internasional. (dok. Nismara Rukmi Shadina) 

JawaPos.com – Lima siswa SMP Islam Al-Azhar 13 Surabaya meraih medali emas dalam ajang Indonesia Inventors Day (IID) 2026.

Itu berkat inovasi robot prototipe bernama A.W.A.R.E BOT (Advanced Warning and Rescue), yang dirancang untuk membantu tim penyelamat mendeteksi keberadaan korban di lokasi bencana.

Lima siswa yang tergabung dalam kelompok Tim Stay Aware ini diketuai Nismara Rukmi Shadina, dengan anggota Alzena Kayla Prajatara, Ameera Maylova Danesha Athaya, Keyaan Anargya Afrianto, dan Airlangga Arkananta Rasendriya.

Dalam kompetisi internasional yang berlangsung pada 3–6 Oktober 2026 di SMESCO Indonesia, Jakarta, tim Stay Aware bersaing dengan peserta dari sejumlah negara, termasuk Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Indonesia. 

Baca Juga: Siswa SDN Semolowaru IV Surabaya Belajar Lesehan di Lantai, Eri Cahyadi Minta Maaf

Mereka berkompetisi dalam kategori IoT and Applications untuk kelompok usia sekitar 13–15 tahun.

Ketua tim Stay Aware Nismara Rukmi Shadina, menjelaskan bahwa A.W.A.R.E BOT dikembangkan untuk membantu tim Search and Rescue (SAR) menemukan korban yang sulit dijangkau atau tertimbun reruntuhan bangunan setelah bencana.

Menurut dia, keberadaan korban tidak selalu mudah diketahui secara visual, terutama ketika tubuhnya tertutup material bangunan.

Karena itu, diperlukan teknologi yang dapat membantu petugas memperoleh informasi awal mengenai lokasi korban.

“Kami membuat A.W.A.R.E BOT untuk membantu tim SAR mendeteksi keberadaan korban menggunakan sensor, sehingga proses pencarian bisa lebih terbantu,” kata Nismara, Selasa (13/10/2026).

Baca Juga: 2 Pekerja Terjepit Tumpukan Besi di Ngagel Surabaya, Dilarikan ke RSUD Dr Soetomo

Robot tersebut dilengkapi sejumlah perangkat pendeteksi, di antaranya sensor termal untuk membaca suhu, sensor radar untuk membantu mengidentifikasi indikasi keberadaan manusia, serta kamera untuk menampilkan kondisi di sekitar lokasi pencarian.

Informasi yang dikumpulkan melalui perangkat tersebut dapat dipantau operator menggunakan sistem kendali dan dasbor robot. 

"Data itu kemudian menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan area yang perlu diperiksa lebih lanjut oleh petugas penyelamat," katanya. 

Dalam pengoperasiannya, robot dikendalikan dari jarak tertentu. Ketika sensor menunjukkan indikasi keberadaan korban, operator dapat mengarahkan robot ke titik tersebut untuk membantu memberikan informasi awal sebelum petugas melakukan evakuasi.

Meski demikian, A.W.A.R.E BOT masih berupa prototipe yang membutuhkan pengembangan lebih lanjut. 

Baca Juga: Semburan di Samping Tol Dupak Surabaya Dipastikan Bukan Lumpur, Tetapi Pipa Air Bocor

Berdasarkan pengujian internal tim, jangkauan operasional robot saat ini berkisar 30–50 meter.

Nismara mengatakan, pengembangan berikutnya akan difokuskan pada peningkatan akurasi sensor, perluasan jangkauan operasional, serta penyempurnaan sistem.

“Agar bisa lebih bermanfaat dalam membantu proses penyelamatan korban bencana,” ujarnya.

Selain untuk mendeteksi keberadaan korban, tim Stay Aware juga berencana menambahkan fitur yang memungkinkan robot membawa perlengkapan pertolongan pertama atau first aid kit.

Pada tahap pengembangan selanjutnya, robot tersebut diharapkan dapat dilengkapi tempat penyimpanan makanan dan minuman darurat.

Baca Juga: Langgar Aturan, 64 Unit Rusunawa di Surabaya Utara Disegel Pemkot

Dengan begitu, korban berpotensi memperoleh bantuan awal sembari menunggu kedatangan petugas penyelamat.

Dari sisi teknologi, A.W.A.R.E BOT menggunakan mikrokontroler Arduino yang dipadukan dengan sistem pemrograman yang dikembangkan para siswa. 

Sejumlah komponen elektronik, termasuk sensor, dibeli melalui toko daring. Sementara itu, proses perancangan, perakitan, pemasangan sensor, hingga pengembangan sistem dilakukan sendiri oleh anggota tim.

Nismara mengungkapkan, salah satu tantangan dalam pembuatan robot tersebut adalah biaya pengadaan komponen, terutama sensor radar yang relatif mahal.

“Komponen sensornya memang kami beli, tetapi robotnya kami rancang dan rakit sendiri. Kami juga mengembangkan sistem pemrogramannya. Tantangannya salah satunya pada biaya sensor radar, karena komponen tersebut cukup mahal,” tuturnya.

Baca Juga: Hiperhu Usul Diskotek Baru di Surabaya Diarahkan ke Kawasan Komersial

Bagi Nismara dan rekan-rekannya, raihan medali emas dalam kompetisi internasional tersebut menjadi motivasi untuk terus menyempurnakan inovasi mereka. 

Harapannya, A.W.A.R.E BOT tidak hanya menjadi karya untuk kompetisi, tetapi juga berpotensi dikembangkan sebagai perangkat pendukung operasi pencarian dan penyelamatan.

“Kami berharap A.W.A.R.E BOT tidak berhenti sebagai prototipe untuk lomba saja. Kami ingin terus mengembangkannya supaya suatu saat bisa membantu tim SAR menemukan korban dengan lebih cepat dan memberikan kesempatan lebih besar bagi korban untuk segera mendapatkan pertolongan,” pungkas Nismara.

EDITOR: Bayu Putra