JawaPos.com – Perkembangan dunia estetika medis membuat pilihan perawatan yang tersedia bagi masyarakat semakin beragam. Mulai dari tindakan berbasis laser, filler, hingga berbagai teknologi terbaru terus bermunculan. Namun, di balik tren tersebut, dokter diingatkan bahwa keselamatan pasien harus tetap menjadi prioritas utama.
Hal itu menjadi salah satu perhatian dalam East Java Seminar and Workshop in Aesthetic Medicine (EaSWAM) 2026 yang berlangsung di Surabaya pada 25-27 September. Forum ilmiah tersebut diikuti sekitar 500 peserta yang terdiri atas dokter estetika, dokter kulit, dan dokter bedah plastik dari berbagai daerah di Indonesia.
Selain itu, sekitar 100 perusahaan yang bergerak di bidang aesthetic medicine turut berpartisipasi dalam pameran yang digelar bersamaan dengan acara tersebut.
Scientific Director SWAM dr. Kevin Stefano mengatakan bahwa peningkatan kompetensi dokter menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan seiring pesatnya perkembangan teknologi dan prosedur estetika. Menurut dia, dokter tidak hanya dituntut memahami teknik terbaru, tetapi juga mampu mengenali risiko yang dapat muncul pada pasien.
"Tujuan seminar ini meningkatkan kemampuan dokter yang bergelut di bidang estetika medis menjadi lebih baik. Kemudian yang kedua, memiliki kewaspadaan terhadap segala macam bentuk komplikasi dan tindakan pencegahan tentunya terhadap hal-hal yang tidak diinginkan jika terjadi kepada pasien," ujarnya.
Dalam praktik estetika medis, tantangan yang dihadapi dokter saat ini tidak lagi sekadar memilih prosedur terbaru. Kemampuan melakukan penilaian kondisi pasien, menentukan tindakan yang sesuai, hingga mengantisipasi kemungkinan komplikasi menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan klinis.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu fokus yang diangkat dalam EaSWAM 2026 melalui tema The Patient in Front of You – Aesthetic Medicine That Listens.
Berbagai materi yang dibahas dalam forum tersebut juga menyoroti aspek keselamatan pasien. Mulai dari pemahaman anatomi yang aman pada tindakan filler dan thread lift hingga pembahasan kondisi serius yang berpotensi terjadi dalam praktik estetika medis. Tujuannya agar dokter dapat mengenali risiko lebih dini sekaligus memberikan respons yang tepat apabila terjadi komplikasi.
Selain sesi seminar, peserta juga mengikuti berbagai demonstrasi langsung yang tidak hanya memperlihatkan prosedur estetika, tetapi juga proses penilaian pasien sebelum tindakan dilakukan. Melalui pendekatan tersebut, dokter diharapkan dapat memahami bahwa keberhasilan suatu perawatan tidak hanya bergantung pada teknologi yang digunakan, melainkan juga pada ketepatan diagnosis dan pemilihan tindakan.
Kevin menambahkan, peningkatan kemampuan dokter pada akhirnya bertujuan memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. Karena itu, forum pendidikan berkelanjutan dinilai penting untuk menjaga kualitas praktik kedokteran estetika di Indonesia. "Untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat," katanya.
Ke depan, dia berharap kedokteran estetika di Indonesia terus berkembang dan mampu bersaing di tingkat internasional, seiring meningkatnya kualitas sumber daya manusia dan standar pelayanan yang diberikan kepada pasien. "Harapannya supaya kedokteran estetika di Indonesia dapat menjadi lebih maju dan dapat bersaing di dunia global," tuturnya.