JawaPos.com - Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) membuka kembali akses kampus untuk mengembalikan aktivitas akademik. Namun, mahasiswa memastikan blokade gedung rektorat tetap berlanjut sampai ada kepastian mengenai rektor definitif.
Pembukaan akses kampus ini setelah Kementerian Agama mencopot Akh Muzakki dari jabatan rektor dan digantinya oleh pelaksana tugas (Plt). Wakil Ketua DEMA UINSA Fadlurrakhman Fazle mengatakan pembukaan segel akses kampus dilakukan agar kegiatan perkuliahan dan pelayanan mahasiswa dapat kembali berjalan.
"Kami memutuskan untuk membuka segel pada akses kampus sebagai bentuk komitmen mahasiswa untuk mengembalikan kegiatan akademik, perkuliahan, pelayanan mahasiswa, serta aktivitas civitas akademika agar dapat berjalan kembali secara normal,” kata Ale sapaan akrab Fadlurrakhman Fazle saat konferensi pers Minggu (27/9).
Menurutnya, keputusan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab mahasiswa terhadap keberlangsungan pendidikan di UINSA. Dia menegaskan, polemik kepemimpinan tidak seharusnya berdampak pada hak mahasiswa untuk memperoleh pelayanan pendidikan.
"Kami tidak ingin polemik kepemimpinan berlarut-larut mengorbankan hak mahasiswa untuk memperoleh pelayanan pendidikan dan menjalankan aktivitas akademiknya,” ujarnya.
Meski akses kampus telah dibuka, mahasiswa belum menghentikan seluruh bentuk pengawalan. Gedung rektorat UINSA masih akan diblokade hingga terdapat kepastian mengenai rektor definitif. "Gedung ini akan tetap kami blokade sampai terdapat kepastian rektor definitif,” tegasnya.
Ale mengatakan blokade gedung rektorat merupakan bentuk pengawalan mahasiswa terhadap persoalan kepemimpinan UINSA. Menurut dia, pergantian pejabat rektor menjadi pelaksana tugas belum menyelesaikan persoalan kepemimpinan di kampus tersebut.
"DEMA UINSA beserta seluruh organisasi dan elemen mahasiswa tetap akan mempertahankan pengawalan dan blokade terhadap gedung rektorat sebagai simbol bahwa persoalan kepemimpinan UINSA belum selesai hanya dengan pergantian pejabat dari rektor menjadi pelaksana tugas,” katanya.
Mahasiswa juga meminta adanya kepastian mengenai proses pemilihan dan penetapan rektor definitif, termasuk tahapan, jadwal, serta mekanisme yang akan digunakan. "Kami membutuhkan kepastian mengenai proses, tahapan, jadwal, serta mekanisme pemilihan dan penetapan rektor definitif UIN Sunan Ampel Surabaya,” ujar Fadlurrakhman.
Ale memastikan aksi pengawalan tersebut dilakukan dengan tetap menjaga ketertiban dan keamanan. DEMA UINSA juga menyatakan tidak akan melakukan tindakan perusakan selama aksi berlangsung.
"Dalam pelaksanaannya, kami tetap berkomitmen menjaga ketertiban, keamanan, kami tidak akan melakukan tindakan perusakan, serta kami juga akan memberikan akses bagi keadaan darurat dan kepentingan yang secara objektif bersifat mendesak,” tuturnya.
Ale menegaskan, pembukaan akses kampus bukan berarti perjuangan mahasiswa terkait polemik kepemimpinan UINSA telah berakhir."Pembukaan kampus tidak dapat kami maknai sebagai berakhirnya perjuangan mahasiswa untuk per hari ini,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, mahasiswa UINSA kompak menutup pintu masuk utama kampus sebagai bentuk protes terpilihnya Akh Muzakki menjadi rektor untuk periode kedua. Mereka menolak UINSA dipimpin kembali Muzakki karena dinilai banyak kemunduran saat menjabat pada periode pertamanya. Bahkan, Muzakki diduga melakukan tindak pidana korupsi.