← Beranda
Hampir 10 Tahun Dampingi 500 ODGJ, Polisi Lamongan Ini Kembali Kuliah Magister Psikologi
Ardini Pramitha• Jumat, 25 September 2026 | 04.25 WIB
Polisi asal Lamongan Purnomo yang terkenal merawat ODGJ kini dalami ilmu psikologi di Unesa. (Humas Unesa)

JawaPos.com - Selama hampir 10 tahun, Ipda Purnomo atau yang akrab disapa Pak Pur aktif mendampingi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan kelompok rentan di Lamongan.

Setelah membantu hampir 500 ODGJ, polisi tersebut kini kembali ke bangku kuliah untuk memperdalam ilmu Psikologi di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Bagi Pak Pur, keputusan mengambil Magister Psikologi bukan sekadar mengejar gelar.

Pengalaman mendampingi masyarakat membuatnya merasa perlu memiliki dasar keilmuan yang lebih kuat agar pendekatan yang selama ini dilakukan di lapangan dapat semakin tepat dan profesional.

Pengalaman panjang tersebut membuatnya menyadari bahwa pendekatan kemanusiaan saja perlu diperkuat dengan landasan keilmuan yang memadai.

“Manusia itu wajib menuntut ilmu sampai kapan pun. Setiap hari saya bertemu dengan orang-orang yang membutuhkan tempat curhat dan konseling,” kata Pak Pur saat ditemui di sela aktivitas perkuliahannya di Unesa. 

Selama ini, sebagian pengetahuan yang digunakannya dalam mendampingi para penerima manfaat diperoleh secara otodidak maupun dari pengalaman di lapangan.

Karena itu, ia merasa perlu memperdalam Psikologi melalui pendidikan formal.

“Selama ini saya mendapatkan ilmu secara otodidak, sehingga saya merasa harus memiliki dasar ilmu Psikologi yang kuat dan teruji,” ujarnya.

Kesibukan sebagai mahasiswa kini harus dijalani bersamaan dengan tugasnya sebagai anggota Polri dan aktivitas sosial melalui Yayasan Berkas Bersinar Abadi di Desa Nguwok, Kecamatan Modo, Lamongan.

Melalui yayasan tersebut, Pak Pur bersama timnya memberikan tempat perlindungan dan pendampingan bagi sejumlah kelompok rentan.

Layanannya mencakup empat klaster, yakni ODGJ, lansia terlantar, anak terlantar, serta rehabilitasi bagi penyintas penyalahgunaan narkoba.

Menurut Pak Pur, bertambahnya kebutuhan masyarakat membuat pengelolaan layanan sosial harus terus berkembang.

Ia ingin pengalaman yang selama ini dibangun di lapangan dapat berjalan beriringan dengan pengetahuan psikologi yang lebih sistematis.

“Harapan saya, setelah mendapatkan ilmu di sini semakin bermanfaat dampak pengabdian kami bagi masyarakat. Ilmu ini nantinya wajib saya tularkan kepada tim pendamping dan masyarakat,” tegasnya.

Untuk menjalani tiga tanggung jawab sekaligus, Pak Pur mengaku telah memperoleh izin dari pimpinan kepolisian. Ia juga mendapat dukungan dari tim yang selama ini membantu menjalankan aktivitas yayasan.

Tak berhenti pada dirinya sendiri, ia bahkan mengajak istrinya untuk menempuh pendidikan di Unesa.

Langkah itu diharapkan dapat memperkuat kapasitas keluarga dalam menjalankan berbagai kegiatan sosial.

Pak Pur juga memiliki rencana mendorong sekitar 30 anggota tim yayasan untuk mempelajari ilmu Psikologi. Menurutnya, peningkatan kapasitas pendamping menjadi bagian penting agar layanan kepada kelompok rentan semakin profesional.

Bagi Pak Pur, bangku kuliah merupakan bagian dari proses pengabdian. Pengalaman di lapangan memberinya pelajaran tentang persoalan kemanusiaan, sementara pendidikan formal diharapkan memberinya bekal ilmiah untuk menangani persoalan tersebut dengan pendekatan yang lebih tepat.

“Pendidikan bukan hanya soal gelar. Ini investasi kemanusiaan agar proses merawat dan memanusiakan kelompok rentan bisa dilakukan dengan lebih bermakna dan profesional,” pungkasnya.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra