← Beranda
Anggota Komisi VIII DPR Desak Menag Tinjau Penunjukan Rektor UINSA 2026-2030
Dadang Kurnia• Selasa, 22 September 2026 | 01.43 WIB
Mahasiswa UINSA menggelar aksi unjuk rasa menolak pelantikan Rekyor Akh. Muzakki, Rabu (16/9). (Dadang Kurnia/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Anggota Komisi VIII DPR RI, Dini Rahmania meminta Menteri Agama Nasaruddin Umar mengevaluasi pemilihan Prof. Akh Muzakki sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya 2026-2030.

Desakan tersebut disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Forum Komunikasi untuk Perubahan (FKUP) UINSA Surabaya yang digelar Senin (21/9).

Menurut Dini, evaluasi perlu dilakukan setelah munculnya gelombang aksi penolakan terhadap Prof. Muzakki dari mahasiswa UINSA Surabaya beberapa hari terakhir.

"Kami minta Menteri Agama melakukan evaluasi menyeluruh, secara obyektif dan transparan terhadap pengangkatan rektor UINSA," katanya.

Baca Juga: Mahasiswa UINSA Surabaya Kembali Duduki Gedung Rektorat, Tolak Rektor Baru

Menurutnya, pemimpin perguruan tinggi tidak hanya membutuhkan legitimasi formal.

Seorang rektor, ujarnya, juga butuh penerimaan dan tingkat kepercayaan yang memadai dari civitas akademik agar proses pendidikan di kampus berjalan sebagaimana mestinya.

Ia melanjutkan, jika dalam evaluasi yang dilakukan Kementerian Agama terdapat pelanggaran aturan, maka pergantian Rektor UINSA sesuai aturan perundang-undangan yang berlaku bukan mustahil untuk dilakukan.

"Saya mendukung proses pergantian sesuai aturan hukum yang berlaku," terangnya.

Menurut Dini, gelombang penolakan sang rektor yang disuarakan mahasiswa penting untuk segera disikapi demi menjaga marwah perguruan tinggi Agama Islam.

Baca Juga: Mahasiswa UINSA Segel Dua Gerbang, Akses Dialihkan ke Pintu Belakang

Sebagaimana diketahui, sejak Rabu (16/9) gelombang aksi penolakan Prof. Akh Muzakki sebagai Rektor UINSA Surabaya terus bergulir.

Kelompok mahasiswa dari berbagai fakultas menggelar aksi menduduki rektorat, membakar ban bekas, hingga menyegel pintu gerbang kampus.

Rangkaian aksi mahasiswa ini pun membuat aktivitas belajar mengajar di kampus UINSA lumpuh.

 

EDITOR: Bayu Putra