← Beranda
Pemkot Surabaya Pasang Alat Deteksi Gempa Untuk Antisipasi Seser Aktif
Ardini PramithaKamis, 17 September 2026 | 23.52 WIB
Kepala BPBD Kota Surabaya Irvan Widyanto. (Diskominfo Surabaya)

JawaPos.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya akan memasang empat sampai lima alat pendeteksi gempa bumi (seismograf) tahun 2026. 

Pemasangan ini sebagai upaya mitigasi untuk mengawasi pergerakan dua jalur patahan (sesar) aktif yang melintasi wilayah Kota Surabaya.
 
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya Irvan Widyanto menjelaskan alat yang akan digunakan adalah Raspberry Shake (RS6D). 

Alat ini diusulkan oleh tim geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang dipimpin oleh Prof. Amien Widodo. 
 
Alasan memilih RS6D karena memiliki sejumlah keunggulan teknis serta efisiensi anggaran untuk area perkotaan. 

Hal ini menjadi solusi alternatif yang jauh lebih ekonomis dibandingkan instrumen seismik konvensional tanpa mengurangi kualitas data profesional. 

"Alatnya yang berukuran kecil juga memudahkan penempatan di area kota yang terbatas,” kata Irvan, Kamis (17/9). 

Keunggulan lainnya adalah mampu merekam getaran dari gempa skala kecil hingga gempa kuat. Alat ini juga dilengkapi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) ini, dapat merekam data secara instan tanpa jeda. 
 
Secara ideal, Kota Surabaya membutuhkan sekitar 14 stasiun pemancar untuk mengcover seluruh area. Untuk tahap awal di tahun ini, Pemkot Surabaya memprioritaskan pemasangan 4 hingga 5 unit terlebih dahulu. 

"Pemasangan akan diutamakan berada di ruang-ruang publik atau perkantoran yang memiliki jaringan internet stabil,” kata Irvan. 
 
Irvan mengungkapkan bahwa pemasangan seismograf ini dilakukan sebagai langkah mitigasi bencana di Kota Pahlawan, serta mendorong kesadaran setiap individu masyarakat agar mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan saat gempa terjadi.
 
“Dengan pemasangan alat ini, kami juga ingin membangun sistem peringatan dini melalui pemantauan harian yang nantinya akan diintegrasikan dengan pusat kendali, Command Center 112,” imbuhnya. 
 
Pakar Geologi, Dr. Ir. Amien Widodo, M.Si, menjelaskan bahwa kedua patahan ini memiliki karakteristik patahan naik (thrust fault). 

Aktivitas geologis ini ditandai dengan adanya dorongan dari bawah permukaan bumi yang secara perlahan mengangkat lapisan tanah dan membentuk bukit-bukit memanjang di wilayah kota.
 
Sebagai langkah mitigasi bencana, dalam hasil survei menegaskan pentingnya pemantauan (monitoring) secara terus-menerus. 

Rencana saat ini, sejumlah instrumen seismograf akan dipasang di berbagai titik di sekitar patahan dan wilayah Kota Surabaya.
 
"Pemasangan alat-alat seismograf ini sangat diperlukan untuk memonitor pergerakan sesar secara real-time. Dengan mengetahui tingkat keaktifannya, kita dapat terus bersiaga dan meningkatkan kewaspadaan apabila sewaktu-waktu terjadi pergerakan yang lebih
signifikan," tutupnya.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra