← Beranda
Tak Kunjung Ditemui Rektor, Mahasiswa UINSA Ancam Demo Berjilid-jilid
Dadang KurniaKamis, 17 September 2026 | 20.05 WIB
Mahasiswa UINSA Surabaya menggelar aksi bakar ban sebagai bentuk protes atas dilantiknya kembali Prof. Akh Muzakki sebagai rektor, Kamis (17/9). (Dadang Kurnia/ JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Massa mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya mengancam akan terus melakukan aksi unjuk rasa sampai mereka ditemui langsung Rektor Prof. Akh Muzakki.

Koordinator Aksi, Koko Prasetyo, menegaskan bahwa kehadiran rektor yang baru dilantik untuk periode kedua tersebut sangat ditunggu guna mendengarkan langsung rentetan tuntutan mahasiswa.

"Harapan kami Prof. Muzakki dapat menemui kami. Karena kalau tidak, ya kami akan terus melakukan aksi," tegas Koko di sela-sela demonstrasi di kampus UINSA I, Wonocolo, Surabaya, Rabu (16/9).

Koko menegaskan, pihaknya masih membawa tuntutan 7+1 dalam aksi yang digelar hari ini. Isi tuntutan di antaranya mendesak Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya dicopot atau mengundurkan diri.

Baca Juga: Terbukti Pungli, 2 Pegawai P3K Paruh Waktu DLH Surabaya Diberhentikan

Kemudian, mendesak pimpinan UIN Sunan Ampel Surabaya memberikan pernyataan publik terkait PPID yang baru terbentuk pada 2025. Ia menyebut selama tiga tahun UINSA mengabaikan mandat UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik yang mereka kaitkan dengan dugaan korupsi.

Tuntutan selanjutnya, mendesak pengusutan kasus Kopertais yang melibatkan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya sebagai terlapor, menuntut klarifikasi dan tenggat waktu terkait keterlambatan pembagian buku, KTM, dan almamater mahasiswa baru, menuntut pertanggungjawaban atas penerimaan mahasiswa baru yang dinilai terlalu banyak sehingga berdampak pada keterbatasan fasilitas kampus.

Mereka juga mendesak penghapusan kebijakan jam malam yang dinilai tidak pro terhadap kebutuhan nonakademik mahasiswa, menuntut pertanggungjawaban atas kebijakan penentuan UKT mahasiswa baru yang dinilai tidak berpihak kepada mahasiswa menengah ke bawah, serta mendesak penghapusan mekanisme peminjaman tempat yang dinilai selalu dipersulit.

Koko mencontohkan beberapa kebijakan yang dinilai menyengsarakan di masa kepemimpinan Prof Muzakki. Seperti beban UKT yang mahal bagi mahasiswa baru, hingga persoalan gedung perpustakaan kampus yang dibiarkan mangkrak tak terurus.

"Sebelumnya Muzakki sudah didemo sama mahasiswa, aliansi mahasiswa UINSA, ya karena perpustakaan yang mangkrak. Tapi tidak pernah digubris, lah sekarang malah menjadi rektor kembali," ujarnya.

EDITOR: Sabik Aji Taufan