JawaPos.com - Ratusan mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya melakukan aksi demonstrasi menolak Akh. Muzakki kembali menjabat sebagai rektor. Mereka menggeruduk gedung rektorat, Rabu (16/9).
Alasan penolakan itu karena mereka menilai selama memimpin UINSA,
Muzakki belum membawa perubahan yang baik bagi mahasiswa dan juga kampus.
Demonstrasi ini digelar setelah
Muzakki dilantik sebagai Rektor UINSA periode 2026-2030 oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar pada Selasa (15/9).
Massa aksi yang mengenakan pakaian serba hitam langsung datang di depan kampus. Mereka membawa sejumlah banner dan poster yang berisi kritikan dan tuntutan.
Satu persatu massa aksi melakukan orasi secara bergantian di depan kampus. Mereka juga melakukan aksi membakar ban di depan kampus, sementara sejumlah mahasiswa duduk di aspal di tengah cuaca panas.
Aksi tersebut membuat ruas jalan di depan kampus menyempit, tetapi kendaraan seperti mobil, sepeda motor, hingga Suroboyo Bus masih dapat melintas.
Massa awalnya hanya dapat menyampaikan aspirasi dari balik pagar karena gerbang rektorat ditutup dan dijaga petugas keamanan kampus.
Setelah lebih dari satu jam berorasi tanpa ditemui pihak rektorat, massa kemudian mendobrak pagar dan terjadi aksi saling dorong. Mahasiswa berusaha masuk ke gedung rektorat untuk menyampaikan tuntutan secara langsung kepada pihak kampus.
Salah satu mahasiswa Micle menjelaskan alasan menolak Muzakki kembali menahkodai UINSA adalah karena beberapa persoalan. Mulai, persoalan dana, jas almamater mahasiswa baru, hingga biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT).
"Menolak Muzzaki jadi rektor lagi karena banyak masalah, seperti uang tiba-tiba menghilang, jas untuk maba katanya baru 50 persen jadi atau 3.000 jas almamater, bahkan UKT banyak yang mahal. Kalau saya kena UKT Rp 7 juta maba dari FEBI," ujar Micle.
Hal senada juga disampaikan mahasiswa baru Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Alex. Dia mengatakan sejak masuk menjadi mahasiswa baru, buku atau bahan pembelajaran dari fakultas yang menurutnya hingga kini belum diterima.
"Buku belum, kayak buku LKS dari fakultas itu belum sampai sekarang. Maunya mengganti atau membatalkan Rektor Muzzaki," tambah Alex, maba dari FEBI.
Aspirasi tersebut menjadi bagian dari kritik mahasiswa terhadap pelayanan yang mereka rasakan di lingkungan kampusz
Dalam aksi kali ini, mahasiswa menggabungkan sejumlah persoalan tersebut dengan tuntutan penolakan terhadap Muzakki sebagai rektor.
Selain membakar ban, situasi aksi juga diwarnai pecahnya sebuah pot bunga yang kemudian diletakkan di depan kaca pintu masuk gedung rektorat. Aksi tersebut berlangsung ketika massa berusaha mendekati dan masuk ke area gedung setelah sebelumnya berorasi dari balik pagar.
Aksi hari ini bukan kali pertama mahasiswa UINSA menyampaikan penolakan terhadap Muzakki. Pada 15 Juli 2026, puluhan mahasiswa juga menggelar aksi di depan kampus dan mendesak Muzakki yang saat itu menjabat sebagai Plt Rektor untuk mundur dari jabatan tersebut.
Baca Juga: 8 Tuntutan Demo Mahasiswa UINSA: Minta Rektor Dicopot hingga Jam Malam Dihapus
Dalam aksi sebelumnya, mahasiswa antara lain mempersoalkan mekanisme pemilihan rektor dan meminta proses tersebut lebih transparan. Mereka juga meminta porsi suara sivitas akademika dalam pemilihan rektor diperbesar. (*)