← Beranda
Cerita Anak Korban KM Virgo Transport 8 di Surabaya: Chat WA Pamitan Terakhir Imam Soeparno
Ardini Pramitha• Rabu, 16 September 2026 | 19.19 WIB
Novia saat menunjukan chat terakhir bersama sang ayah Imam Soeparno sebelum ditemukan meninggal dunia akibat kecelakaan KM Virgo Transport 8. (Ardini/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Suasana duka menyelimuti rumah keluarga Imam Soeparno (66), korban meninggal dunia dalam kecelakaan KM Virgo Transport 8 di Laut Jawa, Minggu (13/9).

Jenazah Imam tiba di rumah duka di Jalan Sememi Jaya Gang 4, Surabaya, sekitar pukul 09.00 WIB, Rabu (16/9). Setelah tiba, jenazah langsung dimakamkan di TPU Babat Jerawat.

Imam merupakan salah satu korban yang berhasil diidentifikasi Tim DVI Polda Kalimantan Selatan pada Selasa (15/9), bersama lima korban lainnya.

Baca Juga: Sambut Pelimpahan Kasus Febrie Adriansyah, Tim Kuasa Hukum Minta Semua Bukti Diuji

Bagi keluarga, kepergian Imam menyisakan duka sekaligus kenangan tentang sosok ayah dan kakek yang dikenal pekerja keras.

Anak semata wayangnya, Novia, masih mengingat jelas percakapan terakhir dengan sang ayah sebelum berangkat ke Banjarmasin.

Saat itu, Imam sempat mengabarkan keberangkatannya melalui WhatsApp. Ia mengatakan akan menumpang KM Virgo Transport 8.

“Ngobrol lewat WA pas dalam kapal, bilang aku berangkat. Ini ikut kapal Virgo. Sebenarnya Rusita, tapi diganti sama Virgo. Terus tak bilang, ya hati-hati,” tutur Novia.

Baca Juga: Terulang Kembali, Momen Lucu Faishal Hikam Ramdan Suhendar Masuk Layar Prambanan Jazz

Tak disangka, perjalanan tersebut menjadi perjalanan terakhir Imam.

Dalam percakapan itu, Imam juga menyampaikan sesuatu yang kini terasa begitu berarti bagi keluarganya. Ia mengatakan hanya akan bekerja sekali lagi setelah perjalanan tersebut.

“Bilang ke aku, aku ikut satu kali ini aja, habis itu tidak kerja lagi,” kata Novia.

Novia sempat menanyakan alasan ayahnya ingin berhenti bekerja.

“Terus tak tanyai kenapa? Enggak, gapapa, gak kerja aja,” ujarnya mengenang jawaban sang ayah.

Kini, ucapan tersebut menjadi pamitan terakhir Imam sebelum akhirnya berpulang.

“Pamitan terakhir kerja justru berpulang,” ucap Novia lirih.

Baca Juga: Detik-Detik Mencekam di Pesawat Sepehran Airlines: Ban Lepas, Plafon Ambruk

Semasa hidupnya, Imam dikenal sebagai pekerja keras. Di usianya yang sudah 66 tahun, ia masih bekerja sebagai mekanik sekaligus kernet.

Pekerjaannya membuat waktu Imam bersama keluarga tidak menentu. Ia kerap bepergian dan tidak selalu sempat pulang ke Surabaya.

“Bapak tidak sempat pulang. Habis ke Banjarmasin, pulang balik lagi ke Banjarmasin. Tidak sempat pulang, mau ke Banjar lagi, terus mau ke Sulawesi. Gak balik rumah sama sekali,” tutur Novia.

Baca Juga: Kembali ke Indonesia, Kenneth Ngwoke Siap Bantu Sumsel United Berburu Tiket Promosi Super League

Pertemuan terakhir secara langsung antara Novia dan ayahnya terjadi sekitar sepekan sebelum Imam kembali berangkat.

Kini, kenangan pertemuan itu menjadi salah satu yang paling melekat bagi Novia.

 

Sosok Keras yang Lembut kepada Cucu

Di mata keluarga, Imam memang dikenal sebagai sosok yang keras. Namun di balik karakter tersebut, ada sisi lembut yang begitu terasa, terutama kepada cucu-cucunya.

“Orangnya keras, dia baik sama cucu-cucunya juga sayang,” kata Novia.

Imam dikenal tidak banyak menolak keinginan cucunya. Ketika cucu meminta mainan, sebisa mungkin akan diberikan. Begitu pula ketika mereka membutuhkan uang.

Baca Juga: KPK Buka Kemungkinan Jerat Summarecon sebagai Tersangka Korporasi Buntut OTT Anak Buah Nusron Wahid

“Cucu mau apa saja dikasih. Minta mainan apa dikasih, uang Rp100 ribu,” kenangnya.

Salah satu cucunya bahkan tinggal di pondok pesantren. Imam tetap berusaha memenuhi kebutuhannya dari kejauhan.

“Kan anakku ada yang di pondok. Itu ditransfer. Kadang minta uang, bilang tidak punya, tapi tidak lama setelah itu dikasih, ditransfer,” ujar Novia.

Di rumah duka, cerita-cerita tentang Imam menjadi pengingat bahwa di balik sosok pekerja keras yang jarang berada di rumah, ada seorang ayah dan kakek yang selalu berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya.

Kini, perjalanan panjangnya sebagai pekerja telah berakhir.

Ucapan Imam, “aku ikut satu kali ini aja, habis itu tidak kerja lagi,” yang awalnya hanya terdengar seperti rencana untuk berhenti bekerja, justru menjadi percakapan terakhir yang terus diingat keluarganya.

Imam akhirnya kembali ke rumah untuk terakhir kalinya pada Rabu pagi, bukan dengan kepulangan yang selama ini dinantikan keluarga, melainkan untuk dimakamkan di tanah kelahirannya di Surabaya.

EDITOR: Bintang Pradewo