← Beranda
Ecoton Minta Pengawasan Limbah Sungai di Surabaya Diperketat, Cegah Pencemaran
Ardini PramithaSelasa, 8 September 2026 | 23.38 WIB
Aktivis Ecoton menguji kualitas air di pintu Sungai Jagir Wonokromo Surabaya. (Ecoton)

JawaPos.com - Ecoton mendorong pihak-pihak terkait untuk memperketat pengawasan seluruh titik pembuangan atau outlet limbah industri di sepanjang aliran sungai di Surabaya. 

Permintaan itu menyikapi kondisi sungai berbusa di sekitar Bendungan Rolak Gunungsari, Surabaya yang mengakibatkan banyak ikan mati di kali Jagir.

Berdasarkan konfirmasi dari Perum Jasa Tirta (PJT), busa tersebut berasal dari sisa proses pemadaman kebakaran di PT Wings, Driyorejo, Gresik. 

Koordinator ronda sungai Ecoton 2026 Jofanny Ahmad Arianto mengatakan, pengawasan tidak cukup dilakukan secara berkala.

Baca Juga: Puluhan Tahun Lepas, 3 Aset Pemkot Surabaya Senilai Rp 124 Miliar Pulih

Pengawasan harus didukung dengan sistem pemantauan yang mampu mendeteksi perubahan kualitas air secara cepat.

"Diperlukan modernisasi sistem pemantauan limbah melalui CCTV dan sensor kualitas air yang terintegrasi dan dapat dipantau secara real-time," kata Jofany, Selasa (8/9). 

Menurut dia, dengan sistem tersebut, perubahan parameter kualitas air yang melampaui baku mutu dapat segera terdeteksi dan ditindaklanjuti.

“Jadi ketika ada parameter yang melebihi baku mutu, sensornya akan berbunyi,” tegasnya. 

Selaijn itu, juga diperlukan pemulihan ekosistem di kali Jagir secara bertahap. Normalisasi sungai bisa menjadi cara mengurangi sedimentasi dan endapan cemaran yang terakumulasi di dasar sungai. 

Baca Juga: Modal Becak Motor, Pria Asal Blitar Bobol Rumah Warga Surabaya

"Namun, normalisasi harus dilakukan secara hati-hati dan berbasis kajian ekologis agar tidak justru mengganggu habitat organisme perairan," katanya. 

Setelah kualitas air dan kondisi habitat dinyatakan cukup mendukung, diperlukan langkah pemulihan populasi ikan melalui program breeding dan restocking. 

"Jenis ikan lokal yang terdampak, seperti bader bang, bader putih, hampala, dan keting, perlu menjadi perhatian dalam program pemulihan keanekaragaman hayati sungai," tandasnya.

 

EDITOR: Bayu Putra