JawaPos.com - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo mengaktifkan krisis kesehatan untuk menangani ratusan siswa dan santri yang diduga keracunan setelah menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dr Lakhsmita Herawati mengatakan, langkah tersebut dilakukan karena jumlah korban dalam kasus dugaan keracunan MBG cukup banyak.
Penanganan dibagi menjadi dua, yakni di lokasi kejadian dan rumah sakit.
“Karena ini kasusnya cukup massal, yang pertama kita aktifkan krisis kesehatan. Kemudian kita bagi dua, di lapangan kita buka lapangan dengan korlapnya dari puskesmas,” kata Laksmi saat ditemui di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo, Rabu (2/9).
Baca Juga: Seret Puluhan Tersangka, Polisi Terapkan Pasal Berlapis dalam Kerusuhan di Pejompongan
Sementara itu, sejumlah rumah sakit disiagakan untuk menangani korban yang membutuhkan perawatan. Dinkes juga memastikan ketersediaan tenaga kesehatan, obat-obatan, serta sarana pendukung.
“Untuk yang di rumah sakit-rumah sakit kami siagakan dengan tenaga kesehatan yang cukup. Kemudian termasuk juga dari obat-obatan dan sarananya,” jelasnya.
Lakhsmita menyebut, kondisi korban yang menjalani perawatan saat ini relatif stabil. Tidak ada pasien yang membutuhkan perawatan khusus.
“Secara umum yang opname stabil. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan sampai ke perawatan khusus enggak ada,” ujarnya.
Hingga Rabu (2/9), tercatat sekitar 566 siswa dan santri mengalami keluhan yang diduga berkaitan dengan keracunan. Dari jumlah tersebut, 88 orang masih menjalani rawat inap di sejumlah rumah sakit.
Dinkes Sidoarjo juga menyiagakan sekitar sembilan rumah sakit untuk mengantisipasi kebutuhan penanganan korban. Sebanyak 35 korban yang sebelumnya masih berada di lokasi akhirnya dievakuasi ke rumah sakit.
Keluhan yang paling banyak dirasakan korban antara lain pusing, mual, muntah, dan diare. Laksmi mengatakan, lama perawatan bergantung pada kondisi masing-masing pasien.
“Kalau bagus saja rehidrasi saja cukup ya cepat. Dalam waktu 4-5 jam sudah selesai,” katanya.
Baca Juga: Kapolri Pimpin Sertijab Pati Polri, Ini Deretan Pejabat Baru Korps Bhayangkara
Di sisi lain, Dinkes masih melakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebab pasti dugaan keracunan tersebut. Sampel muntahan korban dan bahan makanan telah diambil dan dikirim ke laboratorium kesehatan di Surabaya.
Hasil pemeriksaan laboratorium diperkirakan baru diketahui sekitar satu pekan. Namun, Laksmi menegaskan investigasi tidak hanya berfokus pada hasil laboratorium.
Menurut dia, yang juga penting untuk ditelusuri adalah penerapan standar operasional prosedur (SOP) sejak makanan selesai diolah, didistribusikan, hingga dikonsumsi siswa dan santri.
“Yang paling penting adalah sikap kami bagaimana terkait kalau misalnya ini terbukti karena permasalahan produk olahannya atau bahannya. Yang paling penting adalah SOP-nya dijalankan atau tidak,” pungkasnya.