← Beranda
Dana Gotong Royong Soekarno Cup Diserahkan untuk Korban Gempa NTT
Ardini PramithaSelasa, 25 Agustus 2026 | 19.41 WIB
Dana Gotong Royong Soekarno Cup Diserahkan untuk Korban Gempa NTT. (Ardini Pramitha/JawaPos.com)

JawaPos.com - Malam final Soekarno Cup 2026 di Gelora Bung Tomo (GBT) Surabaya tidak hanya menjadi penutup kompetisi sepak bola usia muda.

Momentum tersebut juga dimanfaatkan untuk menyalurkan dana gotong royong kemanusiaan bagi korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dana dihimpun melalui gerakan solidaritas selama rangkaian Soekarno Cup 2026 yang diikuti 400 talenta muda dari 16 provinsi.

Ketua Panitia Nasional Soekarno Cup, Komarudin Watubun, mengatakan penggalangan dana menjadi bagian dari upaya menanamkan kepedulian sosial kepada para peserta dan seluruh pihak yang terlibat dalam turnamen.

“Ketika saudara-saudara kita di NTT mengalami bencana, kita semua harus merasa terpanggil untuk membantu. Inilah makna gotong royong yang sesungguhnya,” kata Komarudin sebelum pertandingan final Soekarno Cup di GBT Surabaya, Senin (24/8). 

Menurut dia, bantuan tersebut tidak semata-mata dilihat dari jumlah dana yang terkumpul. Lebih dari itu, aksi tersebut diharapkan menjadi bentuk solidaritas bagi masyarakat yang terdampak bencana.

Komarudin menambahkan, semangat gotong royong menjadi salah satu nilai yang ingin dibangun melalui Soekarno Cup. 

Turnamen yang mempertemukan pemain muda dari berbagai daerah itu diharapkan tidak hanya melahirkan pesepak bola berbakat, tetapi juga generasi yang memiliki kepedulian terhadap sesama.

“Soekarno Cup diikhtiarkan untuk mencari talenta muda akar rumput dari berbagai pelosok Tanah Air sekaligus membangun karakter generasi muda bahwa sepak bola harus menjadi kekuatan yang mempersatukan dan memberi manfaat bagi masyarakat,” imbuhnya.

Juru Bicara Soekarno Cup sekaligus legenda Timnas Indonesia Anang Maruf, mengatakan keterlibatan pemain muda dalam aksi kemanusiaan menjadi bagian dari pembentukan karakter di luar lapangan.

Menurut dia, 400 pemain yang berasal dari 16 provinsi tidak hanya mendapatkan pengalaman berkompetisi. Mereka juga diperkenalkan pada nilai tanggung jawab dan kepedulian sosial.

“Anak-anak ini belajar bahwa menjadi pemain sepak bola bukan hanya soal kemampuan teknik. Ada nilai tanggung jawab, persaudaraan, dan kepedulian,” kata Anang.

Ia menilai sepak bola memiliki kekuatan untuk mempertemukan anak-anak muda dari berbagai latar belakang. Perbedaan daerah dan lingkungan dapat dipersatukan melalui kompetisi sekaligus aksi sosial.

“Dari 16 provinsi mereka datang sebagai anak-anak daerah, tetapi di lapangan mereka menjadi satu sebagai anak Indonesia. Semangat yang sama kemudian kita bawa keluar lapangan melalui aksi kemanusiaan ini,” terangnya.

Soekarno Cup 2026 sendiri mempertemukan Banteng Jabar U-17 melawan Banteng Bali U-17 pada laga final. Sementara perebutan peringkat ketiga mempertemukan Banteng Jatim U-17 dengan Banteng Papua U-17.

Selain menjadi ajang pencarian talenta muda, rangkaian turnamen tersebut sekaligus diarahkan menjadi ruang pembentukan karakter melalui sportivitas, disiplin, persatuan, dan kepedulian sosial.

 

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra