← Beranda
Ahli Gizi Unair Ungkap Cara Tren Kimpul Jadi Kebiasaan Konsumsi, Tak Sekadar Viral
Novia HerawatiMinggu, 16 Agustus 2026 | 18.55 WIB
Ilustrasi kimpul. (AI)

 

JawaPos.com - Ahli Gizi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Lailatul Muniroh menyoroti tren olahan berbahan serba kimpul atau talas belitung, yang tengah viral di media sosial dan digandrungi masyarakat. 

Lailatul melihat tren kimpul yang akhir-akhir ini viral di media sosial ini sebagai sesuatu yang positif. Sebab, umbi-umbian lokal tersebut dapat digunakan sebagai alternatif sumber karbohidrat beras atau singkong.

"Saat kimpul sedang tren, hal ini menjadi alarm baik karena dapat menjadi sorotan masyarakat untuk ikut penasaran dan mencoba. Apalagi kimpul yang mudah didapatkan dan diolah,” tutur Lailatul, Sabtu (15/8).

Apabila konsumsi kimpul terus dilakukan secara berulang, tren tersebut berpotensi membentuk kebiasaan baru di masyarakat. Viralitas kimpul juga dapat menjadi pintu masuk terkait diversifikasi (penganekaragaman) pangan.

Baca Juga: Wali Nanggroe Ajak Masyarakat Aceh Rawat Perdamaian Lewat Perjanjian Helsinki

Namun, tantangannya adalah bagaimana menjaga minat masyarakat terhadap kimpul dan berbagai umbi-umbian lokal lainnya agar konsumsi pangan alternatif dapat berlangsung secara berkelanjutan.

“Menurut saya, tantangan diversifikasi pangan
kimpul bukan pada ketersediaannya, tetapi cara mengubah kebiasaan preferensi konsumsi
masyarakat yang sudah terbiasa makan nasi," imbuhnya. 

"Bagi orang yang memiliki pemikiran ‘Kalau belum makan nasi, berarti belum makan’, sepertinya kimpul lebih tepat sebagai pangan diversifikasi dan substitusi parsial, bukan pengganti nasi,” ucap Lailatul. 

Dari aspek penerimaan konsumen, diperlukan inovasi dan strategi yang menarik agar olahan kimpul dapat diterima berbagai kelompok usia, baik itu generasi Milenial, Gen Z, hingga Gen Alpha.

Upaya tersebut membutuhkan kolaborasi pemerintah, akademisi, dan masyarakat untuk memanfaatkan momentum viral kimpul. Dengan begitu, tren tidak sekadar menjadi konten, tetapi mendorong perubahan kebiasaan konsumsi.

“Kuncinya mengubah viralitas (kimpul) menjadi kebiasan, seperti peran pemerintah untuk menjamin produksi, distribusi, harga dalam program pangan," ujar dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair tersebut. 

Sementara itu, pelaku usaha dapat berperan dengan mengembangkan kimpul menjadi produk yang familiar dan praktis. Masyarakat juga didorong membiasakan konsumsi umbi-umbian. 

"Kemudian dari peran akademisi dapat melakukan penelitian sehingga mampu menyediakan bukti gizi dan keamanan serta mengembangkan produk yang sehat dan praktis,” pungkas Lailatul. (*)

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan