JawaPos.com - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) pada Jumat (7/8) sudah merembet ke wilayah Jemplang, Kabupaten Malang. Akibatnya lahan seluas telah 127 hektare hangus.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief mengatakan, kobaran api terus bergerak ke arah sabana dan bagian atas tebing akibat tiupan angin yang cukup kencang.
Petugas di lapangan terus berjibaku memadamkan api. Namun angin yang kencang membuat kobaran api meluas, tidak hanya ke wilayah Kabupaten Probolinggo, tetapi juga perbatasan tugu Jemplang di Kabupaten Malang.
Adapun upaya pemadaman dilakukan menggunakan alat pemukul api (gebyok). Petugas juga menggunakan drone penyemprot milik BPBD Jawa Timur, armada pemadam kebakaran, dan truk tangki air BPBD Jawa Timur.
"Kami memadamkan menggunakan gebyok dan drone bantuan dari BPBD Jawa Timur. Dibantu mobil damkar dari TNBTS serta truk tangki dari BPBD Jawa Timur juga," tutur Oemar, dikutip dari Jawa Pos Radar Bromo, Jumat (7/8).
Ia bercerita drone penyemprot BPBD Jawa Timur sebenarnya sudah tiba di Pos Watu Gede sejak Rabu (5/8) sore. Namun, operasional maksimal baru dimulai Kamis (6/8) karena kabut tebal dan angin kencang.
Sementara air untuk kebutuhan penyemprotan dipasok dari truk tangki dan tandon portabel yang disiapkan di sekitar lokasi. Prioritas diarahkan pada titik api yang berada di area lebih mudah dijangkau.
"Untuk titik api di bawah Gunung Bromo masih bisa dijangkau drone. Kalau di tebing itu yang cukup sulit karena anginnya sangat kencang," sambungnya.
Sementara itu, Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha menilai embusan angin pada siang hari menjadi kendala utama, karena membuat api cepat menjalar ke vegetasi kering di sekitarnya.
Tim gabungan juga memfokuskan upaya pemadaman di kawasan Jantur, Kabupaten Probolinggo. Sebelumnya, api di Blok Bantengan hingga Pusung Jantur sempat dipadamkan pada Rabu (5/8) sekitar pukul 15.00 WIB.
"Namun kobaran kembali muncul akibat embusan angin pada Kamis (6/8). Faktornya ya karena pada siang hari anginnya cukup kencang, sehingga api semakin cepat menyebar," pungkas Rudijanta.
Sebelumnya, Karhutla di kawasan Gunung Bromo pertama kali dilaporkan terjadi pada Senin (3/8) sekitar pukul 17.00 WIB. Titik awal kebakaran berada di Blok Bantengan yang masuk wilayah Ranu Pani, Lumajang.
Baca Juga: Karhutla Bromo Bikin Jip Wisata Malang Harus Memutar Lewat Pasuruan
Untuk mendukung upaya pemadaman, Balai Besar TNBTS menutup sementara akses wisata Gunung Bromo melalui pintu Jemplang, Coban Trisula, dan Senduro. Penutupan diberlakukan sejak Senin pukul 22.00 WIB hingga waktu yang belum ditentukan. (*)