← Beranda
Mantan Dirut KBS Surabaya Jadi Tersangka Korupsi, Negara Rugi Rp 10,2 Miliar
Novia HerawatiRabu, 22 Juli 2026 | 22.24 WIB
Tersangka mantan Dirut Kebun Binatang Surabaya, Choirul Anwar saat digelandang ke kantor Kejati Jatim, Jalan Ahmad Yani, Surabaya. (Riana Setiawan/ Jawa Pos)

JawaPos.com - Kejaksaan Tinggi Jawa Timur menetapkan mantan Direktur Utama PD Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya (KBS), Choirul Anwar, sebagai tersangka dugaan korupsi pengelolaan keuangan perusahaan. 

Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Jatim, I Gede Punia menuturkan perbuatan tersangka ditaksir menimbulkan kerugian negara hingga Rp 10,2 miliar, dan berdampak pada menurunnya kualitas perawatan satwa di KBS.

"Pada malam ini kami menetapkan 1 orang tersangka atas inisial CA selaku Direktur Utama PD Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya," tutur Gede dalam konferensi pers di Kantor Kejati Jatim, Surabaya, Selasa (21/7).

Baca Juga: Italia Berupaya Merekrut Pep Guardiola sebagai Pelatih Kepala Tim Nasional

Selama memimpin KBS periode 2016 - 2024, CA diduga menyalahgunakan wewenangnya dengan memakai anggaran perusahaan untuk kepentingan pribadi, pengeluaran di luar peruntukan, dan transaksi fiktif.

Modusnya, CA memerintahkan staf keuangan pada Departemen Accounting and Finance untuk mengeluarkan anggaran perusahaan, lalu membuat laporan pertanggungjawaban seolah-olah dana itu digunakan kegiatan operasional.

"CA secara melawan hukum, menyalahgunakan kewenangan, telah menggunakan uang anggaran PD TS KBS guna pengeluaran yang tidak sesuai dengan peruntukannya dan/atau fiktif, serta kepentingan pribadi," imbuhnya.

Penyidik juga menemukan adanya pengeluaran kas yang tidak sesuai pada periode 2023 - 2024. Transaksi tersebut diduga tetap mendapat persetujuan dari pihak terkait, termasuk Direktur Keuangan yang menjabat saat itu.

Baca Juga: Kisah Kelam Lionel Messi di Stadion New York Terulang Bersama Argentina pada Final Piala Dunia FIFA 2026

Berdasarkan perhitungan sementara bersama BPKP Provinsi Jawa Timur, dugaan korupsi di PD Taman Satwa KBS mengakibatkan kerugian keuangan negara yang ditaksir mencapai Rp 10.209.664.735,60.

"Kerugian keuangan negara berdasarkan hasil perhitungan sementara dengan BPKP Provinsi Jawa Timur kurang lebih sebesar Rp 10,2 miliar, sekitar Rp 7,4 Miliar digunakan CA untuk kepentingan pribadi," terang Gede. 

Atas perbuatannya, CA dijerat Pasal 603 atau subsidair Pasal 604 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP juncto Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001. 

CA terancam hukuman penjara maksimal 20 tahun. "Saat ini tersangka langsung kami tahan di Rutan Kelas 1 Surabaya cabang Kejati Jatim hingga 20 hari kedepan untuk pemeriksaan lanjutan," pungkasnya.

Kronologi singkat

Kasus ini mencuat setelah Tim Penyidik pada Bidang Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Jawa Timur menggeledah Kantor PD Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya pada 5 Februari 2026 lalu.

Baca Juga: WayV Bersiap Comeback dengan Mini Album ke-8 Bertajuk ‘Vision Wings'

Kasi Penyidikan Kejati Jatim, John Franky Yanafia Ariand mengatakan bahwa pelaksanaan penggeledahan tersebut dilakukan berdasarkan Surat Perintah Penggeledahan Nomor: Print-339/M.5.5/Fd.2/02/2026. 

"Sebagai tindak lanjut, pada hari ini Kamis, 5 Februari 2026 Tim Penyidik Kejati Jatim telah melaksanakan penggeledahan di lingkungan Kantor PD Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya," ucapnya, Jumat (6/2). 

Selain menggeledah, tim penyidik Kejati Jatim juga melakukan penyegelan terhadap beberapa ruangan, meliputi kantor administrasi dan keuangan, ruang direksi, ruang bagian keuangan, ruang pengadaan, dan ruang arsip. 

Baca Juga: BTS Cetak Tonggak Bersejarah sebagai Grup K-Pop Pertama Tampil di Halftime Show Final Piala Dunia FIFA

"Tim penyidik Kejati Jatim juga mengamankan empat (4) box kontainer berisi dokumen-dokumen yang diduga berkaitan dengan perkara dugaan tindak pidana korupsi yang dimaksud," imbuh John Franky. 

Selain dokumen, penyidik juga menyita ponsel milik direksi, laptop, dan barang bukti elektronik lainnya. Seluruh barang bukti yang diamankan akan diteliti dan didalami oleh Tim Penyidik Kejati Jatim. (*)

EDITOR: Bintang Pradewo