JawaPos.com - Di tengah Aksi Kamisan di Surabaya, suara pedagang kecil ikut terdengar. Seorang penjual kopi keliling, Ike Wijayanti, memohon agar pemerintah tidak menaikkan harga BBM Pertamax demi rakyat kecil.
"Jangan naikkan harga BBM Pertamax, tolong, lihat orang-orang, pedagang kecil seperti saya, tolong turunkan semua," ujar perempuan berusia 40 tahun tersebut saat berorasi di depan ratusan massa Aksi Kamisan, Senin (15/6) kemarin.
Sore itu, Ike Wijayanti hanya berniat berjualan seperti biasa. Sambil mendorong gerobak kopinya dengan sepeda pancal, ia melihat kerumunan massa di Taman Apsari, depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya.
Berharap dagangannya lebih laris dan bisa membawa pulang tambahan penghasilan, ia pun menepi. Tak disangka, langkah kecilnya itu justru membawa dirinya berdiri di depan massa untuk menyuarakan keluh kesah sebagai rakyat kecil.
"Saya orang miskin, tolong jangan dibeda-bedakan ya. Kalau Bapak (Presiden Prabowo Subianto) bisa melihat pidato saya ini, BBM (Pertamax) diturunkan harganya, Pak. Minta tolong," imbuhnya dengan suara serak.
Ike bercerita bahwa sebelumnya dirinya menggunakan BBM Pertamax. Namun, sejak adanya kenaikan per 10 Juni 2026, perempuan penjual kopi keliling ini pun tak ada pilihan untuk berpindah ke Pertalite.
"Biasanya pakai Pertamax, mbak. Tetapi karena harga naik, sekarang (pakai) Pertalite. Makanya saya minta tolong (ke pemerintah) jangan dinaikkan lagi, nggak cuma BBM, ini harga sembako, cabe juga ikut naik," keluh Ike saat berbincang dengan JawaPos.com.
Lebih jauh, meski hidup di tengah impitan ekonomi, Ike menunjukkan bahwa dirinya sebagai perempuan juga mampu bertahan dan tidak patah semangat. Selama dua tahun terakhir, perempuan tersebut berkeliling menjajakan kopi.
"Saya, dengan gerobak saya seperti itu (menunjuk gerobak kopi keliling), saya tunjukkan bahwa saya bisa untuk jualan seperti ini," ucap Ike dengan suara terbata-bata dan mata berkaca-kaca menahan air mata.
Keberanian Ike untuk menyuarakan keluh kesahnya mendapat apresiasi dari peserta Aksi Kamisan. Riuh tepuk tangan terdengar jelas saat penjual kopi keliling tersebut menutup orasinya dengan kalimat sederhana.
"Presiden tolong, jangan kaya gini, Pak, terima kasih," ucap Ike lalu mengembalikan mikrofon.
Tak sedikit peserta aksi yang menyemangatinya. "Semangat bu...." ucap salah seorang peserta Aksi Kamisan dengan lantang.
Cemas dengan Kondisi Ekonomi Indonesia, Ratusan Massa Aksi Kamisan di Surabaya Bawa 8 Tuntutan:
Aksi Kamisan Surabaya pada Senin (15/6) kemarin, berlangsung lebih ramai dari biasanya. Ratusan massa dari berbagai elemen sipil dan mahasiswa turun ke jalan untuk menyuarakan kekecewaan mereka atas kondisi Indonesia.
Koordinator Lapangan Aksi Kamisan Surabaya, Muhammad Ikhsan Aditya mengatakan bahwa aksi hari ini merupakan respons kekecewaan masyarakat atas memburuknya stabilitas ekonomi di Indonesia.
"Kondisi stabilitas ekonomi kita hari ini kian mencemaskan, di mana angka rupiah mendekati angka Rp 18 ribu. Bahkan prediksi dari ekonom (nilai tukar rupiah) bisa sampai angka Rp 22 ribu," imbuhnya.
Ada 8 tuntutan yang dibawa massa dalam Aksi Kamisan Surabaya Senin (15/6):
1. Cabut UU Polri 2026
2. Cabut UU TNI 2025
3. Kembalikan Militer ke Barak
4. Hentikan Program MBG
5. Hentikan Program Koperasi Desa Merah Putih
6. Turunkan Harga BBM
7. Stabilitas Nilai Rupiah
8. Hentikan Eksploitasi Alam
Tekanan Daya Beli dan Konsumsi RT
Terpisah, Institute For Development of Economics and Finance (Indef), menilai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax dan Pertamax Green berpotensi menekan konsumsi rumah tangga.
Kepala Center of Macroeconomic and Finance INDEF, Rizal Taufiqurahman, penyesuaian BBM nonsubsidi juga akan menekan daya beli masyarakat. Ia menjelaskan, tekanan daya beli khususnya terjadi pada masyarakat kelas menengah yang sehari-hari menggunakan BBM nonsubsidi jenis Pertamax.
"Lagi-lagi, pendapatan (masyarakat) menengah akan terus tertekan seiring dengan kebijakan-kebijakan yang notabene kurang ada buffer terhadap rumah tangga ini," Rizal saat diskusi virtual, Minggu (14/6).
Lanjutnya, jika masyarakat pengguna Pertamax melakukan peralihan dengan menggunakan Pertalite atau BBM subsidi maka akan membantu meredam inflasi. Namun, kondisi tersebut akan menyebabkan konsekuensi fiskal akibat melonjaknya beban subsidi dan kompensasi energi.
"Jadi, kalau adanya migrasi konsumen dari BBM nonsubsidi ke Pertalite maka akan meningkatkan beban subsidi (dan kompensasi) energi pemerintah," ujarnya.