JawaPos.com – Pernah dengar nama The San Nio? Atau Maria Ulfah Santoso? Meski dua tokoh perempuan itu punya peran tidak kecil, namun dalam lintasan sejarah Indonesia mereka sosok-sosok yang menempati periferi.
The San Nio adalah pejuang yang dijuluki ‘Mulan Indonesia’ karena menyamar sebagai laki-laki bernama Moeksin untuk mengangkat senjata melawan penjajah. Sedang Maria Ulfah Santoso merupakan menteri perempuan pertama Indonesia.
Walau keduanya sudah berpulang, kutipan kedua tokoh tersebut bersama nama lain yang sering luput dalam histori Indonesia dihadirkan dalam bentuk poster pada gelar karya mahasiswa MKWK dan MKI Universitas Ciputra (UC) Surabaya di Tech Space, Integrity Hall, UC Surabaya mulai Senin (8/6) hingga Rabu (10/6).
Selain deretan poster yang berisi kutipan-kutipan sosok-sosok unsung hero, ada juga hasil karya mahasiswa lainnya yang dihadirkan dalam bentuk majalah, film dokumenter, komik strip, tote bag, dan web.
Deretan poster itu merupakan tugas akhir untuk mata kuliah Pancasila. Sedang majalah, film dokumenter, komik strip, tote bag, dan web merupakan proyek final mata kuliah Becoming Indonesia.
“Pameran karya seperti ini sangat menarik dan bermanfaat. Karena melihat hasil yang dipamerkan, membuat yang belum dipamerkan jadi termotivasi,” kata salah satu mahasiswa UC Marvellya Aureline. Kebetulan karya Marvellya ini tidak terpajang dalam pameran kali ini.
Bagi yang karyanya dipamerkan, terselip rasa bangga karena kerja kerasnya diapresiasi. Misalnya saja tote bag karya Karen Patricia Sutikno.
Tote bag kanvas itu bukan sekadar wadah tanpa makna. Di tote bag itu, Karen menuliskan perubahan moda transportasi umum di Surabaya dan pengalaman empirisnya menaiki angkot lin, becak, Suroboyo Bus, dan Wira-Wiri Suroboyo.
Dalam gelar karya mahasiswa MKWK dan MKI UC Surabaya itu memang hanya sekitar 100 yang dipasang. Ke-100 karya yang dipajang ini merupakan hasil seleksi dari dosen dan kurator yang ditunjuk.
Dari karya-karya yang dipamerkan, beberapa karya terbaik di mata kuliah Pancasila serta Becoming Indonesia itu bahkan dilombakan. Para mahasiswa yang karyanya lolos kurasi diminta melakukan presentasi di depan dewan juri.
“Proses ‘Menjadi Indonesia’ merupakan hasil rajutan dari fragmen-fragmen kebudayaan yang terus bergerak. Karya yang terpilih untuk dalam kompetisi tugas akhir merepresentasikan keberanian mahasiswa untuk keluar dari kenyamanan narasi besar sejarah formal, lalu masuk ke dalam celah-celah mikro: ingatan lokal, komoditas kultural, hingga ruang siber,” demikian tulis Suryadi Kusniawan dan Yogi Ishabib sebagai Kordinator mata kuliah Becoming Indonesia dalam catatan kuratorial karya yang dilombakan.