← Beranda
Siang Terik, Malam Dingin! BMKG Juanda Jelaskan Penyebab Suhu Ekstrem di Surabaya
Novia HerawatiRabu, 3 Juni 2026 | 22.05 WIB
Ilustrasi cuaca ekstrem panas dan dingin. (pngtree)

JawaPos.com - Perubahan suhu yang cukup ekstrem belakangan dirasakan masyarakat Surabaya. Udara terasa dingin pada malam hingga pagi hari, tetapi berangsur menjadi panas terik pada siang hari.

Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Juanda, Taufiq Hermawan, mengatakan kondisi tersebut merupakan fenomena ini yang dikenal sebagai bediding, yang umumnya terjadi saat memasuki musim kemarau.

“Biasanya suhu dan udara terasa sangat dingin mulai malam sampai pagi, kemudian siang hari mulai menghangat, bahkan sampai panas. Jadi ada perbedaan suhu harian yang cukup besar,” terang Taufiq, Rabu (3/6).

Fenomena bediding terjadi akibat pengaruh angin monsun timur yang bergerak dari Australia. Angin ini membawa massa udara dingin dan kering dari kawasan yang sedang mengalami musim dingin menuju Indonesia.

Menurut Taufiq, dampak monsun timur paling terasa di wilayah selatan Indonesia, termasuk Jawa Timur. Kondisi tersebut membuat suhu udara pada malam hingga pagi hari menjadi lebih rendah dibanding biasanya.

"(Ciri bediding) Langit cerah tanpa awan. Pada musim kemarau, awan sangat sedikit sehingga panas di permukaan bumi mudah lepas ke atmosfer pada malam hari melalui proses radiasi,” imbuhnya.

Kelembapan udara yang rendah juga menjadi faktor pendukung. Udara yang lebih kering mempercepat pelepasan panas ke atmosfer setelah matahari terbenam, sehingga udara terasa lebih dingin menjelang pagi.

Taufiq menyebut fenomena bediding paling kuat dirasakan di sejumlah kawasan pegunungan Jawa Timur. Beberapa di antaranya meliputi kawasan Gunung Bromo, Ranu Pani, Gunung Semeru, Kota Batu, serta Kawah Ijen.

Fenomena serupa berpotensi terjadi di daerah pegunungan lainnya, seperti wilayah Malang, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Bondowoso, dan Banyuwangi yang memiliki karakteristik geografis serta suhu udara relatif lebih rendah.

“BMKG Juanda pernah mencatat suhu di kawasan Gunung Bromo mendekati 5 derajat celcius saat puncak fenomena bediding. Pada kondisi tertentu, (di kawasan tersebut) bisa sampai muncul embun es,” terang Taufiq.

Meski demikian, BMKG Juanda mengimbau masyarakat Jawa Timur untuk tidak khawatir. Sebab, fenomena bediding merupakan siklus alam yang rutin muncul setiap musim kemarau dan terjadi hampir setiap tahun.

Bediding umumnya tidak berbahaya bagi kesehatan. Namun bagi kelompok rentan, seperti anak, lansia, pendaki gunung, serta petani di dataran tinggi, disarankan lebih waspada terhadap suhu ekstrem.

Taufiq mengatakan fenomena bediding juga membawa dampak positif, seperti udara terasa lebih sejuk, segar, dan langit malam yang lebih cerah, sehingga ideal untuk mengamati bintang, milky way, dan fenomena astronomi lainnya.

“Tetapi juga perlu diingat dampak negatifnya (fenomena bediding); risiko ISPA, flu, kulit dna bibir mudah kering, tanaman dataran tinggi dapat rusak akibat embun beku," pungkas Taufiq Hermawan. 

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra