← Beranda
Jangan Dibuang! Sampah Plastik di Surabaya kini Bisa jadi Sumber Penghasilan 
Novia HerawatiJumat, 15 Mei 2026 | 05.13 WIB
ILUSTRASI Sampah plastik. (Dok. Jawapos)

 

JawaPos.com - Di tengah kenaikan harga plastik yang signifikan, Pemerintah Kota Surabaya melalui DLH mengajak warga memilah sampah rumah tangga sejak dari rumah sebagai upaya mendapat tambahan penghasilan. 

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, M Fikser mengatakan, tingginya harga plastik membuat sampah non-organik kini banyak diburu pemulung maupun pengepul. 

"Memang harga lagi naik di pasaran ya, sehingga kemudian hasil pemilahan sampah yang dilakukan di TPS (Tempat Penampungan Sementara) diburu sama pemulung, khususnya pemulung sampah," ujarnya, Kamis (14/5). 

Menurutnya, fenomena tersebut terlihat di sejumlah TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle) Surabaya. Sampah plastik kini dipisahkan lebih awal karena memiliki nilai ekonomi tinggi dan banyak dipesan pengepul. 

"Sehingga kemudian di TPS 3R kami yang jumlahnya ada sekitar 12 itu sudah dipisahkan semua, ditumpuk, karena sampah plastik itu kalau saya tanya sudah dipesan sama orang," sambungnya. 

DLH Surabaya memperketat pengawasan di area TPS agar tidak lagi menjadi lokasi pemilahan sampah liar. Fikser mengajak masyarakat untuk memilah sampah di rumah masing-masing, bukan di TPS. 

"Jadi untuk di TPS sudah tidak ada lagi pemilahan sampah, sehingga kita berharap itu bersih. Kalaupun mereka (pemulung) melakukan pemilahan sampah, itu bukan di TPS, tapi sebelum masuk di TPS," tegas Fikser. 

Fikser berharap kenaikan harga plastik dapat menjadi momentum bagi masyarakat untuk mulai memilah sampah non-organik dari rumah dan menjadikannya sebagai sumber tambahan pendapatan. 

"Nah, kami berharap ini juga bisa dijadikan momentum potensi pendapatan mungkin di kampung-kampung kalau dilakukan pemilahan sampah mulai dari rumah, dilakukan pemilahan sampah non-organik," harapnya. 

DLH Surabaya saat ini memiliki 6 bank sampah induk yang dapat menampung sampah bernilai ekonomis. Pihaknya siap memfasilitasi jadwal pengambilan sampah hasil pemilihan warga melalui koordinasi bersama RT dan RW. 

"Kami DLH bisa memfasilitasi pengambilannya kapan, setiap hari apa, jam berapa, langsung terjadi penimbangan dan pembayaran. Bisa juga di kantornya DLH, kami membeli sampah-sampah yang punya nilai ekonomis," ucap Fikser. 

Skema pengumpulan sampah nantinya dapat dilakukan secara kolektif di tingkat lingkungan agar lebih efektif. Sampah dapat dikumpulkan di Balai RW, Balai RT, atau lokasi yang telah disepakati warga sebelum diambil petugas DLH. 

"Mungkin bisa dibuat semacam satu ekosistem oleh RW/ RT, janjian dengan seluruh warga untuk sampah organiknya bisa dikumpulkan hari apa, nanti kita datang sesuai kesepakatan, kita timbang dan langsung kita bayar," tukasnya. 

EDITOR: Estu Suryowati