JawaPos.com - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau hasil program bedah rumah milik tenaga keamanan SMAN 2 Surabaya, Wandori, di Jalan Dinoyo Baru, Surabaya, Selasa (6/5/2026). Program tersebut menjadi bagian dari peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026.
Program bedah rumah ini ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan insan pendidikan. Tidak hanya guru, tetapi juga tenaga penunjang seperti petugas keamanan dan tenaga kebersihan.
Khofifah menegaskan bahwa seluruh elemen yang mendukung proses pendidikan perlu mendapatkan perhatian. Salah satunya melalui penyediaan hunian yang layak.
“Insan pendidikan itu bukan hanya guru. Ada tenaga keamanan, tenaga kebersihan, dan berbagai pihak lain yang turut mendukung proses pendidikan. Mereka juga harus mendapatkan perhatian, termasuk dalam pemenuhan hunian yang layak,” kata Khofifah.
Ia menjelaskan program tersebut berasal dari dana zakat yang dihimpun jajaran Dinas Pendidikan Jawa Timur bersama Badan Amil Zakat Nasional. Dana tersebut kemudian disalurkan untuk perbaikan rumah tidak layak huni.
Program ini dijalankan di seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur. Pada semester pertama tahun ini, masing-masing daerah mendapatkan satu titik penerima bantuan.
“Proses dari zakat yang dikumpulkan oleh staf Dinas Pendidikan se-Jawa Timur kemudian ditasyarufkan antara lain untuk hunian layak huni. Ini salah satunya,” ujarnya.
Selain bedah rumah, dana zakat juga digunakan untuk program afirmasi pendidikan. Salah satunya berupa bantuan beasiswa bagi keluarga kurang mampu.
“Kita biasa menyebutnya program afirmasi. Itu juga dari zakat yang dikumpulkan oleh staf Dinas Pendidikan Jawa Timur,” katanya.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menyebut program ini telah berjalan sejak tahun lalu. Inisiatif tersebut merupakan gagasan langsung dari Gubernur Khofifah.
Pada peringatan Hardiknas tahun ini, program menyasar 38 rumah di 24 cabang dinas pendidikan. Secara keseluruhan, sebanyak 135 rumah insan pendidikan telah mendapatkan bantuan serupa.
“Ini bukan yang pertama. Tahun lalu juga sudah dilakukan. Secara total ada sekitar 135 rumah yang telah dibedah dengan nilai bantuan rata-rata antara Rp20 juta hingga Rp25 juta per rumah, dengan pengerjaan yang mengedepankan semangat gotong royong,” katanya.
Aries berharap program ini membawa dampak positif bagi dunia pendidikan. Terutama dalam meningkatkan kesejahteraan tenaga pendukung pendidikan.
Sementara itu, penerima bantuan, Wandori, mengaku bersyukur atas bantuan yang diterimanya. Sebelum diperbaiki, kondisi rumahnya dinilai sudah tidak layak dihuni.
“Sebelumnya saya sebenarnya sudah ingin memperbaiki rumah, tapi memang tidak ada dana. Kondisinya juga sudah sangat tidak layak dihuni,” katanya.
Ia menyebut rumahnya sebelumnya mengalami banyak kerusakan. Mulai dari atap bocor, plafon jebol, hingga dinding retak dan lembab.
“Alhamdulillah, terima kasih kepada Ibu Gubernur Khofifah. Sekarang rumah kami jauh lebih layak dan nyaman untuk ditempati,” ujarnya.