JawaPos.com — Saifur Rosi Abdillah, 14, tak pernah menyangka malam yang tenang di Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, berubah menjadi mimpi buruk. Santri kelas 3 SMP itu kini harus kehilangan kakinya akibat tragedi runtuhnya musala pesantren pada Senin malam lalu.
Di ruang perawatan RSUD RT Notopuro, Syaifur terlihat masih lemah namun berusaha tegar. Dengan suara pelan ia berkata ingin segera membeli kaki baru agar bisa kembali berjalan seperti dulu. Amputasi menjadi jalan terakhir yang harus ditempuh tim medis untuk menyelamatkan nyawa Saifur. Luka parah pada bagian kakinya membuat tidak ada pilihan lain selain tindakan operasi besar tersebut.
Direktur Utama RSUD RT Notopuro Sidoarjo, dr Atok Irawan, membenarkan kondisi darurat yang dialami korban. “Satu santri bernama Syaifur Rosi Abdillah rencananya akan menjalani amputasi kaki karena cederanya sangat parah,” kata Atok, Kamis (2/10/2025).
Empat santri lainnya yang ikut tertimpa reruntuhan juga masih menjalani perawatan intensif. Mereka mengalami cedera berbeda, mulai dari patah tulang hingga kerusakan otot.
Salah satunya, Syehlendra Haical, 13, masih berada di ruang ICU karena mengalami cedera otot serius. Sementara itu Muhammad Wahyudi, 13, menjalani operasi tulang selangka dan diperkirakan segera kembali ke ruang rawat inap biasa.
Bagi Saifur, peristiwa ini menjadi luka yang akan membekas sepanjang hidupnya. Ia tak hanya merasakan sakit fisik, tetapi juga trauma saat menyaksikan musala runtuh menimpa dirinya dan teman-temannya.
“Waktu itu saya kaget, ada yang jatuh lagi, saya langsung nangis,” ucapnya lirih saat ditemui JawaPos.com, Kamis (2/10/2025).
Santri yang sudah dua tahun mondok itu masih mengingat jelas detik-detik dirinya terjebak di bawah reruntuhan beton.
Ia bercerita, posisinya saat itu miring dan hanya bisa pasrah. Teman-temannya sempat mencoba mendorong beton yang menimpa tubuhnya, namun upaya itu sia-sia karena bangunan terlalu berat.
“(Posisi saya saat itu) miring, waktu itu teman-teman bilang tenang habis ini ada bantuan, tapi teman-teman coba mendorong runtuhan yang menimpa, tapi tidak kuat karena itu beton,” ujar Saifur Rosi.
Dengan sisa tenaga, para santri yang terjebak hanya bisa berteriak meminta tolong. “Pak tolong Pak, sini Pak,” kata Saifur Rosi menirukan suara panik mereka malam itu.
Pertolongan akhirnya datang dari warga sekitar yang mendengar jeritan mereka. Sekitar pukul 12 malam, barulah ada orang kampung yang berusaha mengangkat reruntuhan dan membebaskan Saifur.
“Terus kita minta tolong bareng-bareng, Pak tolong Pak, sini Pak. Lalu ada yang dengar, habis ini, habis ini nak, sebentar,” jelas Saifur Rosi.
Saat kakinya berhasil dikeluarkan, Saifur tidak memikirkan dirinya sendiri. Ia justru berteriak meminta agar teman-temannya juga segera diselamatkan.
“Pas saya keluar, saya bilang, Pak teman saya Pak, terus Bapaknya bilang, iya kamu minggir dulu kamu, baru setelah itu saya dilarikan ke sini Pak (RSUD RT Notopuro, Sidoarjo),” kenang Saifur Rosi.
Proses evakuasi berjalan sulit karena kondisi reruntuhan yang cukup berbahaya. Saifur akhirnya dilarikan ke RSUD RT Notopuro untuk mendapat penanganan medis cepat.
Santri asal Sidoarjo itu mengaku selama tiga hari terjebak, ia hanya bisa membaca sholawat dan istighfar. Ia juga terus berdoa agar diberi pertolongan dan kesempatan hidup.
“Selama 3 hari di sana saya baca sholawat, istighfar, sama minta tolong ke orang-orang,” jelas Saifur Rosi.
Air minum maupun makanan tidak bisa masuk ke tubuhnya karena posisinya terjepit. Ia hanya bernafas dari celah kecil di antara reruntuhan yang menutupi hampir seluruh tubuhnya.
“Nggak bisa (pas dikasih minum, atau roti). Waktu itu ada celah sedikit (untuk bernafas),” ungkap Syaifur Rosi.
Meski harus menerima kenyataan pahit kehilangan kaki, semangat Saifur untuk bangkit sangat besar. Ia dengan polos mengatakan ingin segera membeli kaki baru agar bisa berjalan kembali.
Ucapan itu membuat sang ibu terharu sekaligus bangga pada anaknya. “Anak saya bilang ingin beli kaki baru,” ungkap ibunda Saifur.
Tragedi runtuhnya musala Ponpes Al Khoziny menjadi duka mendalam bagi banyak pihak. Bangunan yang seharusnya menjadi tempat ibadah dan menimba ilmu justru membawa luka mendalam bagi para santri.
Beruntung tujuh santri yang tertimpa reruntuhan berhasil selamat. Namun perjalanan pemulihan mereka masih panjang dan penuh tantangan, terutama bagi Saifur yang kehilangan anggota tubuh.
Meski begitu, semangat Saifur tetap terjaga ketika menceritakan harapannya. Ia yakin suatu saat bisa kembali beraktivitas normal dengan kaki barunya.
Kisah Saifur menjadi pengingat di balik tragedi selalu ada keteguhan hati. Doa dan dukungan masyarakat sangat dibutuhkan agar para korban bisa bangkit menata masa depan.