Padahal, standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hanya 2,2 persen. Artinya, tingkat kematian di Gresik tersebut saat ini cukup jauh melebihi standar WHO. Data kasus meninggal itu belum yang termasuk probable. Yakni, pasien yang bergejala, tapi belum ada hasil pemeriksaan yang memastikan positif Covid-19. Kematian probable sebanyak 181 orang.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemkab Gresik drg Saifudin Ghozali ketika dikonfirmasi tidak menampik data tersebut. Namun, jumlah peningkatan angka kematian juga berjalan seiring dengan tren kesembuhan. Tingkat kesembuhan di Gresik sekitar 91,07 persen. Artinya, dari total jumlah yang terkonfirmasi positif Covid-19, sebanyak 91,07 persen sembuh.
Data dari Satgas Jatim per Jumat (25/6), total kasus terkonfirmasi positif di Kabupaten Gresik sejak pandemi terjadi mencapai 5.881 orang atau bertambah 17 orang dibandingkan sehari sebelumnya. Jumlah sembuh 5.356 orang atau bertambah enam orang. Sedangkan pasien yang menjalani perawatan atau isolasi sebanyak 163 orang atau naik 10 orang dibandingkan Kamis lalu (24/6).
Ghozali menegaskan, melihat tren kenaikan yang terjadi hampir di semua daerah itu, pihaknya terus meminta masyarakat disiplin protokol kesehatan. Semua pihak juga mesti mematuhi surat edaran yang sudah disampaikan bupati. ’’Mari terus bergerak bersama, bersinergi, untuk dapat menekan persebaran Covid-19 ini. Jangan sampai abai pada protokol kesehatan,’’ ungkapnya.
Dia menambahkan, upaya percepatan vaksinasi sejauh ini juga terus dilakukan. Berdasar data per Kamis (24/6), jumlah warga yang sudah menjalani dua kali suntikan vaksin mencapai 184.826 orang. Yang masih divaksin satu kali 28.221 orang. Totalnya 213.047 orang. Jumlah cakupan itu meliputi tenaga kesehatan, pelayan publik, lansia, dan pralansia. ’’Selama stok vaksin tersedia, tentu kita terus mempercepat vaksinasi,’’ tegasnya.
Meski demikian, lanjut dia, pihaknya tetap mengingatkan bahwa mereka yang sudah divaksin pun mesti tetap disiplin protokol kesehatan. ’’Jangan karena divaksin, terus euforia dengan tidak bermasker dan mematuhi protokol kesehatan lain,’’ ujar Ghozali.
BOR Naik, Puskesmas Kerepotan Merujuk Pasien
Ketersediaan tempat tidur atau bed occupancy ratio (BOR) di rumah sakit semakin menipis. Saat ini BOR sudah lebih dari 70 persen. Padahal, standarnya maksimal 60 persen. Beberapa puskesmas pun kini kerepotan untuk merujuk pasien yang bergejala Covid-19 ke rumah sakit.
Kepala Puskesmas Cerme dr Sukadi mengatakan, pasien yang masuk ke IGD puskesmasnya dengan keluhan sesak napas hampir setiap hari ada. Nah, banyak di antara mereka ketika dites antigen, hasilnya reaktif atau positif. Meski demikian, pihaknya tidak mudah untuk merujuk pasien. Sebab, belakangan BOR rumah sakit penuh.
Sukadi menambahkan, petugas juga masih menghadapi kendala terkait tracing warga untuk klaster Dusun Sawahan, Desa Gedangkulut. Sejauh ini, belum semua warga menjalani tes. Saat siang merupakan jam kerja. Karena itu, banyak warga yang tidak datang ketika akan dites swab.
’’Akhirnya tim nakes (tenaga kesehatan) pun meluangkan waktu di luar jam kerja. Pada Kamis malam (24/6), para nakes stand by di dusun bersangkutan,’’ ujar Sukadi.
Namun, lanjut dia, warga yang bersedia datang untuk dites swab hanya 39 orang. Mayoritas pun warga dengan kategori sehat. ’’Dari jumlah yang dites itu, hasilnya positif lima orang,” jelasnya.
Baca Juga: Ini Cerita Keluarga yang Bingung Cari RS di Surabaya
Data tersebut menambah jumlah warga Sawahan yang positif dari hasil rapid test antigen. Dari hasil tes sebelumnya, ada 25 orang yang positif. Ketika dites swab PCR, mayoritas juga dinyatakan positif. Karena itu, kampung tersebut ditutup sementara (lockdown). Warga menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing.