JawaPos.com - Pacuan kuda masih kerap dianggap sebagai olahraga yang identik dengan laki-laki. Padahal, cabang olahraga tersebut memiliki ruang yang cukup besar bagi perempuan untuk berkompetisi maupun mengambil peran di dalam ekosistemnya.
Hal tersebut menjadi perhatian Sarga.co yang mendorong keterlibatan perempuan dalam perkembangan pacuan kuda di Indonesia. Atas upaya tersebut, Sarga.co atau Pt Kuda Pacu Indonesia menerima The Sraya Recognition kategori Social Impact dalam rangkaian Apresiasi Perempuan Berpengaruh (APB) 2026.
"Sarga.co itu adalah promotor pacuan kuda, profesional pertama dan satu-satunya di Indonesia. Jadi melalui Sarga.co kami mencoba memodernisasi pacuan kuda sehingga bisa menjadi, bisa memberikan pengalaman baru kepada publik dalam menikmati pacuan kuda di Indonesia,” kata Head of Corporate Communication Sarga.co, Esther D Ginting, dalam keterangannya, Minggu (13/9).
Baca Juga: Cuma Pernah Dua Kali Tercipta di Indonesia, Kenapa Triple Crown di Pacuan Kuda Langka untuk Diraih?
Menurut Esther, pacuan kuda masih memiliki citra sebagai olahraga yang eksklusif dan belum banyak diketahui masyarakat. Karena itu, diperlukan upaya untuk membuka akses agar publik bisa lebih dekat dan mengenal olahraga tersebut.
“Mungkin dulu pacuan kuda tertutup gitu ya, nggak ada yang tau pacuan kuda. Nah dengan kami menjadi promotor pacuan kuda, itu kami membuka sehingga juga publik itu bisa lebih tahu ya tentang pacuan kuda,” ucapnya.
Transformasi tersebut juga menyasar aspek keterlibatan perempuan di dalam ekosistem pacuan kuda. Menurut Esther, peluang perempuan untuk berkiprah di cabang olahraga tersebut sebenarnya sangat terbuka.
"Jadi kami juga bukan hanya menyelenggarakan rangkaian acara pacuan kuda, tapi juga transformasi ekosistemnya. Sehingga memberikan kesempatan kepada perempuan untuk lebih banyak berkontribusi di dalam paksuan kuda gitu,” terang Esther.
Baca Juga: Pacuan Kuda Pulomas Segera Dihidupkan Lagi, Kali Ini Bertaraf Internasional Senilai Rp 100 Miliar!
Salah satu hal yang membuat pacuan kuda berbeda adalah kesempatan bagi perempuan dan laki-laki untuk berkompetisi dalam lintasan yang sama. Tidak ada pemisahan kelas berdasarkan gender, baik bagi joki maupun kuda yang bertanding.
"Jadi pacuan kuda itu mungkin bisa dibilang olahraga, mungkin satu-satunya olahraga yang inklusifitas perempuan itu sangat besar di situ. Kenapa? Karena di pacuan kuda, kuda betina dan kuda jantan itu nggak dipisahin kelasnya. Joki perempuan dan joki laki-laki itu nggak dipisahin kelasnya. Mereka itu bertanding dalam satu lintasan, dalam satu kelas gitu ya,” paparnya.
Menurutnya, peluang perempuan juga tidak terbatas sebagai joki atau atlet. Mereka bisa mengambil peran sebagai pemilik kandang, pelatih, dokter hewan, pemilik kuda, hingga bekerja di balik penyelenggaraan event.
"Jadi harapan kami ke depan semakin banyak perempuan, kehadiran perempuan, keterlibatan perempuan di pacuan kuda. Apakah sebagai atletnya, joki, bisa sebagai stable owner, sebagai pelatih, sebagai pelatih kuda, dokter, dokternya kuda, kemudian pemilik kuda. Jadi banyak sekali, dan juga mungkin di dalam ekosistem eventnya sendiri,” harapnya.
Pada akhirnya, keterlibatan perempuan dinilai dapat membuat ekosistem pacuan kuda semakin inklusif. Perubahan tersebut diharapkan tidak hanya terjadi di lintasan, tetapi juga dalam berbagai peran yang mendukung perkembangan olahraga tersebut.