“Kalau putri itu selalu satu ya. Mungkin setelah saya waktu itu kan ada Mia (Audina). Setelah Mia mungkin habis itu ada Firda (Adriyanti Firdasari), setelahnya ada Maria Kristin. Jadi hanya satu-satu yang muncul,’’ ujarnya.
Apa problemnya?
“Mungkin karena Indonesia ini lebih timur ya. Secara tradisi mungkin untuk putri itu, untuk ke olahraga itu agak sedikit kurang dukungan dari orang tua,” jelasnya.
Selain itu, dia menilai juga ada pilihan di tengah jalan yang berubah bagi atlet putri.
“Mungkin pada waktu di awal banyak yang ikut, tapi setelah SMP, SMA, mereka mulai memikirkan untuk ke depannya. Karena kalau perempuan tuh kayaknya untuk menjadi juara bukan hanya teknik saja. Tapi fokus harus lebih kuat, lebih tahan, lebih semuanya,” ucapnya.
Susy menuturkan, di putri bukannya tidak ada yang memiliki karakter seperti itu. Tetapi, jika dibandingkan dengan sektor putra, terlebih di ganda putra yang tidak pernah kelurangan stok pemain, tunggal putri masih minim.
Baca Juga: Bernardo Tavares Harapkan GBT Selalu Penuh, Bonek Diminta Terus Dukung Persebaya Surabaya