JawaPos.com - Penyelenggaraan 8th Asian Taekwondo Indonesia Open Championships 2026 tidak hanya menjadi ajang perebutan medali dan poin ranking dunia. Bagi Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI), turnamen internasional tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun sistem pembinaan yang berkelanjutan sekaligus membuka kembali jalan taekwondo Indonesia menuju Olimpiade.
Kejuaraan berstatus World Taekwondo G2 itu akan berlangsung di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, pada 1–5 Agustus 2026. Sebanyak 478 atlet dari 36 negara akan bersaing memperebutkan poin penting menuju Olimpiade Los Angeles 2028.
Ketua Umum PBTI Letjen TNI Richard Tampubolon menegaskan bahwa target organisasi tentu ingin melihat atlet Indonesia naik podium. Namun, ia mengungkapkan bahwa nilai terbesar dari kjejuaraan ini terletak pada kesempatan membangun ekosistem taekwondo yang semakin kompetitif dan berstandar internasional.
“Kalau berbicara target, tentu Indonesia harus naik podium. Namun yang sedang kami bangun jauh lebih besar karena prestasi tidak lahir dalam semalam. Prestasi lahir dari sistem yang kuat, kompetisi yang berkelanjutan, pembinaan yang terarah, dan keberanian mengukur kemampuan di level dunia,” kata Richard dalam keterangannya, Jumat (31/7).
Richard, yang dipercaya memimpin PBTI sejak September 2023, membawa misi mengembalikan taekwondo Indonesia ke panggung Olimpiade setelah absen dalam lima edisi terakhir. Untuk mewujudkan target tersebut, PBTI melakukan pembenahan di berbagai sektor, mulai dari sistem pemusatan latihan nasional (pelatnas) hingga pola regenerasi atlet.
Pelatnas kini menerapkan sistem berjenjang yang melibatkan atlet senior dan atlet muda sebagai bagian dari persiapan menuju siklus Olimpiade berikutnya. Proses seleksi atlet juga dilakukan melalui mekanisme yang lebih objektif dengan menghadirkan Ksatria Nusantara Series sebagai jalur pembinaan dan seleksi nasional.
Selain itu, PBTI menunjuk pelatih asal Iran untuk menangani nomor kyorugi, menggantikan pelatih sebelumnya dari Korea Selatan, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas kepelatihan nasional. Menurut Richard, pembenahan tersebut bertujuan membangun fondasi yang mampu melahirkan prestasi secara berkelanjutan.
“Legacy yang ingin kami tinggalkan bukan hanya medali. Legacy itu adalah sistem yang terus berjalan, yang mampu melahirkan juara-juara baru, bahkan ketika kepengurusan ini sudah selesai,” ujar Richard.
Sebagai implementasi dari program tersebut, PBTI menurunkan 31 atlet pelatnas pada Indonesia Open 2026. Mereka terdiri atas 20 atlet kyorugi dan 11 atlet poomsae yang merupakan hasil seleksi melalui Ksatria Nusantara Series.
Selain menjadi ajang mengumpulkan poin dunia, turnamen ini juga dimanfaatkan sebagai bagian dari persiapan menuju Asian Games Aichi–Nagoya 2026 sekaligus langkah awal menuju Olimpiade Los Angeles 2028.
Richard berharap penyelenggaraan Indonesia Open tidak hanya berdampak pada peningkatan prestasi atlet, tetapi juga mendorong kualitas pelatih, wasit, perangkat pertandingan, hingga kemampuan Indonesia dalam menggelar kejuaraan olahraga bertaraf internasional.
“LA 2028 memang menjadi target kami. Namun yang lebih penting adalah memastikan Indonesia memiliki sistem yang terus melahirkan atlet-atlet berprestasi. Karena pada akhirnya, itulah legacy yang sesungguhnya,” tutur Richard.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBTI yang juga Ketua Panitia Indonesia Open 2026, Rafael Siagian, mengatakan persiapan penyelenggaraan telah mencapai sekitar 98 persen dan kini memasuki tahap finalisasi.
“Dengan 478 atlet dari 36 negara, Indonesia Open tahun ini memiliki tingkat persaingan dan kompleksitas penyelenggaraan yang tinggi. Kami juga mengajak seluruh masyarakat untuk datang mendukung langsung atlet-atlet terbaik bangsa di Tennis Indoor Senayan secara gratis,” kata Rafael.
Indonesia Open 2026 akan mempertandingkan nomor poomsae pada 1–2 Agustus, sedangkan nomor kyorugiberlangsung pada 3–5 Agustus 2026. Adapun upacara pembukaan dijadwalkan digelar pada Minggu (2/8) pagi.