JawaPos.com — Kategori Moto3 dipastikan memasuki era baru mulai musim 2028 dengan menggunakan motor satu merek buatan Yamaha.
Perubahan besar yang diumumkan di sela MotoGP Belanda 2026 itu diyakini akan menekan biaya kompetisi sekaligus mengubah wajah kelas pembinaan menuju MotoGP, termasuk bagi pembalap Indonesia Veda Ega Pratama.
MotoGP mengumumkan Yamaha akan menjadi pemasok tunggal motor Moto3 mulai 2028 melalui kontrak awal berdurasi enam tahun.
Baca Juga: Hasil Q2 Moto3 Belanda 2026: Veda Ega Pratama Start P7, Modal Besar Raih Podium di Sirkuit Assen
Motor baru tersebut akan menggunakan mesin berbasis Yamaha R7 yang dikembangkan menjadi prototipe balap murni dengan tenaga sekitar 90 hp dan bobot 120 kilogram.
Mengapa Moto3 Berubah Menjadi Kelas Satu Merek?
Moto3 saat ini masih menggunakan motor prototipe yang diproduksi Honda dan KTM. Namun, biaya operasional satu motor untuk semusim mencapai sekitar USD 150.000 sehingga dinilai semakin membebani tim.
MotoGP melalui Chief Sporting Officer Carlos Ezpeleta menilai sistem satu pemasok merupakan solusi paling efektif untuk mengendalikan biaya sekaligus menjaga jalur pembinaan pembalap menuju kelas utama.
Baca Juga: Hasil Q1 Moto3 Belanda 2026: Bangkit dari Crash! Veda Ega Pratama Lolos Q2 Finis P3
“Jadi, dari keputusan kami, pengalaman telah membawa kami pada pemahaman cara terbaik untuk melakukannya adalah dalam lingkungan biaya yang terkontrol. Satu-satunya cara nyata untuk melakukan itu adalah dengan pemasok tunggal,” ujar Carlos Ezpeleta dikutip dari Crash.net, Sabtu (27/6/2026).
Menurutnya, keputusan tersebut diambil setelah menerima banyak masukan dari berbagai tim yang selama ini berlaga di Moto2 dan Moto3.
Ezpeleta menegaskan tujuan utama Moto2 dan Moto3 bukan sekadar menghadirkan balapan menarik, tetapi menjadi wadah terbaik untuk mengembangkan talenta sebelum naik ke MotoGP.
Pabrikan Tetap Bisa Membina Pembalap
Meski Yamaha menjadi pemasok tunggal motor, Ezpeleta memastikan Honda, KTM maupun pabrikan lain tetap dapat menjalankan program pembinaan pembalap muda.
"Kesepakatan ini tidak berarti merek-merek yang saat ini terlibat di Moto2 dan Moto3 tidak akan dapat melanjutkan program pengembangan pembalap muda mereka hingga ke jenjang yang lebih tinggi," katanya.
Baca Juga: Bos Honda Team Asia Blak-blakan! Kecelakaan Veda Ega Pratama di Moto3 Belanda 2026 Dibayar Mahal
Ia menambahkan keterlibatan pabrikan tidak harus diwujudkan melalui pembangunan motor balap.
Fokus utama adalah menjaga ekosistem pembinaan tetap sehat tanpa memicu perang teknologi yang justru membuat biaya terus meningkat.
"Pengalaman membuktikan bahwa ketika ada ketegangan kompetitif antar produsen, ukuran perusahaan tidak menjadi masalah, biaya akan terus meningkat," lanjut Ezpeleta.
Baca Juga: Hasil FP2 Moto3 Belanda 2026: Veda Ega Pratama Gacor P13, Ungguli Hakim Danish di Sikuit Assen
MotoGP pun optimistis masa transisi menuju 2028 dapat berjalan mulus karena Yamaha merupakan salah satu produsen motor terbesar dan paling berpengalaman di dunia balap.
Apakah Moto3 Kehilangan Status Kejuaraan Dunia?
Muncul anggapan Moto3 akan berubah menjadi sekadar ajang "cup" karena semua pembalap menggunakan motor yang sama. Namun, Ezpeleta menolak anggapan tersebut.
Ia mencontohkan Moto2 yang sejak 2010 menggunakan mesin seragam, mulai dari Honda hingga Triumph sejak 2019, tetapi tetap diakui sebagai Kejuaraan Dunia Grand Prix.
“Tidak ada yang menyebut Moto2 sebagai Piala,” tegasnya.
Menurut Ezpeleta, penggunaan motor seragam justru membuat kemampuan pembalap semakin terlihat karena faktor teknis menjadi lebih merata.
Dengan demikian, gelar juara dunia Moto3 tetap memiliki prestise yang sama meski nantinya seluruh peserta menggunakan motor Yamaha.
Kabar Baik untuk Veda Ega Pratama?
Perubahan regulasi ini menjadi kabar menarik bagi Veda Ega Pratama yang saat ini menjalani musim debut bersama Honda Team Asia di Kejuaraan Dunia Moto3 2026.
Jika tetap bertahan di Moto3 hingga 2028, pembalap asal Gunungkidul itu berpeluang merasakan langsung era baru kelas ringan Grand Prix dengan motor spesifikasi tunggal Yamaha.
Veda sendiri memiliki rekam jejak pembinaan yang sangat kuat. Kecintaannya terhadap balap motor dimulai sejak usia enam tahun berkat bimbingan sang ayah, Sudarmono, mantan pembalap nasional.
Latihan pertamanya dilakukan di area parkir Pasar Sapi Siyono Harjo, Gunungkidul, sebelum berkembang dari balap motocross menuju balap sirkuit.
Karier internasionalnya dimulai melalui Asia Talent Cup. Setelah tampil sebagai wildcard pada 2021, Veda menjalani musim penuh pada 2022 dengan meraih tiga kemenangan dan finis peringkat ketiga klasemen akhir.
Setahun kemudian, Veda sukses menjadi Juara Asia Talent Cup 2023 sehingga mendapat promosi ke Red Bull MotoGP Rookies Cup 2024.
Perkembangannya terus berlanjut pada musim 2025 ketika berhasil menjadi runner-up Red Bull MotoGP Rookies Cup sambil mengikuti FIM JuniorGP World Championship.
Prestasi tersebut akhirnya membuka jalan menuju Kejuaraan Dunia Moto3 2026 bersama Honda Team Asia.
Apabila mampu mempertahankan performa dan tetap berada di Moto3 hingga regulasi baru berlaku, Veda berpeluang menikmati persaingan yang lebih seimbang.
Dengan motor yang sama untuk seluruh pembalap, penentu hasil balapan akan semakin bergantung pada kemampuan pembalap, strategi tim, serta konsistensi sepanjang musim.