← Beranda
2024: Tantangan Menjaga Tradisi Olimpiade dan Mengakhiri "Kutukan" Sepak Bola
Taufiq ArdyansyahSabtu, 30 Desember 2023 | 18.27 WIB
19/3: Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto menjuarai All England 2023. Tapi, sehari kemudian ada kabar duka pemain muda Syabda Perkasa Belawa meninggal dunia akibat kecelakaan maut di tol Pemalang.

Setelah 28 April Baru Berani Bicara Medali

Beban merebut medali di Olimpiade tentu tanggung jawab semua cabang olahraga yang meloloskan atlet. Tapi, khusus emas, badminton yang paling diharapkan. Di sepak bola, Indonesia harus realistis di Piala Asia dan Piala Asia U-23. Tapi, untuk Piala AFF, sudah waktunya mengakhiri dahaga panjang.

RIZKY AHMAD FAUZI-TAUFIQ ARDIANSYAH, Jakarta

---

SEANDAINYA Olimpiade 2024 pekan depan, pengamat bulu tangkis Daryadi menilai hasil Indonesia tidak akan beda dengan yang diraih di World Tour Finals pekan lalu. Zonk alias gagal meraup gelar, bahkan tak satu pun personel Cipayung yang lolos ke final.

’’Pemain, pelatih, pengurus harus fokus kalau mau berprestasi. Saya melihat PBSI harus lebih solid lagi,” katanya kepada Jawa Pos.

Selain gelar yang direbut Fajar Alfian/Rian Ardianto di All England dan Malaysia Open Super 1000, tak ada wakil Indonesia lainnya yang berjaya di level teratas. Di Asian Games, bahkan tak satu pun medali direbut.

Dalam Race to Olympics yang berakhir 28 April nanti, hanya di tunggal putra Indonesia menempatkan dua wakil (Jonathan Christie/5 dan Anthony Ginting/6) di daftar lolos otomatis sampai dengan saat ini. Selebihnya satu saja: tunggal putri (Gregoria Mariska Tunjung/8), ganda putra (Fajar Alfian/Rian Adrianto/8), dan ganda putri (Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva/7). Di ganda campuran bahkan belum ada wakil Merah Putih di ’’zona aman”.

9/12: Petrokimia Gresik Pupuk Indonesia menjuarai Livoli Divisi Utama 2023 dengan mengalahkan TNI-AU di final, gelar kedua mereka setelah menunggu 18 tahun.
9/12: Petrokimia Gresik Pupuk Indonesia menjuarai Livoli Divisi Utama 2023 dengan mengalahkan TNI-AU di final, gelar kedua mereka setelah menunggu 18 tahun.

Beban merebut medali tentu tak hanya di pundak bulu tangkis. Sejauh ini Indonesia sudah meloloskan lima atlet ke ajang yang bakal dihelat di Paris itu: Arif Dwi Pangestu (panahan), Rifda Irfanalutfi (senam), dan Diananda Choirunisa, Desak Made Rita Kusuma Dewi, serta Rahmad Adi Mulyono dari panjat tebing.

Ada pula Rahmat Erwin Abdullah (81 kg) dan Eko Yuli Irawan (61 atau 67 kg) yang diharapkan lolos di angkat besi. Kepada mereka asa mempertahankan tradisi selalu merebut medali di Olimpiade sejak edisi 1988 disandarkan.

Tapi, khusus emas, memang badminton yang paling dijagokan. Maklum, sejak edisi 1992, hanya di 2012 Merah Putih gagal berkibar di arena badminton.

Basri Yusuf yang tergabung di tim Kelompok Kerja (Pokja) Satuan Tugas (Satgas) PBSI menuju Olimpiade 2024 bidang sports science menuturkan, dalam upaya menuju Olimpiade ada dua tahap. Jangka pendek dan jangka panjang.

19/6: Indonesia beruji coba dengan juara dunia Argentina. Indonesia kalah 0-2 oleh Argentina yang tampil tanpa Lionel Messi.
19/6: Indonesia beruji coba dengan juara dunia Argentina. Indonesia kalah 0-2 oleh Argentina yang tampil tanpa Lionel Messi.

Saat ini, pihaknya fokus untuk di jangka pendek: meloloskan sebanyak mungkin atlet ke Olimpiade. Terlebih, waktu yang ada sudah semakin singkat karena perhitungan poin bakal ditutup pada 28 April.

Di ganda campuran, target itu tak akan mudah dieksekusi. Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari dan Dejan Ferdinansyah/Gloria Emanuelle Widjaja saat ini baru menduduki peringkat ke-14 dan 16.

Karena masih dalam proses, pria yang juga menjabat ketua PBSI Pengprov Jawa Tengah itu belum bisa berbicara banyak mengenai upaya menjaga tradisi emas. ’’Target awalnya kalau bisa setiap sektor itu dua. Setelah 28 April ke atas baru berbicara medali,’’ ucapnya.

Anggota Dewan Pengawas PP PBSI Periode 2020–2024 Devo Khadafi menyatakan, ketidakmampuan tim meraih gelar di World Tour Finals bisa menjadi alarm. Ajang tersebut menjadi tolok ukur lantaran diikuti delapan pemain top elite di setiap sektor.

17/10: Pevoli Megawati Hangestri debut di Liga Korea Selatan (V-League) bersama Daejeon Red Sparks. Mega terpilih sebagai MVP laga melawan Hwaseong IBK Altos tersebut.
17/10: Pevoli Megawati Hangestri debut di Liga Korea Selatan (V-League) bersama Daejeon Red Sparks. Mega terpilih sebagai MVP laga melawan Hwaseong IBK Altos tersebut.

Menurutnya, PBSI tidak lagi bisa mengandalkan kepada keberuntungan seperti yang terjadi di ganda putri ketika Greysia Polii/Apriyani Rahayu meraih emas Olimpiade Tokyo 2020. Saat itu, ada beberapa kejadian yang memuluskan jalan duet Greysia/Apriyani menuju emas. Salah satunya pemain Jepang Sayaka Hirota yang mengalami cedera.

’’Makanya kami berharap betul-betul pokja yang dipimpin Pak Fadil Imran ini mampu memberikan gambaran kepada semua bahwa ini lho yang bakal dilakukan PBSI mulai bulan 1 (Januari) sampai persiapan ke Olimpiade-nya,’’ paparnya.

Menurut Daryadi, 7 bulan sebelum badminton dipertandingkan di Olimpiade pada 27 Juli–5 Agustus bukankah waktu yang panjang. Selain soliditas PBSI, kondisi atlet juga harus dijaga betul. ’’Jangan sampai ada yang cedera,’’ sebut pria yang kerap menjadi komentator di televisi tersebut.

16/5: Timnas U-23 Indonesia merebut emas SEA Games 2023 di Kamboja setelah menang 5-2 atas Thailand, emas ketiga setelah edisi 1987 dan 1991.
16/5: Timnas U-23 Indonesia merebut emas SEA Games 2023 di Kamboja setelah menang 5-2 atas Thailand, emas ketiga setelah edisi 1987 dan 1991.

Daryadi juga menilai pembentukan tim pokja sudah cukup baik, meski waktunya terbilang mepet. ’’Ketimbang tidak melakukan terobosan apa pun di situasi sulit. Kalau tidak melakukan apa-apa kan jadi lebih parah lagi,’’ tuturnya.

Kalau badminton sudah bicara di level dunia, tantangan olahraga terpopuler di tanah air, sepak bola, di 2024 baru di tingkat Asia ke bawah. Tapi, bukan berarti lebih ringan.

Di 2024 tim nasional (timnas) Indonesia akan terjun di Piala Asia 2023 Qatar, Piala Asia U-23 2024 Qatar, dan Piala AFF 2024. Akmal Marhali, pengamat sepak bola nasional, menilai, di antara tiga ajang itu, peluang Indonesia yang paling realistis ada pada Piala AFF 2024. Sebab, persaingan di Piala Asia senior maupun U-23 sangat berat.

’’Di Piala Asia senior, Indonesia satu grup dengan Iraq, Vietnam, dan Jepang. Iraq kita tahu baru saja menggebuk Indonesia 5-1 di kualifikasi Piala Dunia 2026,” katanya.

Sedangkan Vietnam, tambah anggota Tim Gabungan Pencari Fakta Tragedi Kanjuruhan itu, belum pernah bisa dikalahkan Shin Tae-yong (STY) selama menangani timnas, baik senior maupun kelompok umur. ’’Jepang kita tahu raksasa Asia yang juga mulai diperhitungkan di level dunia,” jelasnya.

Di Piala Asia U-23, Rizky Ridho dkk juga berada di grup berat bersama tuan rumah Qatar, Australia, dan Jordania. ’’Jadi, harus realistis bahwa peluang terbesar kita ada di AFF Cup 2024,’’ ucapnya.

Tapi, Piala AFF sendiri seperti masih menjadi ’’kutukan” bagi Indonesia. Enam kali lolos ke final, enam kali pula harus puas menjadi runner-up. ’’Kalau memang STY masih diberi kesempatan, mudah-mudahan dia bisa memaksimalkan ajang Piala AFF. Sebab, semua kemauan dia sudah dituruti federasi,” katanya.

Eko Setyawan, anggota Komite Eksekutif PSSI, menyatakan, PSSI sangat serius mempersiapkan diri menghadapi tiga ajang bergengsi tersebut. Keseriusan itu dibuktikan dengan menambah jumlah pemain naturalisasi. ’’Dengan demikian, skuad Garuda diharapkan bisa bersaing di level internasional,” ujarnya. (*/c17/ttg)

EDITOR: Ilham Safutra