JawaPos.com - Tiga tahun lalu, kondisi sebagian ruang belajar di salah satu SMK di Nganjuk, Jawa Timur, masih jauh dari gambaran sekolah berbasis digital.
Plafon rusak, dinding kusam, sementara fasilitas pendukung pembelajaran masih terbatas.
Kini kondisinya berubah.
Baca Juga: Bukan Sekadar Cari Untung, Bangun Bisnis dengan Misi Membuka Lapangan Kerja
Sejumlah ruang belajar telah dilengkapi komputer, tablet, televisi, pendingin ruangan, serta berbagai fasilitas untuk mendukung pembelajaran digital.
Di balik perubahan tersebut ada peran Hanief Iksa, pendiri KongVector, yang selama tiga tahun terakhir terlibat dalam pengembangan pendidikan digital melalui SMK Digital PSM dan SMK Digital Alqomar di Nganjuk.
Sebelum menetap di Nganjuk, Hanief tinggal di Surabaya.
Baca Juga: Candra & Ratih, Best Couple Runner Kompak Ramaikan Wellness Sunday di Sentul
Keputusan pindah dari Surabaya ke Nganjuk berawal dari keinginan untuk rehat sejenak dari hingar-bingar kehidupan kota.
Hanief kemudian mulai terlibat dalam pengembangan pendidikan digital di daerah.
Hanief mengalokasikan ratusan juta rupiah dari dana pribadi untuk pembangunan dan revitalisasi sekolah.
Keterlibatannya tidak berhenti pada perbaikan fasilitas.
Dia juga ikut memilih dan menopang kebutuhan gaji guru agar proses pendidikan dapat terus berjalan.
Program tersebut kini dilanjutkan dengan membuka 100 beasiswa penuh bagi siswa di SMK Digital Alqomar.
Baca Juga: Aktivis Muda NU Hendriyanto Attan Sandang Gelar Kanjeng Raden Haryo dari Keraton Surakarta
”Sejak awal yang ingin kami bangun bukan hanya gedung atau menyediakan perangkat digital. Yang lebih penting adalah bagaimana anak-anak di daerah mendapatkan akses pendidikan dan kesempatan yang sama untuk mengembangkan kemampuan mereka,” kata Hanief.
Dari Nganjuk, Karya Siswa Menembus Pasar Luar Negeri
Program pendidikan digital tersebut bukan gagasan yang baru akan dijalankan.
Setelah berjalan selama tiga tahun, sejumlah siswa mulai menunjukkan hasil dari keterampilan yang mereka pelajari.
Baca Juga: 15 Tahun Jadi Pengemudi, 70 Driver Ojol Berangkat Umrah Gratis
Pada program Fashion Digital, terdapat siswa yang berhasil menjual hasil karya kepada pembeli dari luar negeri.
Sementara itu, sejumlah siswa dari program Bisnis Digital mulai menerapkan keterampilan mereka dalam aktivitas nyata.
Ada yang berhasil melakukan penjualan properti, sementara siswa lainnya berkembang menjadi influencer di kotanya.
Baca Juga: Suara Kritis Menghilang, Tanda Awal Kerapuhan Kekuatan Besar
Bagi sebagian siswa, keterampilan tersebut bahkan mulai memberikan dampak ekonomi bagi keluarga.
Ada siswa yang telah memperoleh penghasilan dan mampu memberikan sebagian hasil kepada orang tua.
”Saya ingin mereka tidak hanya sekolah untuk mendapatkan nilai atau ijazah. Mereka harus punya kemampuan yang bisa dipakai di dunia nyata. Kalau dari kemampuan itu mereka bisa menghasilkan karya, mendapatkan penghasilan, bahkan membantu orang tua, bagi saya itu jauh lebih berarti,” ujar Hanief.
Capaian tersebut menunjukkan bagaimana teknologi dapat membuka peluang bagi siswa tanpa sepenuhnya dibatasi tempat tinggal.
Baca Juga: Lulus Program Magister Psikologi, Aryo Berbagi Pengalaman Sebagai Mentor
Mereka tetap belajar dari Nganjuk, tetapi karya yang dihasilkan dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
Bukan Sekadar Renovasi Sekolah
Perubahan fisik sekolah menjadi bagian yang paling mudah terlihat.
Dokumentasi sebelum dan sesudah revitalisasi menunjukkan sejumlah ruangan yang sebelumnya mengalami kerusakan telah diperbaiki menjadi ruang pembelajaran yang lebih layak.
Baca Juga: Berdaya Bersama: Misi Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Namun, menurut Hanief, penyediaan fasilitas hanya menjadi satu bagian dalam pengembangan pendidikan digital.
Sekolah tetap membutuhkan guru, kurikulum, pendampingan, serta kesempatan bagi siswa untuk menerapkan keterampilan yang mereka pelajari.
Karena itu, keterlibatan Hanief juga diarahkan pada dukungan terhadap tenaga pengajar dan pengembangan model pembelajaran yang lebih dekat dengan perkembangan dunia digital dan dunia kerja.
Baca Juga: Zee Asadel Ungkap Cara Sederhana Menjaga Mood di Tengah Aktivitas yang Superpadat
”Komputer, tablet, atau ruang kelas yang bagus hanyalah alat. Kalau tidak ada guru yang mendampingi dan sistem pembelajaran yang membuat anak-anak berkembang, fasilitas itu tidak akan banyak berarti,” kata Hanief.
Memperluas Akses Pendidikan Digital
Pengembangan SMK Digital PSM dan SMK Digital Alqomar juga membawa gagasan mengenai pemerataan akses pendidikan digital bagi anak-anak di daerah.
Perkembangan teknologi membuka berbagai peluang baru.
Namun, kesempatan memperoleh pendidikan digital masih dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari ketersediaan fasilitas hingga kemampuan ekonomi keluarga.
Baca Juga: Piala Dunia 2026 Jadi Ajang Silaturahmi, Kalangan Pesantren Jagokan Argentina Juara
Menurut Hanief, kondisi tersebut tidak seharusnya membuat anak-anak di daerah tertinggal dalam mendapatkan kesempatan mengembangkan keterampilan.
”Saya percaya anak-anak di daerah punya potensi yang sama. Persoalannya sering kali bukan mereka mampu atau tidak, tetapi apakah mereka mendapatkan akses dan kesempatan,” ujar Hanief.
Pembukaan 100 beasiswa penuh di SMK Digital Alqomar menjadi langkah terbaru dalam pengembangan program tersebut.
Beasiswa itu diharapkan dapat memperluas kesempatan siswa mengakses pendidikan tanpa menjadikan keterbatasan biaya sebagai penghalang utama.
Hanief menyadari proses pendidikan tidak dibangun oleh satu orang.
Ada guru yang mendampingi siswa, pengelola sekolah yang menjalankan proses pendidikan, keluarga yang memberikan dukungan, serta siswa yang harus mengembangkan kemampuan mereka sendiri.
”Harapan saya, anak-anak ini nantinya punya kemampuan untuk menentukan masa depannya sendiri. Mereka boleh berasal dari Nganjuk atau daerah mana pun, tetapi kesempatan mereka seharusnya tidak berhenti karena tempat mereka lahir,” kata Hanief.