JawaPos.com – Persebaya Surabaya sedang dalam tren positif. Mereka baru saja menang 1-0 atas Isenmulang Kalteng FC (9/10).
Sang pelatih, Bernardo Tavares, ingin menjaga tren positif itu. Masalahnya, Green Force akan menghadapi PSS Sleman (18/10). Super Elang Jawa (Super Elja) sedang dalam kondisi yang tak kalah bagus.
Pada laga terakhir, Riko Simanjuntak dkk menang tiga gol tanpa balas atas PSM Makassar (11/10).
“Saya tahu motivasi mereka sangat tinggi. Jadi, kami harus waspada. Apalagi, mereka tidak banyak mengubah komposisi pemainnya,” kata Tavares dalam sesi latihan di Lapangan C Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, kemarin (14/10) sore.
Menurut Tavares, PSS punya satu senjata berbahaya, yakni bola mati.
“Karena mereka punya banyak pemain dengan tinggi di atas rata-rata. Bahkan, striker utama mereka punya tinggi lebih dari dua meter,” kata pelatih asal Portugal itu.
Striker yang dimaksud adalah Matheus Fornazari. Bomber asal Brasil itu memang memiliki tinggi 203 sentimeter. Wajar jika Tavares cukup khawatir. Sebab, Matheus sudah mencetak dua gol dalam empat laga yang telah dilakoni.
“Kami harus hindari umpan silang, tendangan sudut, atau lemparan ke dalam yang dekat dengan gawang,” beber Tavares.
Selain melalui situasi bola mati, Super Elang Jawa juga dianggap cukup berbahaya dalam situasi permainan terbuka. Sebab, mereka dinilai memiliki pemain yang cukup berkualitas.
Baca Juga: Prediksi Susunan Pemain AC Milan vs RB Salzburg: Ruben Amorim di Bawah Tekanan
“PSS Sleman memiliki Gustavo Tocantins yang sudah berpengalaman. Lalu, ada Melvyn Lorenzen yang menurut saya juga cukup berbahaya. Selain itu, ada Hiromu Tanaka yang dalam laga melawan PSM mampu mencetak dua gol,” terang pelatih berusia 46 tahun itu.
Bahkan, Tanaka sesumbar ingin mencetak trigol ke gawang Green Force. Karena itu, Tavares meminta anak asuhnya untuk berhati-hati.
“Mereka juga punya kecepatan yang bagus. Jadi, antisipasi untuk hal-hal itulah yang sedang kami latih,” pungkas mantan pelatih PSM Makassar itu.