JawaPos.com - Maarten Paes membidik trofi FIFA ASEAN Cup 2026 bersama Timnas Indonesia sebagai bentuk balasan atas dukungan suporter Garuda sekaligus modal menuju Piala Asia.
Kiper berusia 28 tahun itu ingin Indonesia menjadi juara di hadapan publik sendiri setelah melalui perjalanan emosional sejak debut melawan Arab Saudi pada 2024.
Paes Ingin Balas Dukungan Suporter Indonesia
Target Maarten Paes di FIFA ASEAN Cup 2026 sangat jelas: membawa Timnas Indonesia menjadi juara di hadapan suporter sendiri.
Baca Juga: Pernah Main di Liga Inggris! Soonsup-Bell Siap Antarkan Thailand Juara FIFA ASEAN Cup 2026
Penjaga gawang kelahiran Belanda itu menilai trofi akan menjadi bentuk balasan atas dukungan luar biasa yang diterimanya bersama Garuda dalam beberapa tahun terakhir.
“Bagi saya, tujuannya adalah memenangkan trofi. Saya ingin sekali meraih gelar di hadapan suporter sendiri, untuk membalas seluruh dukungan mereka selama beberapa tahun terakhir,” ungkap Maarten Paes dikutip dari laman resmi FIFA.
Ambisi tersebut tidak datang begitu saja karena Paes memiliki pengalaman emosional sejak menjalani debut bersama Indonesia pada 2024.
Baca Juga: Juninho Cabral Cerita Sulitnya Persela saat Lawan Persiba Balikpapan
Saat menghadapi Arab Saudi dalam Kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026 di Jeddah, dia mengaku merinding ketika pertama kali mengenakan lambang Garuda dan mendengar lagu kebangsaan.
“Momen pertama yang membuat saya merinding adalah lagu kebangsaan,” kenang dia.
Setelah itu, Paes juga terkesan melihat banyaknya suporter Indonesia di stadion, bahkan menurut pengamatannya jumlah pendukung Garuda melampaui suporter tuan rumah.
Debut Bersama Garuda Jadi Pekan Impian
Debut Maarten Paes bersama Timnas Indonesia semakin berkesan karena dia langsung menjadi bagian dari pertandingan penuh drama di Jeddah.
Indonesia sempat unggul melalui gol Sandy Walsh sebelum Arab Saudi menyamakan kedudukan lewat bola yang berubah arah setelah membentur pemain lain.
Paes kemudian tampil penting dengan menggagalkan tendangan penalti pada babak kedua sehingga Indonesia membawa pulang satu poin dari Jeddah.
Baca Juga: Jeda FIFA Matchday, Madura United Liburkan Tim 9 Hari: Senin Depan Mulai Latihan Lagi
Keesokan harinya, sang kiper terbang ke Jakarta dan kembali merasakan antusiasme suporter sebelum tampil sebagai Man of the Match ketika Indonesia bermain imbang 0-0 melawan Australia.
“Itu adalah pekan impian saya,” ujar Paes.
Pengalaman tersebut juga memiliki sisi personal karena beberapa bulan sebelumnya dia kehilangan nenek yang memperkenalkannya kepada budaya Indonesia, termasuk lagu Tanah Airku.
Baca Juga: Bukti Sah Magis Jose Gomes! Arsitek Madura United Diganjar Penghargaan Coach of the Week
“Setiap kali mendengar lagu itu, saya teringat kenangan bersama nenek saya,” tutur dia.
Kenangan tersebut membuat hubungan Paes dengan Indonesia tidak sekadar berkaitan dengan pertandingan, melainkan juga dengan pengalaman keluarga dan rasa keterikatan terhadap negeri yang kini dia bela.
Performa Paes Jadi Modal Menatap ASEAN Cup
Secara statistik, Maarten Paes datang dengan modal penampilan yang cukup solid bersama Ajax berdasar data Transfermarkt.
Baca Juga: Vico Duarte Gabung Persis Solo, Siap Bantu Laskar Sambernyawa Kejar Tiket Promosi Super league
Kiper berusia 28 tahun tersebut mencatat 18 pertandingan, kebobolan 18 gol, enam clean sheet, serta mengumpulkan 1.650 menit bermain.
Catatan itu berjalan seiring dengan perubahan prioritas Paes yang kini lebih menempatkan kepentingan tim di atas pencapaian pribadi.
Dia menyebut pengalaman dalam karier membuat dirinya berkembang dan semakin dewasa sehingga ambisinya bergeser untuk membantu membangun tim pemenang.
“Ego saya tidak lagi terlalu penting. Saya hanya ingin memberikan kontribusi sebesar mungkin bagi tim. Tujuan utama saya adalah membangun tim pemenang, baik bersama tim nasional maupun klub,” kata dia.
Baca Juga: Prediksi Skor Timnas Jepang U-23 vs Thailand U-23 di Asian Games 2026
Prinsip tersebut juga terlihat ketika dia membicarakan persaingan dengan Emil Audero di Timnas Indonesia.
Bagi Paes, persaingan dengan penjaga gawang lain justru menjadi dorongan untuk terus berkembang.
“Semakin baik persaingan yang Anda hadapi, semakin besar dorongan untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri,” ujar Paes.
Baca Juga: Dua Kekalahan Beruntun dan Minus 4 Poin, Persiba Balikpapan Dituntut Segera Bangkit
Trofi ASEAN Cup untuk Bekal Piala Asia
FIFA ASEAN Cup 2026 menjadi kesempatan bagi Paes dan Timnas Indonesia untuk membangun momentum sebelum menghadapi Piala Asia di Arab Saudi pada Januari mendatang.
Indonesia menjadi tuan rumah Divisi 1 dan berada di fase grup bersama Malaysia, Singapura, serta Bangladesh.
Paes menilai turnamen tersebut juga dapat meningkatkan level sepak bola Asia Tenggara karena negara peserta bisa memanggil pemain yang berkarier di Eropa, Amerika, dan berbagai belahan dunia.
Baca Juga: Kebobolan 7 Gol dalam 2 Laga, Persiku Kudus Punya PR Besar di Lini Belakang
“Ini perkembangan yang baik, bukan hanya untuk Indonesia, tetapi juga seluruh negara yang berpartisipasi. Hal ini akan meningkatkan level sepak bola Asia Tenggara,” jelas dia.
Target juara pun berjalan beriringan dengan keinginan Paes membangun kepercayaan diri tim menuju Piala Asia.
“Tujuan pertama adalah memenangkan trofi di sini dan membangun perasaan yang sangat baik menuju Piala Asia,” ucap dia.
Paes juga menegaskan persaingan di posisi penjaga gawang tidak boleh mengalahkan kepentingan Garuda.
Baca Juga: Cetak Gol Ke Gawang Persiku Kudus, Penyerang PSMS Javier Siverio Terpilih Sebagai Man Of The Match
“Semakin bertambah usia, semakin penting bagi saya bahwa Garuda menang, bukan saya atau Emil,” tegas dia.
Prinsip itu dirangkum Paes melalui satu pesan yang menjadi fondasi ambisinya bersama Timnas Indonesia.
“Di Indonesia, kita mengatakan bahwa kita harus mengorbankan ego demi Garuda. Dan itulah yang kami lakukan,” tutur Paes.
Baca Juga: FIFA Matchday Jadi Momen Madura United Beri Waktu Istirahat, Latihan Mandiri Tetap Jalan
Kini, Paes menunggu kesempatan kembali merasakan atmosfer stadion penuh suporter Indonesia dalam FIFA ASEAN Cup 2026.
“Perasaan terhubung dengan tim dan suporter adalah hal terindah dalam sepak bola,” tutup sang penjaga gawang.