JawaPos.com — Tidak ada unsur Surabaya dalam nama de Red FC. Namun, bukan berarti tim Championship itu tidak melebur dengan Kota Pahlawan.
Sebagai tim yang berkandang di Stadion Gelora 10 November, spirit Suroboyo yang cukup kental. Hal itu ditegaskan langsung oleh CEO de Red FC, Daniel Rohi, dalam sesi launching tim dan jersey di studio broadcast ruang redaksi Jawa Pos, lantai 4 Gedung Graha Pena, Surabaya, kemarin (10/9).
"Surabaya ini kota yang punya karakter kuat, berani, terbuka, dan sportif. Karakter itulah yang ingin kami bawa ke de Red FC. Kami ingin membangun sepak bola kolektif yang baik," katanya.
de Red FC merekrut beberapa pemain asli Surabaya. Sebut saja Dimas Galih, Adam Maulana, M. Supriadi, hingga M. Irvan Febrianto. Mereka bahkan pernah memperkuat Persebaya Surabaya.
Lalu, ada Atha Jabrani yang merupakan jebolan tim Elite Pro Academy (EPA) Green Force.
Adam mengaku tertantang membawa tim barunya berprestasi. "Saya senang karena akhirnya bisa membela tim yang ada di Surabaya. Apalagi, saya asli Surabaya. Target saya, tentu ingin membawa de Red FC promosi ke kasta teratas musim depan," kata pemain asli Sukolilo, Surabaya, itu kepada Jawa Pos.
Dimas Galih juga demikian. Kiper asli Surabaya itu senang bisa merumput di tanah kelahiran.
"Apalagi, fasilitas yang kami terima cukup luar biasa. Ada mes, chef khusus pemain, hingga bus tim. Kami siap memberikan yang terbaik di lapangan," terang kiper 33 tahun itu.
Pelatih de Red FC, Aji Santoso, menegaskan tim akan berjuang ekstra keras untuk meraih hasil terbaik.
"Apalagi, saya orang yang suka tantangan. Kalau hidup tanpa tantangan, adrenalinnya jadi kurang enak. Tapi, saya tahu ini bukanlah tugas mudah," ucap mantan pemain dan pelatih Persebaya itu.
Berharap Jadi Alternatif Hiburan di Surabaya
Dengan hadirnya de Red FC, kini di Surabaya ada dua klub sepak bola profesional. Sebelumnya sudah ada klub asli Kota Pahlawan, Persebaya Surabaya, yang berkompetisi di kasta tertinggi.
Bagi sang pelatih, Aji Santoso, itu bukanlah sesuatu yang baru. Sebab, di masa lalu, Surabaya pernah memiliki beberapa tim profesional.
"Dulu, ada NIAC Mitra dan Assyabaab Surabaya yang juga bermain di Surabaya. Jadi, semoga de Red bisa jadi alternatif hiburan sepak bola di Surabaya," tutur Aji.
Menurutnya, semua tim bisa berjalan berdampingan. Dia pun berharap de Red FC bisa menjadi salah satu klub yang melahirkan pemain bintang asli Surabaya.
"Mudah-mudahan de Red FC bisa menjadi wadah bagi pemain muda Surabaya untuk berprestasi. Sebab, tidak menutup kemungkinan banyak pemain berkualitas di Surabaya yang belum punya wadah untuk tampil," tutup pelatih 56 tahun itu. (gus/rid/ali)